Agus Hanafi Gagas Pendirian Kampung Autis di Klaten

0
134
autiss-klaten
PAPARKAN GAGASAN : Muchammad Agus Hanafi memaparkan rencana pendirian Kampung Autis di hadapan orang tau anak autis, baru-baru ini.(Suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN, suaramerdekasolo.com – Menjadi orang tua dengan anak autis tidak lah mudah. Autisme merupakan gangguan perkembangan menyeluruh (pervasive disorder) karena banyak perkembangan psikologi dasar anak yang terganggu secara bersamaan, seperti fungsi kognitif, emosi dan psikomotoriknya.

Anak-anak spesial itu membutuhkan perhatian yang lebih dari anak biasa. Mereka juga membutuhkan fasilitas khusus, baik fasilitas pendidikan maupun kesehatan. Yang terpenting, mereka membutuhkan lingkungan yang bisa menerima dan mendukung perkembangannya. Sayangnya, tak semua orang bisa menerima kehadiran anak autis.

Hal itu lah yang mendorong pemerhati dan pendiri Sekolah Khusus Autisme Fajar Nugraha Yogyakarta, Muchamad Agus Hanafi menggagas pendirian Kampung Autis. Dia sudah mendapat tawarkan tanah seluas 2 hektar di daerah Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Namun, untuk mewujudkan Kampung Autis butuh dukungan dari orang tua anak autis yang lain.

‘’Anak autis di seluruh dunia itu hidupnya di autis-autis centre, tapi di Indonesia sampai hri ini belum punya. Sudah beberapa kali dirintis tapi belum terwujud. Dengan Kampung Autis ini saya pengen mengumpulkan orang tua yang mempunyai anak autis untuk hidup bersama dalam satu kawasan,’’ kata Agus Hanafi.

Rencana lokasinya di di Klaten, yang dipandang cukup mudah dijangkau dari Solo maupun Yogyakarta. Di lahan seluas 2 hektar, akan dibangun rumah-rumah untuk transit. Masing-masing luasnya sekitar 80 meter persegi untuk dijual kepada ortu yang mempunyai anak autis. Yang tak punya anak autis, tidak boleh.

Dari 2 hektar lahan, ada 5000 meter persegi yang digunakan untuk kegiatan anak-anak seperti sanggar, peternakan, atau perkebunan. Anak-anak bisa melakukan hal mudah seperti memberi makan kambing atau lele. Untuk manajemennya akan dicarikan orang yang bisa mengelola kawasan itu.

‘’Orang tua yang mempunyai anak autis usia 20 tahun, banyak yang bingung harus bagaimana. Setelah Kampung autis terwujud, ya kalau bisa yang tinggal di situ, kalau tidak bisa yang minimal seminggu sekali tinggal untuk berdiskusi atau saling bertukar pengalaman dalam penanganan anak autis. Anak-anak berada di lingkungan tertutup dan terawasi,’’ ujar Agus Hanafi.

Sayangnya, untuk mewujudkan dia tak bisa sendirian. Harus ada sejumlah orang tua yang mau bersama-sama mewujudkan Kampung Autis, karena dibutuhan dana yang besar, terutama untuk membayar tanah seluas 2 hektar. Selain itu, untuk membangun rumah dan fasilitas. Nantinya, rumah itu menjadi hak milik orang tua yang membeli.

‘’Untuk mewujudkannya saya tidak bisa sendiri, harus gotong royong. Saya mengajak ortu lain sambil infak bisa sambil mewujudkan tempat ideal untuk mendidik anaknya. Diharapkan ortu tidak khawatir lagi, karena anaknya ada di lingkungan yang aman. Kampung autis semacam usaha bersama dan hasilnya dinikmati bersama,’’ tegas Agus Hanafi.

Pengelolaan usaha bersama akan dilakukan manajemen, anak-anak hanya memelihara kambing, sapi, lele dan tanaman yang menghasilkan. Dengan demikian, hidup anak-anak itu menjadi bermanfaat. Mereka juga berada di lingkungan yang bisa menerima kondisinya apa adanya.

Wacana itu pernah dilontarkan Agus Hanafi saat sarasehan ulang tahun Sekolah Khusus Autis Fajar Nugraha, 13 April 2019 lalu. Bahkan, beberapa orang tua yang mempunyai anak autis yang usianya sudah mulai dewasa. Mereka siap berinvestasi dan mengajak orang tua lain agar mencukung rencana tersebut.(Merawati Sunantri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here