THR Sriwedari Benar-benar Tamat Riwayatnya

0
thr-sriwedari-tamat1
GAYA MUSISI : Gaya para musisi OM Ervana 87 (Solo), adalah satu di antara serangkaian pentas berbagai genre musik sebagai salam perpisahan dengan THR Sriwedari untuk selamanya, akhir 2017.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Begitu Pula Kebon Raja

SETELAH serangkaian pentas perpisahan digelar selama beberapa malam sampai Desember 2017, banyak kalangan musisi, komunitas pecinta musik dan oublik secara umum berharap, jasa hiburan Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari segera mendapatkan tempat pengganti dan segera kembali menjadi ajang ekspresi bermusik selain layanan hiburan dalam bentuk lain non musik. 

Tetapi, beberapa peluang yang ada terutama di dalam Kota Solo, seakan menutup kesempatan pihak pengusaha jasa hiburan itu dan seakan memupus harapan publik secara luas hingga dari luar wilayah Solo Raya.

Sekarang, sudah memasuki tahun kedua setelah PT Semarang Arsana Trusta (Smart) pengelola THR berpamitan kepada publik melalui pentas perpisahak di akhir 2017 itu. Tak terdengar lagi kabar dari kalangan manajemen yang tersisa di Solo, tentang upaya-upayanya untuk mendapatkan lahan guna untuk meneruskan kemitraannya dengan publik secara luas, yang sejak 1985 pernah mengukir sejarah di Kota Solo hingga Kota Bengawan ini memiliki ikon di bidang seni musik dan begitu dikenal hingga 30-an tahun lebih itu.

Semula, harapan digantungkan kepada Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang ditunjuk Wali Kota FX Hadi Rudyatmo sebagai solusinya. Publik dan PT Smart juga meyakini dan menyambut baik solusi itu, seraya berharap Taman Sriwedari akan berlanjut untuk meneruskan citra dan nama besar Kota Solo sebagai kota paling ramah bagi ekspresi berbagai jenis musik. Namun ternyata, lahan yang disiapkan seluas kurang lebih 2 hektare itu, ternyata sekadar sebagai alat yang bagi Pemkot yang terkesan bersimpati dan peduli, padahal sebenarnya adalah sebuah cara yang halus untuk ”menolak” dan ”mengusir” THR.

Pengusiran

Bentuk penolakan atau pengusiran itu terletak pada nilai sewa lahan yang diberikan kepada pihak PT Smart, yang cukup fantastis besarannya, yaitu Rp 1.000,-/hari/hektare, yang nilainya mencapai Rp 20 juta untuk luas lahan 2 hektare atau Rp 600 juta nilai sewa setiap bulannya. Bagi PT Smart yang merupakan anak perusahaan dari Warwick Amusemment Group Incorporation (WAGI) yang kantornya berkedudukan di Hongkong untuk bisnis kawasan Asia dan Perancis sebagai pusat bisnis dunia, nilai Rp 600 juta masih tergolong kecil bila diukur dengan skala bisnis grup perusahaan asing yang punya banyak bisnis hotel di Indonesia itu.

Namun, ketika harus ada kalkulasi rasional terhadap macam bisnisnya, akan sangat tidak masuk akal apabila menyewa lahan tiap bulan Rp 600 juta, tetapi daya beli masyarakat terhadap jenis jasa hiburan yang dijual THR hanya di kisaran Rp 20 ribu/tiket masuk. Nilai Rp 600 juta, belum termasuk kalkulasi sejumlah keperluan yang harus dikeluarkan seperti listrik, air minum, gaji pegawai, pajak dan biaya operasional laiinya seperti yang pernah dikeluarkan ketika beroperasi di Sriwedari total hanya berkisar Rp 300 juta tiap bulannya.

”Dengan nilai sewa lahan Rp 600 juta/bulan, harga rasional yang ideal tiket masuk di TSTJ bisa di atas Rp 30 ribu/orang. Itu belum termasuk kalkulasi pengeluaran lain. Apalagi kalau harus ada penyesuaian di TSTJ yang kemungkinannya lebih tinggi. Apa ada yang mau masuk THR? Padahal, namanya perusahaan jelas harus mencari laba,” papar Sinyo Sudjarkasi selaku Direktur PT Smart menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com.

Singkat kata, pilihan tempat pengganti yang ditunjuk Wali Kota Solo di TSTJ, jelas hanya semacam ”jebakan” untuk ”mengusir” THR secara halus. Sampai di situ, PT Smart langsung mundur teratur, dan pandangannya beralih ke lahan di kompleks perkantoran PT Lokananta di kawasan Jajar. Tetapi, lagi-lagi upaya yang dijembatani sekelompok seniman musik yang menamakan Komunitas Seniman Mandiri untuk menyewa lahan di kompleks perusahaan rekaman milik BUMN itu kandas, dan disinyalir karena terlalu rumitnya birokrasi perizinan prinpsipnya selain nilai sewa yang terlalu kecil bila dibanding dengan skala bisnis BUMN yang dipimpin Menteri Rini Soemarno itu.

”Saya rasa, THR Sriwedari benar-benar sudah tamat. Unsur menejemen yang saya hubungi sudah merasa buntu. Karena, yang diminta lahan pengganti di dalam Kota Solo. Sementara, lahan strategis dan memadai di dalam kota sudah habis. Meskipun, beberapa tempat di luar kota juga sudah dikaji. Tetapi, dari semua persyaratan tidak bisa memenuhi. Ini memang nasib tragis para pemusik dan kalangan pecintanya. Mengapa Kota Solo menjadi tidak ramah seni (musik)?,” ujar Edy Kistoro selaku pimpinan Ervana Group yang membawahi tiga grup dangdut sekaligus itu di tempat terpisah.

Setelah kandasnya berbagai upaya itu, agaknya THR Sriwedari kini sudah benar-benar tamat riwayatnya. Sarana hiburan yang atmosfirnya sudah dirasakan publik yang datang jauh dari luar Solo Raya itu, pelan-pelan akan terhapus begitu saja oleh perjalanan waktu da, perubahan situasi kondisi yang terjadi di Kota Solo, khususnya di Taman Sriwedari atau Kebon Raja.

Hiburan rakyat

Garangnya 30-an grup musik rock yang pernah tercatat sebagai peserta parade di situ, juga rata-rata lebih 30-an grup campursari, dangdut, Koesplusan dan belasan grup tembang kenangan dan komunitas pelestari musik Ska, reggae, Iwan Fals dan sebagainya kini sudah ”almarhum”. Kelompok-kelompok drum band anak-anak TK dan uji kompetensi kalangan siswa SMP dan SMA, tak akan bisa terwujud dan menjadi hiburan lagi bagi publik luas yang sudah memiliki memori indah THR Sriwedari.

Pelan-pelan, Taman Sriwedari sudah kehilangan salah satu komponen pentingnya di bidang lelangen atau hiburan yaitu THR. Itu adalah wujud baru  setelah perjalanan panjang Kebon Raja kehilangan kebon binatang, Malem Selikuran sekaligus Maleman Sriwedari dan segala kemeriahan di Segaran atau telaga. Dalam proses pembangunan sebuah masjid hasil ”janji politik”, hiburan sisa-sia Segaran dan aktivitas WO Sriwedari mencoba bertahan, disaksikan Museum Radya Pustaka, untuk mencoba menembus ruang zaman dan waktu. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan