HAM-I Kecam Persekusi Terhadap Wartawan

militan-212

*Kasus Malam Munajat 212

SOLO – Himpunan Aktivis Milineal Indonesia (HAM-I) Surakarta mengecam dan menuntut kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan untuk kembali ditindaklanjuti. Kasus persekusi dan intimidasi terhadap wartawan seakan menguap tanpa kabar, padahal kasus kekerasan tersebut telah dilaporkan ke pihak berwajib, namun terkesan tak ada proses
penindakan.
Sektretaris HAM-I, Muchlas Samorano pasca dua dekade era reformasi
bergilir, kekerasan terhadap insan pers sendiri dilakukan oleh
oknum-oknum yang mengatasnamakan islam militan.
“Seperti kelompok 212 dan FPI, mereka berperan antagonik. Hadirnya
wartawan untuk bekerja melaporkan kegiatan yang mereka lakukan kerap
mendapat tindakan kekerasan lantaran beberapa hal yang dilakukan dianggap mengganggu dan berpotensi mejelekkan kegiatan yang mereka lakukan,” kata Muchlas saat konferensi pers di Rumah Makan Dapur Ndeso Nogiri, Mbak Yun, Banjarsari, Solo, Sabtu (16/3).
Dirinya mencontohkan beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh
kelompok yang mengatasnamakan agama ini adalah kasus pemukulan wartawan Tirto.id disaat meliput rencana aksi 212, kemudian intimidasi terhadap wartawan Metro TV dihalaman masjid Istiqal Jakarta. Kemudian
Pemred Tempo, Arif Zulkifli juga mendapat perlakuan yang sama.
Kejadian yang terakhir, tambah Muchlas. adalah yang menimpa wartawan
Detik yang meliput malam Munajat 212.
“Wartawan tersebut mendapat tindakan kekerasan dan penganiayaan dari
peserta malam munajat. Rentetan tindakan kekerasan tersebut
mencerminkan pelaku tidak menghargai dan menghormati profesi jurnalis. Padahal setiap jurnalis yang sedang menjalankan tugas dilindungi oleh Undang-Undang, jika seorang oknum melakukan pengahalangan mereka dapat diancam pidana. Apalagi hingga melakukan penganiayaan,” ujarnya.
Tidak sekadar melakukan kajian terhadap kekerasan ini, Muchlas
menambahkan dalam waktu dekat pihaknya juga akan mengadakan audiensi ke Mabes Polri untuk kembali mengusut laporan tersebut sehingga bisa sampai ke tahap pengadilan.
“Karena jika tidak segera ditindaklanjuti, bakal terjadi pembiaran, dan tak menimbulkan efek jera kepada pelaku persekusi. Selain itu, kami (HAM-I ditingkat daerah) bakal bergerak dengan berkoodinasi terhadap kelompok-kelompok islam untuk menghormati kebebasan pers.
Sehingga kedepannya tidak ada lagi kawan-kawan wartawan yang mendapat kekerasan dalam menjalankan tugas mereka,” jelas Muchlas. (ihm)

 

Tinggalkan Pesan