Wonogiri Belum Punya EWS Tsunami

EWS-Tsunami-wonogiri
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com- Hingga kini, belum ada sistem peringatan dini (early warning system/EWS) tsunami yang terpasang di pantai-pantai Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Alhasil, kesiapsiagaan menghadapi tsunami di pantai tersebut masih mengandalkan pengetahuan dan kearifan lokal.
 
Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri Bambang Haryanto mengakui saat ini belum ada EWS tsunami di Wonogiri. “Kami mencoba meminta EWS tsunami (kepada pemerintah pusat),” katanya saat Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Tsunami di Pantai Nampu, Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Minggu (28/4). 
 
Untuk saat ini, pihaknya berupaya lebih memaksimalkan pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengantisipasi bencana tersebut. “Kami tumbuhkan pengetahuan dan kearifan lokal,” ujarnya.
 
Salah satu contohnya adalah memperhatikan gejala-gejala tsunami yang ditunjukkan dengan fenomena menyusutnya air laut. “Kalau air laut menyusut atau surut secara tiba-tiba, harus segera lari ke tempat yang tinggi, jangan malah mendekati laut,” terangnya.
 
Simulasi tsunami
 
Perlu diketahui, panjang garis pantai laut selatan di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri sekitar sembilan kilometer. Adapun pantai yang rawan terdampak, antara lain  Pantai Nampu, Pantai Sembukan, dan Pantai Kalimirah yang sering dikunjungi wisatawan. Pantai tersebut berada di wilayah tiga desa, yaitu Desa Gunturharjo, Desa Gudangharjo dan Desa Paranggupito. 
 
Sementara itu, Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Tsunami di Pantai Nampu diisi dengan simulasi penanganan bencana tsunami. Pihaknya menjalankan skenario adanya gempa yang kemudian disusul tsunami ketika pantai dipenuhi pengunjung.
 
Simulasi diikuti warga, penjaga warung dan relawan yang berperan sebagai pengunjung. Dalam simulasi itu, sejumlah korban berjatuhan. Sementara, bantuan dari Kecamatan Paranggupito membutuhkan waktu sekitar setengah jam menuju lokasi bencana. Sedangkan bantuan dari Kabupaten Wonogiri membutuhkan waktu satu setengah jam ke lokasi bencana.
 
Oleh karenanya, relawan dan warga setempat digerakkan untuk penanganan awal. Setelah bantuan berdatangan, evakuasi korban dilaksanakan. Para warga diarahkan menuju ke beberapa titik kumpul. “Simulasi ini juga kami arahkan agar warga dan relawan bisa evakuasi mandiri dalam rangka kesiapsiagaan bencana,” katanya. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here