Orang dengan Ganggungan Jiwa Disosialisasi tentang Pemilu 2019

0
sosialisasi-kpu-surakarta


SOLO,suaramerdekasolo.com-Sebanyak 77 orang dengan ganggungan jiwa (ODGJ)mengikuti sosialisasi Pilpres dan Pileg 2019 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surakarta. Hal itu sebagai upaya menekan angka golput dan menjalankan keputusan PKPU untuk mengakomodasi ODGJ yang termasuk penyandang disabilitas.
“Sesuai amanat undang-undang, ODGJ termasuk pemilih yang perlu diakomodir untuk Pemilu 2019 nanti. Tentunya sesuai dengan hasil kesehatan yang ditetapkan dokter terkait,” ungkap Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Jebres, Murjioko, saat ditemui di Aula Indraprasta, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr Arif Zainuddin, Solo, Jumat (12/4).

Murjioko menerangkan, tidak semua pasien di rumah sakit setempat dapat menggunakan hak suaranya. Sehingga pihak perawat dan dokter hanya memilih 77 pasien yang dinyatakan sehat dan dapat mencoblos pada 17 April 2019.
“Jumlah ODGJ termasuk dalam daftar pemilih tambahan (DPTb) karena pasien mayoritas datang dari luar kota. Jumlah pasien tersebut sudah ditentukan dokter untuk memilih pada hari H sehingga, sosialisasi itu kami lakukan agar pasien tak bingung saat mencoblos,” ungkap dia.

Murjioko mengungkapkan, jumlah DPTb ODGJ yang masuk dalam TPS 108 itu tak akan bertambah, namun jumlah tersebut dapat berkurang melihat kondisi dari pasien yang bisa berubah sewaktu-waktu. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan dokter dan panitia pemungutan suara (PPS) jika terjadi pengurangan DPTb saat hari pencoblosan.
“Jumlah tersebut tidak akan bertambah, namun memungkinkan berkurang saat kondisi pasien tersebut kambuh dan tak bisa memilih. Nantinya saksi-saksi dari perwakilan partai, tim pemenangan paslon capres dan cawapres hadir saat pemilihan. Maka dari itu, jika saat pasien memilih dan tidak segera menyelesaikan pencoblosan di bilik suara, KPPS yang juga sebagai perawat di RSJD setempat akan mengingatkan,” kata dia.

Antusias pasien ODGJ terhadap sosialisasi yang dilakukan KPU Surakarta cukup baik. Tak sedikit pasien yang bertanya seputar Pemilu dan beberapa orang memberi pernyataan menggelitik saat diberi kesempatan bertanya. Seperti ketidakinginan pasien mencoblos karena mencoblos diartikan dengan sesuatu yang vulgar, hingga pernyataan pasien yang merupakan orang dengan penyakit abadi.

Lebih lanjut, Koordinator Humas RSJD, dr Arif Zainuddin, Totok Hardjianto mengungkapkan, satu orang pasien membutuhkan waktu memilih 5-10 menit di bilik suara. Sehingga, estimasi waktu yang diprediksi mencapai lima jam belum termasuk penghitungan suara.
“Estimasi kami sebelum pukul 12.00 pemungutan suara sudah selesai. Nantinya pasien-pasien tersebut tak didampingi dokter atau perawat RS, kami sudah melakukan CT scan dan memastikan mereka dapat memilih secara mandiri. Dengan demikian, sosialisasi ini perlu agar mereka memiliki pandangan saat mencoblos pada hari H,” kata Totok. (Ilham Baktora)

Tinggalkan Pesan