”….Ya Allah, Apakah Keraton Surakarta Hanya Sampai di Sini….”

istimewa-keraton
PIMPINAN DEMO : Pengalaman sebagai aktivis pada peristiwa reformasi di Solo, Mei 1998, Gusti Moeng memimpin kalangan pimpinan bebadan dan jajarannya berorasi pada demo penutupan Keraton Surakarta di depan Kori Kamandungan, beberapa waktu lalu. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Satu-satunya Jalan Hanya ke Mahkamah Konstitusi

SAAT-SAAT dalam situasi sulit sekarang ini, seakan kembali mengingatkan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertijah pada hari-hari terakhir menunggui ayahandanya, Sinuhun Paku Buwono XII yang sedang beristirahat karena sakit di sebuah tempat peristirahatan di kawasan objek wisata Tawangmangu, Karanganyar.

Selama beberapa hari menjelang wafatnya ”Sinuhun Amardika” di bulan Juni 2004 itu, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang akrab disapa Gusti Moeng itu, merasa begitu dekat dan banyak mendapat pesan serius dari Sinuhun tentang nasib keraton ke depan dan kesediaan Gusti Moeng bersama para saudaranya mewujudkan beberapa hal yang dicita-citakan Sinuhun namun belum kesampaian, di antaranya kembalinya Daerah Istimewa Surakarta (DIS).
Memang, apapun kondisinya, putra tertua raja dari garwa RAy Pradapaningrum yang bernama GRM Suryo Partono atau KGPH Hangabehi itu sudah jumeneng nata sebagai Sinuhun Paku Buwono XIII karena memang haknya secara adat paugeran internal masyarakat adat Karaton Mataram ing Surakarta. Tetapi, pesan-pesan khusus nan serius yang menyangkut nasib dan masa depan keraton, seakan diletakkan di pundak anak perempuan yang kini sangat membanggakan bagi lembaga masyarakat adat setempat maupun dalam cakupan yang lebih luas lintas batas negara.
Banyak persoalan yang dihadapi keraton, seakan dihadapkan kepadanya.Namun, hal serius yang selalu terngiang-ngiang di telinga di saat-saat berada dalam suasana ”tersingkir” dari keraton sebagai tempatnya membumi itu, adalah dua pesan almarhum ayahanda yaitu nasib keraton dan kembalinya DIS.
”Dalam perenungan saya akhir-akhir ini, terutama hari kedua memasuki bulan puasa ini, saya seperti diingatkan kembali pesan khusus sebelum Sinuhun seda (wafat). Sinuhun seakan berbisik menagih janji dan kesediaan memperjuangkan dua hal itu. Hingga dalam doa saya, sampailah saya bertanya kepada Allah. Ya Allah, masalah yang menimpa keraton kok seperti ini. Apakah keraton hanya sampai di sini….,” tutur Pengageng Sasana Wilapa versi bebadan (kabinet) 2004 yang juga menjabat Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN), menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, Kamis (9/5). 
Dua hal yang disebut Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu, salah satunya sangat sering disinggung Sinuhun Paku Buwono XII dalam berbagai kesempatan selama hidupnya, termasuk ketika diwawancarai para awak media. Deng singkat, almarhum menyebut Keraton Surakarta memang tinggal sebesar lingkaran payung mengembang atau sakmegroking payung, tetapi harus dipertahankan sampai kapanpun, bahkan bila memungkinkan dikembangkan.
Karena pesan itulah, dengan cerdas mantan penari Bedaya Ketawang yang menerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang 2012 itu membangkitkan kembali berbagai aktivitas seni budaya khas keraton, selain upacara adat yang ada. Aktivitas Sanggar Pawiyatan Beksa (tari), Sanggar Pawiyatan Dalang (pedalangan) dan Sanggar Pawiyatan Pasinaon Pambiwara (MC) mulai ditata, diaktifkan dan dilegalisasikan dengan badan hukum dengan Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta di tahun 1980-an.
Menyadari bahwa berbagai aktivitas upacara adat dan aktivitas seni budaya menjadi tanda dan nyawa lembaga Keraton Surakarta Hadiningrat, materi-materi itulah yang menjadi prioritas aktivasi dan pengembangan dalam tataran agar mudah dikenal dan berkomunikasi dengan dunia luar sebagai ciri khas dan salah satu ikon keraton. Sebab itu, tak salah Gusti Moeng menempuh pendidikan di Fakultas Sastra UNS untuk melengkapi kepedulian dan kemampuannya bersenyawa dengan nafas seni budaya khas keraton, hingga mampu menjadi koreografer handal untuk jenis-jenis tarian khas keraton.
Namun, Keraton Surakarta tetap saja sebuah lembaga masyarakat adat yang dianggap sama dengan keraton-keraton lain yang jumlahnya lebih 250-an tatkala NKRI diproklamasikan 17 Agustus 1945. Artinya, nasib keraton tetap saja hanya berbentuk aktivitas-aktivitas seni budaya, mulai dari tingalan jumenengan hingga kirab pusaka malam 1 Sura, lebih dari itu misalnya yang menyangkut kedaulatannya seperti disinggung dalam teks Proklamasi, ”tidak ada” atau ”ditiadakan” dan biarlah tetap sakmegroking payung.
Eksplorasi sejumlah tarian baik dari rumpun bedayan dan srimpen khas Keraton Surakarta yang jumlahnya belasan itu, hampir semuanya bisa direkonstruksi secara lengkap dan dipentaskan. Bahkan, ada dua repertoar tarian baru berhasil disusun, baik hasil rekonstruksi yang bernama dramatari Kilapawarna maupun tari Bedaya Suka Mulya.
Satu lagi pesan almarhum Sinuhun yang ditagih untuk diwujudkan, adalah kembalinya Provinsi DIS. Tahun 2012 Gusti Moeng yang didukung lembaga Pusat Studi Daerah Istimewa (Pusadi) Jogja, kalangan interlektual FISIP UGM dan UIN Jogja, melakukan uji materi (judicial review) UU No 10/1950 tentang pembentukan Provinsi Jateng ke Mahkamah Konstitusi (MK). Cara itu diyakini bisa melepaskan Surakarta dari Provinsi Jateng, karena dalam UU itu hanya disebut Jawa Tengah terdiri dari sejumlah kabupaten/kota ”dan” Surakarta, yang waktu itu posisinya sudah menjadi (provinsi) Daerah Istimewa Surakarta.
Namun perjuangan itu gagal, karena MK beralasan legal standing para pemohon tidak tepat atau bukan warga yang memiliki hak atas DIS. Pengalaman itu merupakan pelajaran berharga, yang belakangan menjadi satu-satunya jalan untuk memenuhi amanat Sinuhun Paku Buwono XII, setelah mencoba cara lain terlalu banyak yang dikorbankan tetapi tanpa hasil.
”Itulah alasan utama saya mundur dan tidak mau lagi berpolitik. Semula, menjadi anggota DPR RI (dua periode terpisah) bisa menjadikan jalan mengembalikan DIS. Tetapi politik memang politik, bukan cara ideal dan akomodatif. Satu-satunya cara ya hanya lewat MK. Saya berjuang sendirian, tak ada yang peduli. Mudah-mudahan Allah memberi jalan,” pintanya. (Won Poewono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here