Ritual Sadranan, Warga Gelar Doa Bersama

0
40
sadranan-boyolali
BERDERET: Sejumlah tenong berisi makanan diletakkan berderet saat tradisi sadranan di pemakaman Desa Sukabumi. (Suaramerdekasolo.com/Joko MUrdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Tradisi sadranan yang sejak tahun 1462 Masehi silam, hingga kini masih dilakukan warga di desa- desa di kawasan Kecamatan Cepogo. Tradisi tersebut dilakukan turun- temurun.

Yang menarik, tradisi sadranan digelar bergantian di setiap desa dimulai tanggal pertengahan bulan Ruwah pada penangalan Jawa. Jadwal tersebut sudah diumumkan kepada warga sejak jauh hari. Bahkan, jadwal sadranan juga disosialisasikan oleh Pemerintah Kecamatan Cepogo.

Di Desa Sukabumi, sadranan digelar Senin (22/4). Sejak pagi warga desa ini sudah membawa bakul atau tenong berisi aneka makanan untuk dibawa ke makam desa setempat yang sudah dibersihkan sehari sebelumnya.

Warga juga membawa rantang berisi nasi lengkap dengan lauk opor ayam dan sambal goreng. Ada pula kerupuk dan pelengkap lainnya, termasuk pisang serta aneka buah- buahan. Setelah warga berkumpul, dilakukan doa bersama dipimpin tokoh agama setempat.

Doa dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan agar arwah orang tua dan saudara yang telah meninggal dunia diberikan ampunan. Selain itu, arwahnya ditempatkan di surga. Sedangkan sanak famili yang amsih hidup diberikan kesehatan dan kemudahan mencari rezeki.

Usai doa bersama, makanan pun dimakan bersama. Bahkan, warga juga saling bertukar makanan. Bagi warga dari luar daerah yang tidak membawa makanan, tak perlu kecewa. Warga setempat dengan senang hati akan memberikan makanan yang dibawanya.

Usai ritual di makam, warga pun pulang ke rumah masing- masing. Namun, bukan berarti tradisi sadranan lantas berhenti. Para orang tua pun bersiap di rumah untuk menunggu kedatangan sanak famili yang akan silaturahmi.

Warga pun saling berkunjung ke rumah tetangga. Utamanya, yang berusia lebih muda, bakal berkunjung ke famili yang lebih tua. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada saudara yang lebih tua.

Menurut tokoh agama Desa Sukabumi, KH Masruri, tradisi sadranan sudah dikenal sejak tahun 1462 Masehi. Dimana masyarakat diingatkan oleh Nabi Muhammad agar mendoakan arwah orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

“Masyarakat juga diingatkan agar senantiasa menjalin silaturahmi antar saudara, famili dan tetangga,” katanya.

Camat Cepogo, Insan Adi Asmono mengungkapkan, tradisi sadranan terus dilakukan masyarakat hingga sekarang. Bahkan, pihaknya telah menggelar Grebeg Sadranan pada Minggu (14/4) yang diikuti perwakilan seluruh desa di Kecamatan Cepogo.

“Grebeg Sadranan sebagai upacara pembuka tradisi sadranan yang digelar bergantian di desa- desa di wilayah Cepogo,” ujarnya. (Jok Murdowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here