Musik Jadi Bagian Kehidupan Kota Solo

musik-bagian-kehidupan-solo
PARKIRAN JAZZ:Salah sau kelompok musik jazz ketika tampil pada gelaran Parkiran Jazz di Balai Soedjatmoko, Kamis malam lalu. (suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)

TAK pelak lagi musik sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Kota Solo dalam dasawarsa terakhir ini. Hampir setiap pekan ada konser maupun pergelaran musik di sejumlah kantong seni yang tersebar di kota itu. Bahkan dalam setiap malamnya bisa dijumpai di hampir kampung hadr alunan musik entah tradisional maupun mudern.
Sejumlah kantong seni pun sudah me Bentarambuat jadwal rutin untuk menggelar musik. Sebut saja di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta(TBS), RRI Solo, maupun di Pasar Gede. Ada satu notempat yang kini terpaksa menghentikan aktivitas musiknya yaitu di pendapa joglo Taman Sriwedari.
Kantong seni yang selama ini cukup konsisten menggelar musik selain di TBS lewat sajian musik keroncong di pendapa ageng serta Bukan Musik Biasa(BMB) di WIsma Seni. Dua konser itu digelar setiap dua bulan sekali. Demikian juga di Balai Soedjatmoko Bentara budaya yang menjadi bagian dari Gramedia Grup itu. Setiap bulan sekai menggelar musik jazz atau blues scara bergantian.

Baca : Malam Minggu Besok, Keraton Gelar Dua Kali Malem Selikuran

Baca : Memaknai Welas Asih Lewat Kaligrafi

Kalau musik jazz yang dikemas lewat label Parkiran Jazz, karena digelar di area parkir digelar setiap bulan, sementara musik blues dkemas dalam label Blues On Stage. Menariknya, penikmat atau penonton sembari menikmati musik mereka bisa menikmati hidangan wedangan yang disediakan secara gratis.
Empat grup yang tampil malam itu semuabta daru Solo yaitu The Frame, Aditya Ong Quartet, Ganggeng Yudana And Safina Nadisa dan Coffee Jazz Project. Konser itu seakan menjadi ajang para pemusik jazz Kota Solo untuk berkiprah mengembangkan kemampuannya menampilkan dan mengaransir tembang=tembang jazz termasuk karya pribaing=masing pemusik muda Kota Solo.

musik-bagian-kehidupan-solo2

Konser Parkian Jazz yang sudah menapaki tahun kesembilan itu tampaknya tidak saja dimanfaatkan para pemusk Solo. Sejumlah komunitas serupa dari daerah sekitarnya serta dari Yogyakarta maupun Semarang. sepertinya juga sudah merasuk minat penggemarnya. Ini bisa dilihat dari seriap pentas musik jazz maupun blues maupun rock yang digelar Pemerintah Kota Surakarta itu selalu mndapat sambutan pnggemarnya.

Baca : Ngabuburit di Taman Bunga

Tidak hanya musik asing atau mddern saja yang mewarnai atmosfir Solo tetapi juga musik tradisional juga digemakan lewat konser gamelan. Konser musik tradsional itu memberikan ruang bagi komposer gamelan mengembangkan karya karyanya baik lewat garapan klasik maupun kontemporer.(Sri Wahjoedi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here