Ngabuburit Ala Atlet Gantole

0
73
gantole-atlit
TERBANG: Dua atlet gantole terbang udara di atas karamba Waduk Gajahmungkur Wonogiri, akhir pekan lalu. Mereka ngabuburit dengan cara tetap latihan terbang. (Suaamerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

SOLO,Suaramerdekasolo.com – Kegiatan kalangan muslim bertambah pada bulan Ramadan. Intensitas beribadah yang dijalani sebagai suatu kewajiban, sudah pasti meningkat. Selain puasa, kaum muslim juga lazim menjalankan ibadah malam seperti shalat taraweh dan mengaji.

Demikian halnya para atlet gantole di wilayah eks Karesidenan Surakarta, di antaranya dari Solo, Karanganyar dan Klaten. Kewajiban-kewajiban beribadah sebagai umat Nabi Muhammad SAW, mereka laksanakan. Kendati demikian, kegiatan-kegiatan rutin termasuk berlatih demi menjaga kondisi fisik dan terus mengasah performa terbang, tidak ditinggalkan.

“Haus dan lapar bukan halangan untuk terus latihan terbang. Pada waktu-waktu longgar di akhir pekan, kami tetap mengasah diri demi mematangkan penguasaan terbang di kawasan Waduk Gajahmungkur, Wonogiri. Yah, sekalian memanfaatkan waktu secara positif, ngabuburit sebelum berbuka puasa,’’ kata Ketua Pengprov Gantole Jateng, Susetyoko “Stik”.

Sabtu-Minggu (11-12/5) lalu, misalnya. Lelaki yang juga atlet Karanganyar itu bersama sejumlah atlet dari Solo dan sekitarnya ngabuburit dengan latihan. Mereka tiba di launching ramp atau area take off sekitar pukul 10.30 WIB. Persiapan terbang dilakukan, membuka dan memasang segala peralatan pada layangan, cek hardnes, serta menjajal alat komunikasi.

Tidak ada air mineral yang menyegarkan tubuh dari rasa haus akibat sengatan matahari. Tak ada roti atau makanan cemilan yang terkadang menemani mereka prepare pada latihan hari-hari biasa di bukit berketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Menunggu

Persiapan di launching ramp yang masuk daerah Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri itu, rampung. Tapi mereka tidak bisa serta merta mulai terbang. Beberapa berteduh di bawah bangku istirahat, lainnya tiduran di bawah layangan yang sudah terkembang.

‘’Cuaca sebenarnya cukup bagus, awan rendah di beberapa titik tapi cukup jauh dari area terbang. Angin headwind atau bertiup dari arah depan, namun kecepatannya sangat rendah. Jadi terpaksa menunggu angin,’’ jelas atlet senior yang juga pelatih, Oke Andriyanto.

Hampit tiga jam menunggu, mereka akhirnya bisa terbang sekitar pukul 14.15 WIB. Meski demikian, kecepatan angin belum ideal seperti yang diharapkan. Tak ada geothermal besar yang dijumpai, sehingga para atlet, tak mampu terbang dalam durasi lama. Toh, seekor elang kemudian turut terbang berputar-putar menemani mereka ngabuburit di udara.

“Memang, sering ada elang yang turut menemani kami terbang. Saat puasa latihan kami hanya satu sortie (sekali terbang) karena harus menjaga tubuh agar tidak dehidrasi. Apalagi angin kurang bagus. Kalau hari-hari biasa, rata-rata per atlet dua sortie terbang hingga sore,’’ ujar atlet Solo, Sulis Widodo.

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here