Tenun Kain Goyor Jadi Ikon Baru Sragen

gerbang

SRAGEN,suaramerdekasolo.com- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen telah merintis usaha menjadikan Bumi Sukowati sebagai penghasil kain goyor terbesar di Indonesia. Salah satunya mengadakan pelatihan bagi 50 perempuan warga Desa Sambirejo dan Dari Kecamatan Plupuh, yang dilatih membuat kain goyor selama 30 hari. Pelatihan pembuatan kain goyor bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dibuka Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Kemenperin Mujiyono, pada Rabu (20/3). Pelatihan terdiri atas 90 persen praktek dan 10 persen teori.
Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, sebenarnya Kabupaten Sragen memiliki potensi sebagai penghasil kain goyor terbesar di Indonesia. Pasalnya, selama ini di Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe telah memproduksi kain goyor, yang pemasarannya tidak hanya ke luar kota namun sampai ke luar negeri, seperti di Timur Tengah dan Afrika. “Tetapi kain goyor dari Sambirembe itu merupakan pesanan dari pengusaha di Solo. Sehingga meski produksi dari Sragen, tapi orang mengenalnya sebagai buatan Solo,” kata Yuni, panggilan akrabnya.

Baca : Kemenperin Bidik Santri Jadi Wirausaha Tangguh

Kenyataan ini membuat dirinya kesulitan mencari kain goyor buatan Sragen yang belum dicap buatan Solo, manakala hendak memberikan souvenir khas Sragen kepada para tamu Pemkab Sragen. Pelatihan tersebut sebagai salah satu upaya Pemkab Sragen membuat ikon baru, yakni tenun goyor. “Pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan pengusaha tenun goyor dan menggenjot produksi agar bisa semakin dikenal,” kata Yuni. Apalagi setiap Selasa dia sudah mengeluarkan surat edaran agar Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sragen, khususnya eselon 2 dan 3, memakai kain goyor. Namun hal ini juga terkendala dengan masih minimnya produksi kain goyor, karena para pengusaha belum bisa memenuhinya.

Pasar terbuka 

Yuni menandaskan, pasar kain goyor memang masih sangat terbuka. Selain dari Timur Tengah, pesanan juga banyak dari negara-negara di Afrika. “Pasar di Afrika sanggup menyerap berapa pun produksi kain goyor dari Sragen, hal ini merupakan peluang pasar yang terbuka,” katanya. Bupati Yuni juga meminta agar para peserta pelatihan bersemangat dan tidak putus asa. Pasalnya, akan banyak peluang dan manfaat yang bisa diperoleh. Terlebih biaya pelatihan untuk satu orang peserta juga cukup mahal. “Ini juga bukti dan komitmen kami dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi warga Sragen,” tegasnya.

Baca : Menangguk Rejeki dari Rica-rica Bekicot

gerbang2
“Pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan pengusaha tenun goyor, juga upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdyaan ekonomi masyarakat serta menggenjot produksi agar bisa semakin dikenal,” kata Yuni. Apalagi setiap Selasa sebenarnya dia sudah mengeluarkan surat edaran agar setiap ASN memakai kain goyor. Namun hal ini juga terkendala dengan masih minimnya produksi kain goyor, karena para pengusaha tidak bisa memenuhinya. Yuni menandaskan, pasar kain goyor memang masih sangat terbuka. Selain dari Timur Tengah, pesanan juga banyak dari negara-negara di Afrika. “Pasar di Afrika sanggup menyerap berapa pun produksi kain goyor dari Sragen, hal ini merupakan peluang pasar yang terbuka,” katanya.
Dia juga meminta agar para peserta pelatihan bersemangat , tekun dan tidak putus asa. Pasalnya, akan banyak peluang dan manfaat yang bisa diperoleh. Terlebih biaya pelatihan untuk satu orang peserta juga cukup mahal, yakni sekitar Rp 5 juta-Rp 6 juta. Setelah pelatihan 50 orang ini, Kemenperin juga siap untuk memberikan pelatihan 500 orang lagi.

Baca : Puskesmas dan Perdes Doyong Lagusung Gelar Rakor-Sosialisasi

Hal ini juga jelas membutuhkan kesiapan dari warga masyarakat, khususnya yang ada di Kecamatan Plupuh. “Ke depan, harapannya Kecamatan Plupuh bisa menjadi tempat untuk studi banding pembuatan kain goyor, karena seluruh warganya diberdayakan untuk pembuatan tenun goyor,” tegas Bupati.
Sementara Mujiyono dari Kemenperin mengatakan, peralatan untuk pelatihan itu semuanya baru dan merupakan peralatan yang terbaik, sehingga diharapkan para peserta bisa semangat dalam pelatihan. Hal ini agar mereka bisa membuat kain goyor dengan baik, yang nantinya akan menjadi sumber mata pencaharian mereka. “Ke depan, wilayah Plupuh ini bisa menjadi sentra kain goyor dan Sragen bisa menjadi penghasil kain goyor terbesar di Indonesia. Apalagi ibu Bupati Sragen sangat bersemangat untuk mewujudkannya,” tandasnya. Bila pada pelatihan ini hanya 50 orang peserta, pihaknya siap untuk melakukan pelatihan 500 orang. Hal ini untuk menjadikan Sragen sebagai sentra kain goyor dan upaya meningkatkan perekenomian serta taraf hidup masyarakat Sragen. (Basuni H)

Baca : Setelah Dinanti-nantikan, Kantor Kecamatan Sambungmacan Diresmikan

 

Tinggalkan Pesan