Rawa Jombor Pusat Peringatan Hari Air Jateng

hari-air

Komunitas Go To Tumbler Diluncurkan

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten akan dijadikan sebagai lokasi Peringatan Hari Air Sedunia tingkat Provinsi Jawa Tengah, Selasa 26 Maret 2019. Di sana nanti bakal juga dilaksanakan peluncurkan ”Komunitas Go To Tumbler”. Gerakan ini adalah penggunaan botol minum yang bisa dicuci untuk menekan penggunaan botol minum sekali pakai dan mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan karena sulit diurai.
Adapun pejabat yang bakal hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri PUPR, Gubernur Jateng, komunitas sungai se-Jateng, relawan peduli sungai, Sekolah Sungai, Srikandi Sungai serta tamu undangan lainnya.
Sekretaris Panitia, Pramana Agus Wijanarka menjelaskan, Hari Air Sedunia sebenarnya jatuh pada 22 Maret 2019, namun peringatan tingat Provinsi Jateng baru dilakukan 26 Maret 2019 menyesuaikan jadwal Gubernur dan Bupati Klaten.

Baca : Pesona Air Terjun Surgawi

Baca :FK-IUMKM Gandeng 103 Pelaku Usaha di Solo


“Untuk persiapannya, telah dilakukan koordinasi antara panitia provinsi, komunitas peduli sungai dan semua OPD terkait di Klaten. Semua unsur sudah disiapkan, mulai dari seksi acara, perlengkapan dan semua hal pendukung. Rencananya, pada 18 Maret akan dilakukan pembersihan di lokasi acara selama sepekan. Selanjutnya, 25 Maret akan dilakukan gladi bersih agar pelaksanaan pada 26 Maret bisa berjalan lancar,” terang Pramana.
Dikatakan, Komunitas Go To Tumbler Gerakan ini merupakan upaya mengurangi sampah plastik. “Nanti Pak Gubernur akan menyerahkan 1.000 tumbler saat peluncuran di Rawa Jombor.”

Ancaman besar

Pada bagian lain, Prof Suratman dari UGM Yogyakarta menambahkan, saat ini, dunia menghadapi ancaman besar yang dipicu tiga hal yakni air, energi dan pangan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Krisis dipicu adanya kelebihan atau kekurangan air, hal itu akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Untuk itu, penting adanya edukasi dalam pemanfaatan air secara bijaksana.
“Semangat kami adalah adanya gerakan politik, kesadaran bersama, budaya bersama agar air menjadi aset antar generasi. Jangan sampai kita meninggalkan savana, yang dulu air banyak, pohon banyak, tapi menjadi kering. Hal itu mengancam produksi pangan. Untuk itu, kami mengajak semua agar menjaga kualitas, kuantitas dan cadangan air, juga hemat dalam memanfaatkan air,” tegas Prof Suratman.(MS)

Simak : Berpetualang Jelajahi Tanah Nenek Moyang

 

Tinggalkan Pesan