Pilih Ikut Gusti Moeng, Karena tak Diakomodasi

0
paugeran-keraton-kasunanan-surakarta1

-Sejak Awal Berjuang Menegakkan Paugeran

SOLO, suaramerdekasolo.com – Putera Mahkota Keraton Surakarta GPH Mangkubumi dan kakaknya, GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani sejak awal memang sudah bisa memahami bahwa jalan yang ditempuh ayahandanya yaitu Sinuhun Paku Buwono XIII, memang selalu menyimpang dari komitmen untuk tetap menegakkan paugeran atau pranata adat. Keputusan terakhir berupa memilih bergabung dengan sejumlah paman dan bibinya terutama GKR Wandansari Koes Moertijah, benar-benar diambil karena keputusan yang diambil ayahandanya membentuk kabinet (bebadan) baru, tidak mengakomodasi kelompok di belakang bibinya, bahkan dirinya sendiri dan kakaknya yang merupakan anak kandung raja.
”Itu yang membuat anak-anak Sinuhun (PB XIII-Red) terutama GPH Mangkubumi dan kakaknya, memilih ikut saya. Lo, mereka itu sudah dewasa. Mereka selama ini ikut jejak kami dan bisa paham serta membedakan mana yang benar dan mana yang melenceng. La wong mau membentuk kabinet, kok kami semua tidak diajak bicara. Aanak-anaknya sendiri tidak ada yang diajak bicara. Jangankan diberi tempat (posisi jabatan), diajak taren dan rembugan saja tidak,” tunjuk Ketua Lembaga Dewan Adat yang akrab disapa Gusti Moeng itu, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, siang tadi.

Sepanjang pengamatan suaramerdekasolo.com, putera mahkota GPH Mangkubumi bukan kali pertama muncul di acara yang digelar Gusti Moeng seperti resepsi peringatan setahun berdirinya Istana Mataram Surakarta, di Hotel Swiss Bell Inn, Sabtu malam. Di hampir semua acara yang digelar GKR Wandansari Koes Moertijah ketika masih menjabat Pengageng Sasana Wilapa (2004-2018) di dalam dan di luar keraton, selalu didukung sebagian putra-putri dalem Sinuhun PB XII, hampir semua sentana darah dalem trah Sinuhun Amangkurat – PB XIII dan sebagian besar putera-puteri Sinuhun PB XIII terutama GPH Mangkubumi dan GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani.

Karena secara sepihak Sinuhun PB XIII membentuk bebadan atau kabinet baru belum lama ini, GPH Mangkubumi dan beberapa saudaranya seayah lebih memilih bergabung dengan Gusti Moeng. Meski diizinkan hadir pada upacara adat tingalan jumenengan di Pendapa Sasana Sewaka, beberapa hari lalu, putera mahkota itu ternyata tidak diberi posisi apapun di kantor-kantor pengageng bebadan baru yang dibentuk ayahandanya.

Tegakkan Paugeran

Meski masih dimungkinkan mendapat kesempatan hadir di setiap ada upacara adat di keraton, namun dirinya akan tetap konsisten¬† memperkuat perjuangan bibinya yang ingin terus berupaya menegakkan paugeran. Karena, sejak peristiwa pengambilalihan keraton 15 April 2017 hingga keraton kembali dibuka ”separo” awal April lalu, banyak aktivitas seni budaya dan layanan pada publik yang tidak berfungsi, misalnya layanan perpustakaan atau Sasana Pustaka.
”Kami memang di luar dan seakan-akan menjadi orang luar. Tetapi itu bukan masalah untuk tetap berkarya dan menggelar aktivitas seni budaya bersakala, regional, nasional maupun internasional. Panggung kami di manapun bisa. Karena, kami sudah punya basic kuat, lengkap dan terlatih serta teruji. Mereka semua setia untuk tetap menegakkan paugeran serta melestarikan budaya,” tegas Gusti Moeng. (won)

Tinggalkan Pesan