Pemilu di Indonesia Diapresiasi Berbagai Negara

0
60
BRM-Kusuma-Putra2
FOTO DIRI : Presiden ormas kebangsaan Front Pembela Pancasila ( FPP ), BRM Kusuma-Putra. (suaramerdekasolo.com/dok)

SOLO, suaramerdekasolo.com– Pilpres dan Pileg 2019 yang berlangsung secara serentak di Indonesia di akui secara umum sukses dan lancar, bahkan telah diapresiasi oleh berbagai negara di dunia.

Meski di beberapa daerah terdapat sejumah TPS harus melakukan pencoblosan ulang, namun secara akumulatif jumlahnya sangat kecil. Sehingga secara umum pelaksanaan pesta demokrasi 2019 berlangdung lancar.

Kesuksesan penyelenggaraan Pemilu 2019, menurut Pengacara yang tergabung di Peradi Kota Surakarta, BRM Kusuma Putra SH MH tidak terlepas peran serta seluruh pihak, baik lembaga penyelenggara Pemilu, aparat keamanan dan masyarakat yang antusias mengikuti pemilu di hari pencoblosan, pada Rabu (17/4).

Keberhasilan penyelenggaraan Pilpres dan Pileg di Kota Solo menurut tokoh muda yang juga Presiden ormas kebangsaan Front Pembela Pancasila ( FPP ) tersebut, merupakan bentuk kedewasaan warga masyarakat kota Solo di dalam mengikuti pesta demokrasi.

“Terbukti Solo tenang, aman dan damai,” tegas Kusuma dalam pernyataannya yang dirilis ke media, Senin (6/5).

 

Baca :Bupati : Pemilu Demokratis, Tidak Ada Indikasi Kecurangan

 

Kusuma Putra mengapresiasi lembaga penyelenggara Pemilu khususnya yang ada di kota Solo, baik KPU, Bawaslu, aparat keamanan TNI, POLRI dan lembaga lembaga lain. “Sebab dengan sepenuh hati mereka telah mencurahkan tenaga dan pikiranya selama masa kampanye, pencoblosan dan masa akhir rekapitulasi suara oleh KPU yang berlangsung aman dan lancar,” tambahnya.

Baca :  Lebar Surat Suara Jadi Kendala Sebagian Pemilih

Pesta demokrasi 2019 bagi Kusuma, tidak sekedar memilih wakil rakyat dan presiden secara serentak, tetapi juga sebagai proses pendewasaan rakyat Indonesia dalam menghadapi segala perbedaaan dalam pilihan.

”Karena belum ada negara di dunia yang mampu menggelar pesta demokrasi secara serentak dalam hari yang bersamaan dalam jumlah lebih dari 800.000 TPS dan di puluhan ribu pulau di seluruh Indonesia,” tandasnya.

Hal itu, kata Kusuma, menunjukan kedewasaan masyarakat Indonesia dalam berdemokrasi. Adanya beberapa permasalahan di lapangan, lanjut dia, bukan berarti sebuah parameter kegagalan. Justru dengan permasalahan yang muncul, seperti perlunya pencoblosan ulang sebagai bentuk introspeksi diri atas segala kekurangan. Dengan memperbaiki segala kekurangan, kata Kusuma, ke depannya diharapkan pesta demokrasi menjadi lebih baik lagi di masa depan.

”Manusia tidak ada yang sempurna, karena tiada lain kesempurnaan didunia, selain milik Tuhan Yang Maha Esa,” terang Kusuma dalam pernyataannya. (Sri Hartanto)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here