Wasit Tanpa Sertifikat

0
wasit-Herywansyah

MENJADI pilot merupakan cita-cita yang pernah diburu Herywansyah. Dosen olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendididikan (FKIP) Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta tersebut pun pernah menghuni Institut Penerbangan (sekarang Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) di Curug, Bogor.

‘’Inginnya jadi pilot. Tapi setelah lebih dari setahun menuntut ilmu di Curug, akhirnya saya harus pulang, karena ada beberapa materi yang tidak lulus,’’ ungkap dia, di sela-sela bermain tenis di kampus Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Sabtu (30/3).

Kegagalan itulah yang akhirnya menuntun dia untuk menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Olahraga UNS pada 1981 hingga lulus pada 1987. Kegemarannya berolahraga sejak masih sekolah menengah yang menuntunnya. ‘’Pada 1981-1985, saya termasuk tim inti bola basket mahasiswa UNS hingga tingkat bermain di tingkat Jateng,’’ tutur pria 61 tahun tersebut.

Bahkan setelah itu menjadi wasit nasional basket. Bapak empat anak dan kakek seorang cucu tersebut memimpin berbagai kejuaraan basket hingga level Liga Kobatama. ‘’Kala itu, wasit nasional tanpa ada lisensi seperti saat ini. Saya berkali-kali memimpin pertandingan tim-tim besar seperti Bhinneka, Apac Inti dan lainnya. Terakhir jadi wasit nasional pada 2003, karena usia telah masuk batas 45 tahun,’’ kenangnya.

Baca : Ingin Bermanfaat Bagi Orang Lain

Baca :Sunarna Pelopori Lahirnya Perda BUMDes Pertama di Indonesia

Kembali Gagal  

Pria kelahiran Teluk Betung, Lampung, 22 Oktober 1958 tersebut memang gemar olahraga. Berbagai cabang pernah digelutinya, seperti bulutangkis, tenis meja, tenis lapangan, biliar dan renang. Tidak seluruhnya berujung prestasi.

Namun suami Marioriearta Asta Fannie itu kembali gagal saat pernah berniat untuk kembali belajar terbang. ‘’Sempat ada niat kuat menggeluti olahraga dirgantara, gantole dan paralayang. Tapi berkali-kali akan memulainya, selalu ada saja hambatan, seperti karena padatnya tugas-tugas mengajar di kampus. Ya, akhirnya saya benar-benar gagal jadi penerbang sampai setua ini,’’ kelakar warga Jl Senapan I/13 Kadipiro Solo tersebut.

Alumnus SMA Kristen Sidokare Solo tahun 1977 itu mengaku, memiliki aliran darah olahraga dari keluarganya. Ayahnya, Adnan Kali Ubi, meninggal dunia saat dia baru berusia dua tahun. Sementara sang ibu, almarhumah Sri Wahyuni merupakan atlet PON Jateng di cabang lempar cakram dan tenis lapangan.

‘’Dua anak saya yang pertama juga menggeluti olahraga renang. Yang sulung, Agni Herarta sampai sekarang jadi pelatih renang klub Almagari Solo, sedangkan yang nomor dua Anggita Herasta dulu juga pernah jadi atlet renang,’’ ungkap Herywansyah.(Setyo Wiyono)

Baca : Henry Indraguna, Pengusaha dan Pengacara Sukses

 

Tinggalkan Pesan