Wakil Rakyat Diminta Ikut Awasi KIP

agustina-wilujeng-kip

SRAGEN,suaramerdekasolo.com- Untuk memastikan mereka yang menerimanya adalah yang benar-benar berhak dan membutuhkan, para anggota DPR diminta ikut mengawasi Kartu Indonesia Pintar (KIP), yang menjadi salah satu program dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. Di Sragen sendiri terdapat total 9.080 pelajar mulai SD, SMP, SMA dan SMK yang berhak menerima KIP, yang pembayarannya lewat dua bank milik pemerintah, yakni BNI dan BRI.

Hal ini diungkapkan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Agustina Wilujeng Pramestuti, tatkala acara “Penyerahan KIP dan Percepatan Pencairan Dana Program Indonesia Pintar”, yang digelar di SMA 1 Sragen, pada Senin (8/4). Acara diikuti perwakilan dari SD, SMP, SMA dan SMK yang ada di Sragen. Agustina mengatakan, ikut mengawasi KIP adalah bagian dari tugas sebagai anggota DPR. “Kalau saya sebagai anggota DPR, tidak hanya sebagai anggota Komisi IV, tapi juga sebagai anggota Badan Kerjasama Antarparlemen Dunia dan Badan Kajian MPR serta tugas-tugas pengawasan anggaran di daerah pemilihan masing-masing,” kata Agustina.

Besaran KIP untuk SD sebanyak Rp 900 ribu/tahun, SMP Rp 1,5 juta/tahun dan SMA serta SMK Rp 2 juta. Pada hari itu saldo yang ada di masing-masing penerima baru Rp 500 ribu, karena merupakan pencairan tahap pertama. Dimana dalam setiap tahunnya ada tiga kali pencairan. Uang itu langsung masuk ke rekening masing-masing penerima. Anggota DPR dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IV (Kabupaten Sragen, Karanganyar, Wonogiri) ini mengungkapkan, ternyata adanya KIP memang sangat membantu dan sangat bermanfaat bagi para penerima dan sekolah.

Keperluan sekolah

Adanya KIP membuat tidak ada kendala bagi orang tua dan murid untuk mendapatkan pendidikan terbaik. “KIP tersebut bisa untuk membeli perlengkapan sekolah, seperti tas, buku, seragam dan sepatu. Juga untuk memberi makanan yang bergizi untuk anak sekolah atau untuk biaya kursus,” tandasnya. Namun uang dari KIP itu tidak boleh untuk membeli yang konsumtif, seperti untuk membeli pulsa atau paket data dan ponsel.

Salah satu penerima KIP, Dyah Yuli Arum Sari mengatakan, mengaku sangat senang bisa mendapat KIP karena sangat membantu dirinya selama bersekolah. Murid kelas 10 SMA 1 Sambungmacan ini mengatakan, dirinya baru satu kali ini mendapatkan KIP. Waktu mengecek di saldo, uang yang ada baru Rp 500 ribu dan dia ambil Rp 200 ribu. “Uang dari KIP mau saya pakai untuk membeli tas, sepatu dan buku,” katanya. Dia juga mengaku ingin bisa kuliah setelah lulus dari SMA, apalagi selanjutnya ada KIP kuliah dari pemerintah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Sragen Suwardi mengatakan, sekolah yang berhak menentukan murid-murid mereka yang berhak menerima KIP. Usulan itu juga disampaikan lewat online.

“Kami dari dinas malah tidak punya kewenangan, karena sekolah yang berhak mengusulkan,” katanya. Untuk kemanfaatannya, uang dari KIP itu untuk keperluan sekolah, seperti membeli tas, buku dan seragam. “Tidak boleh untuk membeli pulsa, paket data atau ponsel, karena itu bukan kebutuhan pokok sekolah,” jelasnya.(Basuni Hariwoto)

 

Tinggalkan Pesan