Pernikahan Dini Meningkat, Ganggu Target KLA

kla-sragen

SRAGEN,suaramerdekasolo.com- Pernikahan dini yang semakin meningkat, menjadi salah satu kendala dari upaya Kabupaten Sragen meningkatkan status dari Kabupaten Layak Anak (KLA) dari tingkat Pratama menjadi KLA Madya. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Sragen, peningkatan pernikahan usia dini pada 2018 lalu mencapai sekitar 30%. Bila selama 2017 terdapat 72 kasus pernikahan dini, sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 95 kasus. Sementara hingga akhir Maret 2019, angka itu sudah mencapai 12 kasus.

Mereka yaang melakukan pernikahan usia dini mayoritas disebabkan karena hamil sebelum nikah. Ketua PA Sragen Suhardi tidak menepis pernikahan dini di Sragen memang mengalami peningkatan. Pihaknya mengaku kesulitan melakukan pencegahan lantaran tugasnya hanya menerima pengajuan disposisi pernikahan untuk usia pranikah.

”Mereka menikah ke KUA, tapi karena belum cukup umur harus ada disposisi dari kantor. Kami tidak punya kewenangan untuk membatasi, sebab perkara yang masuk menjadi kewajiban kami untuk mengadili bahwa itu diizinkan atau tidak, tergantung persidangan,” kata Suhardi.

Baca : Tenun Kain Goyor Jadi Ikon Baru Sragen

Baca :Setelah Dinanti-nantikan, Kantor Kecamatan Sambungmacan Diresmikan

Dia menjelaskan, selama ini kasus pernikahan dini biasanya di usia-usia anak sekolah tingkat SMP. Lantaran untuk perempuan batas usia pada umur dibawah 16 tahun. Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati sendiri mengaku prihatin dengan peningkatan kasus pernikahan usia dini. Menurutnya, ada degradasi moral remaja yang perlu mendapat perhatian semua pihak dan itu menjadi tugas dari berbagai pihak. ”Hal ini perlu kajian dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Dinas terkait dan PKK perlu bekerja lebih keras lagi menekan angka pernikahan dini di Sragen,” kata Yuni, panggilan akrabnya.

Yuni juga meminta khususnya kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) berperan aktif dalam peningkatan KLA. Minimal 11 kecamatan siap menjadi kecamatan layak anak, ditambah 25% dari 900 sekolah menjadi sekolah ramah anak.

Baca : Kemenperin Bidik Santri Jadi Wirausaha Tangguh

Yuni menegaskan bila Kabupaten Sragen memang mentargetkan bisa meningkatkan status KLA dari Pratama menjadi Madya. Menurut Yuni, pencapaian KLA Madya bukan sebatas menjadi kebanggaan tersendiri dalam mengelola Kabupaten Sragen. Namun hal ini juga berdampak pada tambahan Dana Insentif Daerah yang diperoleh.

”Dana pusat, baik insentif maupun tranfer harus disertai dengan prestasi daerah, termasuk dalam hal KLA ini. Jadi kita harap dana lebih,” tandasnya. Apalagi saat ini penilaian KLA dilakukan setiap tahun oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA). Pemkab Sragen sendiri sebelumnya  pada 4 Februari lalu telah mendeklarasikan 208 desa dan kelurahan ramah anak. Hal ini sebagai salah satu bagian dari meningkatkan status KLA menjadi KLA Madya. (Basuni Hariwoto)

Baca : Kapolres Sragen : Sebulan Jelang Pemilu 2019, Sragen Tetap Kondusif

 

Tinggalkan Pesan