2019, Ada 512 Gugatan Perceraian

perceraian-medsos

*Medsos Picu Tingginya Angka Perceraian

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Sejak Januari hingga 18 Maret 2019, sudah ada 512 gugatan perceraian yang diajukan Pengadilan Agama (PA) Klaten Kelas IB. Sebagian besar gugatan diajukan pihak istri. Perceraian sering dipicu perselisihan terus menerus, meninggalkan salah satu pihak dan perempuan yang meninggalkan suaminya (nuzuz).
‘’Di tahun 2019, sudah masuk 512 gugatan perceraian. Sebagian besar gugatan perceraian diajukan pihak perempuan,’’ kata Kepala Pengadilan Agama Klaten, Agus Yunih didampingi Sekretaris PA, Wardoyo kepada wartawan di kantornya, Rabu (20/3).
Tahun 2018 lalu, perkara yang masuk di PA Klaten mencapai 2180 perkara. Dari jumlah itu, 1994 di antaranya berupa gugatan dan 186 perkara berupa permohonan. Dari 1994 gugatan, 1377 perkara merupakan cerai gugat (CG) yang diajukan pihak isteri dan 557 cerai talak (CT) yang diajukan pihak suami.
‘’Dari 1994 perkara di tahun 2018, 854 kasus cerai disebabkan perselisihan terus menerus, 535 kasus cerai dipicu meninggalkan salah satu pihak dan 321 perkara karena nuzus atau isteri meninggalkan suami. Selain itu, 284 perceraian disebabkan masalah ekonomi,’’ ujar dia.

Baca : Pemuda Muhammadiyah Klaten Kecam Teror Christchurch

Perkara berdasarkan permohonan yang ditangani PA Klaten terdiri atas itsbat nikah, perwalian anak, dispensasi nikah bagi anak di bawah umur, sengketa ekonomi syariah, dan penetapan wali adol atau permohonan penetapan wali nikah karena orang tuanya tidak mau menikahkan anaknya.
‘’Akhir-akhir ini, kasus gugatan perceraian banyak diajukan warga Klaten di daerah perbatasan dengan Boyolali. Penyebabnya antara lain, banyak istri yang bekerja di perusahaan di Boyolali sehingga mereka lebih mampu secara ekonomi sehingga menggugat cerai suaminya,’’ ujar dia.
Dalam setiap pengajuan kasus cerai, cerai gugat atau cerai talak, PA akan melakukan mediasi pda kedua belah pihak agar bisa membatalkan rencana perceraian. Dalam beberapa kasus, upaya tersebut bisa membuat pasangan yang mengajukan cerai bisa rukun kembali. Uniknya, sebagian kasus cerai di Klaten dipicu keberadaan media sosial (medsos). Hal itu ditunjukkan dengan pengajuan barang bukti perceraian berupa screenshot percakapan di medsos.

Baca : Rawa Jombor Pusat Peringatan Hari Air Jateng

‘’Banyak gugatan cerai yang melampirkan bukti percakapan di medsos, seperti screenshot percakapan WhatsApp. Sejak 1 Januari sampai 19 Maret 2019, sudah ada 512 perkara perceraian, baik yang sudah diputuskan maupun masih proses pengadilan,’’ kata Panitera PA Klaten, Aziz Nur Eva.

Dia menambahkan, dalam sebula rata-rata ada 200 pengajuan cerai di PA Klaten. Bila dulu penyebab perceraian lebih banyak karena masalah ekonomi, sekarang ini banyak disebabkan perselingkuhan.

‘’Meski tinggi, angka perceraian di Klaten cenderung menurun, dalam dua tahun terakhir. Tahun 2017 lalu, ada sekitar 2600 perkara cerai yang diputuskan PA Klaten,,’’ ujar dia.(Merawati Sunantri)

Baca : Bupati Canangkan Klaten Selatan sebagai Kecamatan Layak Anak

 

Tinggalkan Pesan