Waspadai Politik Uang Dimasa Tenang

0
tolak-politik-uang
ilustrasi
KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Masa tenang pascakampanye dan sebelum pemilu, yang berlangsung 14-16 April, diwaspadai Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Sebab masa tenang justru menjadi titik paling rawan, dalam praktik politik uang. 
Di masa tenang, bukan tidak mungkin calon tertentu, melalui tim suksesnya, bergerilya bagi-bagi uang pada calon konstituen, meminta dukungan suara saat pemilu. 
“Karena itulah, di masa tenang, seluruh jajaran Bawaslu akan mengintensifkan patroli di wilayah kerjanya masing-masing. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya praktik money politics,” kata Komisioner Divisi Humas dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Jateng Rofiuddin di Karanganyar.
Dikatakannya, selama ini praktik politik uang menjelang pemilu sulit diendus. Sebab, pelakunya bergerak senyap. Kasus penangkapan salah satu anggota DPR RI yang juga calon legislatif (caleg) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan barang bukti ribuan amplop berisi uang untuk serangan fajar beberapa waktu lalu, menjadi salah satu bukti, bahwa praktik politik uang nyata adanya. 
“Jika money politics dibiarkan, ini menjadi ancaman luar biasa bagi proses demokrasi. Nyaleg akan butuh modal besar, jika melakukan politik uang. Sementara gaji sebagai legislator tidak cukup. Akhirnya menghalalkan segala cara untuk korupsi,” tandasnya. 
Menurutnya, jika untuk mencapai kekuasaan menggunakan cara-cara yang kotor, maka akan menciptakan koruptor. “Mereka akan butuh balik modal, dengan cara korupsi. Untuk mencegah politik uang, perlu pengawasan bersama. Dari Bawaslu, juga masyarakat,” ujarnya. 
Selain mewaspadai politik uang, Bawaslu juga mewaspadai kemungkinan terjadinya intimidasi dari tokoh masyarakat pada masyarakat, agar memilih calon tertentu. 
“Esensi demokrasi itu memilih calon pemimpin tanpa paksaan dan intimidasi. Karena itu, tidak boleh ada paksaan untuk memilih calon tertentu, apalagi sampai melakukan intimidasi,” imbuhnya. (Irfan Salafudin) 

Tinggalkan Pesan