Anak Autis Punya Harapan ke Sekolah Umum

0
seminar-autis-klaten

*Sarasehan Peluang dan Tantangan Mengintegrasikan Anak Autis

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Anak dengan gangguan perkembangan menyeluruh (pervasive disorder) atau autis, tetap mempunyai harapan untuk integrasi ke sekolah umum (inklusi). Meski demikian, ketersediaan guru pendamping sangat dibutuhkan.
Hal itu ditegaskan oleh Muchamad Agus Hanafi pada sarasehan bertema ‘’Peluang dan Tantangan dalam Mengintegrasikan Anak Autis’’ itu digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-22, Sekolah Khusus Autistik Fajar Nugraha (SKAFN) di Hotel Horaios Yogyakarta, Sabtu (13/4).

Agus Hanafi merupakan pendiri SKAFN sekolah autis pertama di Indonesia yang juga Ketua Yayasan Fajar Nugraha. Kegiatan itu bertujuan untuk mengedukasi dan manyadarkan masyarakat tentang potensi dan peluang anak autis untuk diintegrasikan ke sekolah umum.

’’Walaupun mengalami pervasive disorder, anak penyandang autis memiliki harapan dan kesempatan untuk integrasi ke sekolah umum (inklusi) jika mendapatkan penanganan secara cepat, tepat, komprehensif, dan berkelanjutan dengan melibatkan beragam disiplin keilmuan,’’ tegas dia.

Menurut Agus Hanafi, sekolah autis harus mengentaskan dan memandirikan anak autis. Prinsipnya, semua anak autis harus diintegrasikan ke sekolah reguler, sebagai realisasi Permendiknas No. 70/2009 tentang Pendidikan Inklusi. Integrasi ke sekolah umum merupakan gerbang kemandirian mereka.

‘’Peluang integrasi ke sekolah umum semakin besar jika anak mendapatkan intervensi sedini mungkin. Jika bisa teridentifikasi sejak dini, dan penanganan segera dilakukan, maka anak autis akan ‘normal’ kembali,’’ ujar dia.

Orang tua ikut terlbat

Pengalaman SKAFN melayani anak autis selama 22 tahun membuktikan bahwa peluang integrasi ke sekolah umum akan semakin besar jika anak autis mendapat intervensi dini di usia emas (2 – 5 tahun). Di usia emas, anatomi otak masih memungkinkan untuk berkembang secara optimal.

Namun dalam penanganan anak autis, para orang tua juga harus terlibat aktif dalam pemberian treatmen terhadap putra-putrinya. Orang tua harus memahami bahwa sekolah autis bukan ‘terminal akhir’ atau ‘bengkel’ anak autis.

Dalam acara itu tersebut tampil 3 nara sumber yakni dua guru SKAFN, Yan Eka Ardiyanti dan Sondy Yanuarta, serta Isti Proboningsih, orang tua dari alumni SKAFN yang telah diintegrasikan ke sekolah umum.

Sondy Yanuarta melihat potensi anak autis akan berkembang pesat jika mendapatkan pembelajaran terstruktur, penuh toleransi, dan banyak permakluman. Sedangkan Yan Eka Ardiyanti menegaskan, keberhasilan pengintegrasian anak autis ke sekolah umum sangat dipengaruhi dukungan dan keterbukaan dari sekolah umum, terutama syarat test IQ anak normal bagi anak autis dan ketersediaan guru pendamping (GPK).

Isti Proboningrum menekankan pentingnya dukungan orang tua dalam pendidikan anak autis. Mereka harus terlibat aktif dalam penyusunan program dan kegiatan belajar anaknya, menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah, serta meluangkan waktu mendampingi anaknya belajar di rumah.(Merawati Sunantri)

Tinggalkan Pesan