Mengaku Rugi, Operator BST Minta Subsidi

0
bst-koridor-2
BERHENTI DI SELTER : Bus Batik Solo Trans (BST) Koridor 2 berhenti di selter Jalan Monginsidi, Solo. (suaramerdekasolo.com/Yusuf Gunawan)

SOLO, suaramerdekasolo.com – Manajemen PT Bengawan Solo Trans selaku operator tiga koridor Batik Solo Trans (BST) meminta subsidi dari Pemkot Surakarta, untuk mengoperasikan layanan angkutan umum massal tersebut. Perusahaan itu mengaku rugi, lantaran beaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan dari tiket penumpang.
Hal itu terungkap saat manajemen PT Bengawan Solo Trans berkoordinasi dengan Pemkot terkait layanan BST di Balai Kota, Kamis (16/5).
“PT Bengawan Solo Trans mohon dibantu operasionalnya, karena perkembangan sekarang tidak semakin membaik,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Hari Prihatno, usai pertemuan.
Hari menambahkan, permintaan subsidi dilatarbelakangi terus menurunnya tingkat keterisian penumpang Batik Solo Trans (BST) di tiga koridor.
“Istilahnya mereka (PT Bengawan Solo Trans) tombok. Sebab rata-rata penumpang hanya separuh dari kapasitas bus. Padahal layanan Koridor 1,2 dan 3 BST tetap dioperasikan seperti biasa.”
Saat ini jumlah bus berukuran sedang yang dioperasikan di Koridor 1 adalah 14 unit. Idealnya koridor tersebut dilayani 15 unit. Koridor 1 dikelola PT Bengawan Solo Trans sejak Pemkot mengambil alih wewenang operasional jalur tersebut dari Perum Damri pada awal Februari. Adapun di Koridor 2 dan 3 masing-masing dilayani 12 dan 20 unit bus.
Seluruh bus BST tersebut berukuran sedang, dengan kapasitas tempat duduk 21 penumpang dan 10 penumpang berdiri.
Hari tidak merinci kerugian yang dialami PT Bengawan Solo Trans maupun skema subsidi yang diminta manajemen, untuk tetap bisa menjalankan Koridor 1,2 dan 3 BST.
Direktur PT Bengawan Solo Trans, Farida Wardhatul Jannah, juga tidak banyak berkomentar terkait hasil rapat. “Langsung dengan Dishub saja. Lagipula sudah ada penyegaran pengurus di PT Bengawan Solo Trans,” katanya melalui pesan singkat. (Agustinus Ariawan)

Tinggalkan Pesan