Didata Ulang, 17 Kotak Anak Wayang Koleksi Keraton Surakarta

0
pendataan-wayang-kulit-kraton-surakarta1

* Kalau Ada yang Hilang Gampang Melacak

KALANGAN pemerhati museum dan publik secara luas sampai di luar negeri, pernah geger memperbincangkan sejumlah koleksi Museum Radya Pustaka di kompleks Taman Sriwedari yang raib dari tempatnya. Tidak lama kemudian, sejumlah orang yang menjadi tersangkanya diadili, bersamaan dengan dilakukannya audit atau proses pendataan.
Akhirnya diketahui, ada beberapa arca yang hilang, bahkan barangnya sempat diketahui berada di luar negeri, dan sempat menyeret nama tokoh nasional. Selain arca, hasil audit yang menghadirkan dalang kondang Ki Manteb Soedarsono sebagai kurator, menyebut ada sejumlah anak wayang kulit koleksi yang hingga kini masih samar-samar kesimpulannya.

Dalang yang akrab disapa ”Ki Manteb Oyee” itu memang bisa mengenali tiap anak wayang, bukan saja nama tokohnya, tetapi ciri-ciri atau identitas fisik anak wayang, antara lain yang menyangkut kapan diciptakan, kategori/asal wilayah gaya yang menciptakan, di zaman (sejarah) apa yang menciptakannya dan sebagainya. Ciri-ciri atau identitas itu, bahkan sangat mudah dikenali apabila ada kode atau label tahun dan nama/tempat/zaman pembuatannya yang biasanya tertulis dalam huruf Jawa di bagian bawah postur tubuh anak wayang yang disebut plemahan.

Proses kurasi

Namun, ketika melakukan kurasi terhadap semua anak wayang yang diduga ada yang raib dan telah berubah menjadi tidak asli dari yang masih ada, Ki Manteb menjadi ragu-ragu dan tidak secara tegas memberi kesimpulan. Karena, ternyata museum tidak punya arsip dokumentatif yang mencatat tiap koleksi sampai pada detail ciri-ciri fisik, baik dalam bentuk tertulis maupun visual.

Dalang yang kini berusia hampir 70 tahun lebih itu dalam pertemuan terpisah dengan Suaramerdekasolo.com pernah berucap, ada seorang kolektor wayang terutama wayang kulit gaya Surakarta yang merupakan warga negara Jerman. Di rumahnya di sebuah kota di Jerman, kolektor bernama Wolter Ang itu mendirikan museum wayang dan karya seni kriya lain terutama dari Indonesia, yang disinyalir ada sejumlah anak wayang yang punya label khusus misalnya ”PB” yang bisa diartikan singkatan dari Pakoe Boewana.

Hilangnya wayang

Sampai di situ, geger Museum Radya Pustaka yang dibangun atas sumbangan koleksi dari Keraton Surakarta itu, kemudian sudah tidak terdengar lagi adanya upaya lebih lanjut, baik mengenai mencari kebenaran data yang disinggung Ki Manteb, meneliti asal-usul koleksi Wolter Ang dan mencari tahu bagaimana prosesnya bisa sampai di tangannya, melacak lebih jauh dugaan yang dipalsukan dan kemana larinya yang asli, termasuk melacak sumber barang-barang koleksi museum yaitu yang masih ada di Keraton Surakarta.
Karena, berita kehilangan anak wayang dan benda-benda budaya lain dari Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu sangat sering terjadi dalam kurun waktu yang panjang, hingga terakhir Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa waktu itu, memerintahkan untuk melacak dan mengembalikan 23 anak wayang yang raib dari salah satu kotak koleksi keraton.

Sebanyak 23 anak wayang dalam peristiwa kehilangan terakhir yang dilaporkan di tahun 2016 itu, secara kebetulan muncul diketahui saat diadakan pendataan dan pendokumentasiah secara visual baik foto maupun video yang dilakukan keraton. Dari kasus itu, ada beberapa abdi dalem yang terpaksa berurusan dengan polisi, dan sejumlah anak wayang itu akhirnya bisa kembali ke kotaknya dan menjadi koleksi tempat penyimpnanannya di Lembi Sana.

Namun, situasi dan kondisi segera berubah di saat ada insiden pendudukan keraton oleh lebih 2 ribu Brimob dan TNI pada 17 April 2017, beberapa waktu setelah pendataan 17 kotak wayang kulit selesai tuntas. Gusti Moeng dan semua bebadan beserta seluruh jajarannya diusir dari keraton hingga kini, semua jaringan sistem pengamanan berupa CCTV dilepas dan tidak tahu bagaimana nasib koleksi benda budaya yang tidak ternilai harganya itu, mengingat komponen-komponen sistem pengawasan/pengamanan/pemeliharaan itu sudah tidak pernah kelihatan/terdengar dilakukan.

Dihanyutkan

Jauh sebelum ketika Gusti Moeng mulai menjabat selaku Pengageng Sasana Wilapa mulai 2004, rentetan insiden kehilangan benda-benda budaya, seperti dibiarkan melenggang begitu saja nyaris tak ada yang mengharu-biru. Misalnya, koleksi rebab gading yang hampir habis dan dikeluarkan dari tempatnya dengan cara dihanyutkan di saluran pembuangan saat hujan deras, kemudian raib dan kembalinya seperangkat gamelan Kyai Genta sumbangan dari Raja Muangthai (Thailand) saat PB X, raibnya patung-patung, keris dan berbagai atribut emas dan kebesaran raja saat friksi pro-kontra bertahtanya Sinuhun PB XIII mulai pecah di tahun 2004.
”Tetapi untuk mengidentifikasikannya gampang kok. Suatu saat kalau kembali didata, pasti ketahuan kalau ada yang kurang atau berubah wujud. La wong, figur orang yang mengambil juga jelas kok. Tinggal tunjuk hidungnya saja. Orangnya masih hidup semua. Tetapi terus mau diapakan, la wong negara/pemerintah sudah tidak peduli kok,” ujar Gusti Moeng kesal. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan