3 Warga Meninggal karena DB

0
rakor-dbd-sragen2
KARANGANYAR, suaramerdekasolo.com. Tiga warga Karanganyar meninggal akibat penyakit demam berdarah (DB), pada periode Januari-April 2019. Satu orang meninggal pada Maret lalu di wilayah Kecamatan Gondangrejo, sementara dua orang meninggal pada April di wilayah Kecamatan Colomadu. 
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar Rita Sari Dewi mengatakan, rentang usia ketiganya antara 9 hingga 12 tahun. “Pada 2018 lalu, selama setahun jumlah korban meninggal karena DB juga tiga orang,” katanya. 
 
Menurutnya, jumlah kasus DB pada lima bulan pertama tahun ini,  meningkat empat kali lipat dibandingkan kasus selama 2018 lalu. 
Pada Januari hingga awal Mei tahun ini, jumlah kasus DB di Karanganyar sudah mencapai 333 kasus. Sedangkan selama setahun pada 2018 lalu, jumlah kasusnya hanya 78.  
“Total jumlah laporan gejala menyerupai DB, dari Januari hingga awal Mei sebanyak 535 kasus. Setelah dipilah, kasus DB-nya ada 333, dengan 13 kasus termasuk kategori Dengue Shock Syndrome (DSS),” jelasnya. 
DSS, menurutnya, adalah kondisi di mana pasien sudah tidak bisa merespons apapun. Jika terlambat ditangani, pasien pada tahap DSS rata-rata meninggal dunia. 
 
Penyebaran kasus DB pada tahun ini, menurut Rita, merata di sejumlah kecamatan. Kasus terbanyak di wilayah Kecamatan Karanganyar, Tasikmadu, Kebakkramat, Jaten, Gondangrejo dan Colomadu. 
Kasus DB juga muncul di Kecamatan Jatipuro, Jatiyoso, Jumapolo, Jumantono, Matesih, Ngargoyoso dan Tawangmangu. 
Karena iklimnya dingin, kasus di Tawangmangu dan Ngargoyoso mestinya tidak banyak. Tapi mobilisasi warga di situ cukup tinggi, baik karena sekolah maupun bekerja. Hal itu berpengaruh pada penyebaran DB. 
 
Menurut Rita, tim Bidang P2P DKK sudah melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di wilayah pegunungan, untuk mengecek keberadaan jentik nyamuk. Namun hasilnya nihil. Sedangkan di wilayah bawah, rata-rata positif atau ada jentik nyamuk.  
 
“Faktor cuaca berpengaruh pada perkembangbiakan nyamuk aedes aegepty. Kalau tahun kemarin kemaraunya panjang, tahun ini banyak hujan dari Desember sampai Mei,” jelasnya. 
 
Untuk mengantisipasi DB, Rita mengingatkan masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sebab, nyamuk aedes aegepty hidup di air yang bersih, sehingga masyarakat harus intensif melakukan pembersihan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. 
“Jangan sedikit-sedikit minta fogging. Fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Nyamuk kecilnya tetap berkembang. Lebih baik lakukan PSN, sehingga nyamuk tidak bisa berkembang biak,” tandasnya. 
 
Dia juga mengingatkan masyarakat agar waspada, jika ada anggota keluarganya yang mengalami suhu badan tinggi dengan ritme naik turun. 
“Panas orang yang kena DB itu naik turun, seperti pelana kuda. Hal itu berlangsung dalam hitungan hari. Perlu dicurigai. Amati pada panas kedua. Sampaikan pada dokter kondisi tersebut, agar bisa diketahui penyakitnya dan penanganan yang tepat,” imbuhnya. (Irfan Salafudin) 

Tinggalkan Pesan