Baru 300 Km Bengawan Solo Ditangani Permanen

0
bbwsbs-klaten1

*Gotong Royong Percepat Atasi Kerusakan Tanggul

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Hampir semua sungai mengalami perubahan, banyak aktivitas kegiatan lain yang memperparah kerusakan sungai sehingga membutuhkan biaya mahal untuk penanganan secara struktural.
Hal itu diungkapkan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Charisal A Manu di sela-sela peringatan Hari Air Sedunia ke-27 di Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Kamis (4/4).
‘’Untuk penanganan kerusakan sungai ada 2 pendekatan. Pertama penanganan secara tanggap darurat dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal setempat untuk menanggulangi agar tidak terjadi kerusakan yang lebih besar,’’ tegas Charisal A Manu.

Yang kedua adalah pemulihan yang memerlukan kajian, apakah struktur tanah itu memungkinkan konstruksi tertentu. Diharapkan kerusakan segera tertangani, tentu dengan struktur yang ada dan dengan biaya yang murah akan lebih mudah dan cepat.
Sedangkan bisa dibangun dengan konstruksi yang cukup permanen dan kuat membutuhkan biaya yang besar. Contohnya, untuk pembenahan ruas sungai sepanjang 5,8 km di sungai Bengawan Solo Induk membutuhkan dana sekitar Rp 120 miliar.

Sungai Bengawan Solo membentang sepanjang 700 km dari Wonogiri sampai ke Gresik. Dari panjang itu yang tertangani permanen baik jangka panjang, sedang dan pendek itu baru 300 km. Artinya baru separuh sungai induknya saja.

Baca : Ini Pesan Enterpreneur AS pada Mahasiswa Uniba

Baca : Sunarna Pelopori Lahirnya Perda BUMDes Pertama di Indonesia

‘’Masyarakat Klaten menggunakan semangat gotong royong maka beban menjadi ringan. Contohnya, beberapa kegiatan kami yang targetnya 100 meter, dengan melibatkan komunitas bisa terealisasi hingga dua kali. Ini yang mau kami dorong di seluruh wilayah Bengawan Solo di 23 kabupaten/kota dengan luas wilayah sekitar 15 persen dari pulau Jawa,’’ ujar dia.

Panjang sungai induk Bengawan Solo saja sudah mencapai dua pertiga panjang pulau Jawa. Maka potensi penduduk harus berperan untuk ikut menjaga sungai. Peran pengusaha juga diharapkan. Saat ini, banyak pabrik dekat sungai yang memanfaatkan air sungai bahkan membuang limbang ke sungai. Mereka bisa memanfaatkan dana CSR untuk ikut menangani masalah sungai.

bbwsbs-klaten2

‘’Komunitas bisa mendorong peran pengusaha. Misal satu pabrik bisa menangani 100 mater, maka 100 pabrik sudah bisa 1 km. Kalau ada 1000 pabrik sudah berapa yang bisa dijaga. Selain itu, potensi bambu di sepanjang sungai juga dimanfaatkan untuk penanganan longsor.
Bantaran sungai di Klaten banyak ditumbuhi bambu yang ternyata perkembangan luar biasa. Yang terjadi banyak rumpun bambu yang hanyut akibat tergerus air, dan menyumbat arus rungai sehingga menjadi seperti bendungan yang membahayakan daerah sekitarnya. Untuk itu, bambu di bantaran sungai harus dimanfaatkan sebagai energi.

‘’Saat ini, kami sedang mengembangkan pemanfaatan bambu di daerah longsoran agar tidak membahayakan jiwa manusia. Pelibatan komunitas juga akan terus didorong agar bisa mencapai hasil yang lebih dari target yang ditentukan awalnya,’’ tegas Charisal A Manu.(Merawati Sunantri)

Baca : TNI dan Polri Siap Amankan Pemilu

Tinggalkan Pesan