Pemkab Gelar Uji Rasa dan Aroma

padi-rojolele-delanggu-klaten

* Penangkaran Varietas Rojolele

KLATEN,suaramerdekasolo.com-Pemkab Klaten akan menggadakan uji rasa dan aroma beras padi varietas rojolele. Beras hasil rekayasa Pemkab dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) itu dilakukan pekan ini.
” Kami rencanakan tanggal 11 April di Pendapa Pemkab,” ungkap Sunarno, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Pemkab Klaten, Senin (8/4). Menurutnya setelah dinyatakan uji laboratorium beberapa waktu lalu di Sukamandi, tim sedang menyusun kelengkapan proposal sidang pelepasan berupa uji rasa dan aroma.

Kelengkapan proposal berupa uji rasa dan aroma itu akan dilakukan pekan depan di Pendapa Pemkab Klaten. Setelah itu akan disertakan sebagai pelengkap proposal ke pusat. Apabila lolos di uji pelepasan diharapkan pari Rojolele akan menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Klaten di masa depan. Pemkab meminta dukungan dan doa masyarakat.

Anggota tim penangkaran varietas padi Rojolele, Nusanto Herlambang proposal itu akan didaftarkan ke Kementerian Pertanian RI. Proposalitu berisi dokumen perkembangan kegiatan penangkaran varietas padi Rojolele sejak awal sampai disusunya ajuan. Sambil menunggu proposal selesai disusun, tim akan melakukan uji rasa secara natural dengan responden masyarakat Klaten. Masyarakat diminta merasakan dan memberikan kriteria rasa hasil padi yang sudah direkayasa itu.

Tiga Kali

Di Kementerian, kata Nusanto. setiap tahun ada tiga kali sidang yaitu bulan April-Mei, Juni- Juli dan November-Desember. Tim sangat berharap bisa ikuti di bulan April-Mei sehingga harapan masyarakat untuk menjadikan padi Rojolele milik Klaten segera terwujud. Ujian pelepasan diharapkan lancar sehingga jika lolos maka akan mendapat sertifikasi dan siap dikembangkan serta disebarluaskan ke masyarakat luas.

Penangkaran dan pemuliaan padi Rojolele itu bukan kerja singkat. Sebab kali pertama dilakukan radiasi oleh BATAN adalah tanggal 20 November 2012. Padi Rojolele hasil rekayasa sudah berubah banyak dari aslinya. Dari sisi umur yang semula dari tanam sampai panen membutuhkan waktu 152 hari ditekan menjadi 98 hari di organik dan 100 hari di tanam konvensional. Teksturnya pun sudah lebih pendek sebab tinggi aslinya 172 centimeter menjadi rata-rata 115 centimeter. (Achmad Husain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here