Satu-persatu Tokoh Penjaga Paugeran Itu Berpulang

0
tokoh-lembaga-adat-keraton-suraarta1
MANTU DALEM : KPH Satryo Hadinagoro yang meninggal 7 hari lalu, termasuk salah seorang mantu dalem Sinuhun Paku Buwono XII yang rela pasang badan menghadapi ''Raja Tandingan''. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tetap Bersemangat dan Peduli

KAMIS malam Jumat wage (23/5) lalu di kediaman calon anggota DPD RI GKR Ayu Koes Indriyah, ndalem Kayonan, Baluwarti dilangsungkan kenduri wilujengan untuk memperingati tujuh hari meninggalnya KPH Satryo Hadinagoro (73). Tahlil dan dzikir yang dipimpin abdi dalem juru donga KRT Pujo Setyonodipuro, sekaligus juga untuk mengantar doa bagi almarhum KGPH Kusumoyuda yang meninggal di tahun 2009 atau peringatan khol ke-10 tahun.
Upacara doa wilujengan yang dihadiri para kerabat perwakilan sentana darah dalem trah dari Sinuhun Amangkurat hingga Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), terutama para pengageng bebadan dan jajarannya. Tak ada sambutan atau pidato dari GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua LDA, tetapi hanya berbuka puasa bersama diteruskan doa, tahlil dan dzikir bersama-sama semua yang hadir sekitar 100-an orang.
”Jadi, ya memang hanya untuk mengirim doa saja kepada Kanjeng Satryo (KPH Satryo Hadinagoro) yang genap 7 hari sedanipun (meninggalnya-Red). Kebetulan kami jadikan satu dengan khol ke 10 Gusti Seno (KGPH Kusumoyudo). Mudah-mudahan ini menjadi momentum untuk tetap bersemangat melanjutkan perjuangan,” ujar Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, tadi pagi.
Dengan meninggalnya KPH Satryo Hadinagoro sebagai salah satu mantu dalem Sinuhun PB XII, Sabtu pagi (18/5), menjadi berkurang satu lagi kekuatan barisan para penjaga dan penegak paugeran atau adat-istiadat yang ada di internal lembaga masyarakat adat Keraton Surakarta penerus Dinasti Mataram. Tanggalnya para tokoh penjaga dan penegak paugeran yang pernah bersepakat dan bertekad bulat mendudukkan KGPH Hangabehi untuk jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII itu, sudah terjadi jauh sebelum situasi dan kondisi soliditas pewaris suksesi Sampeyan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XII itu dikoyak-koyak oleh unsur-unsur dari internal maupun eksternal.

Baca : Private: ”….Ya Allah, Apakah Keraton Surakarta Hanya Sampai di Sini….”

Baca : Posisi Para Penjaga Budaya Justru ”Right Man, No Place”

Kerabat besar yang berada di belakang Gusti Moeng, tentu merasa sangat kehilangan dengan meninggalnya suami GKR Galuh Kencana, kakak kandung Gusti Moeng yang juga adik kandung Sinuhun PB XIII yang lahir dari seorang ibu bernama KRAy Pradapaningrum, salah seorang istri Sinuhun PB XII. Namun bila dirunut, ada tokoh yang paling dulu dipanggil Sang Khalik setelah mengawal kerabat besar dalam mengantar KGPH Hangabehi jumeneng nata sebagai PB XIII.
Yang paling awal adalah BKPH Prabuwinoto, salah seorang cucu Paku Buwono X yang menguasai ikhwal seni budaya khas keraton itu, sangat loyal baik kepada PB XII maupun Gusti Moeng khususnya dalam soal menjaga dan menegakkan paugeran. Pengageng Mandra Budaya yang akrab disapa Eyang Prabu itu, meninggal di tahun 2005 di usia 70-an tahun, setahun setelah jumenengan PB XIII.
Berikut adalah kakak kandung Gusti Moeng yang bernama KGPH Kusumoyudo, yang meninggal di usia 62 tahun pada tahun 2009. Salah seorang adik kandung Sinuhun PB XIII itu ibarat sebagai Adipati atau panglima perang, yang berani pasang badan untuk membentengi kakaknya yang jumeneng nata sebagai PB XIII dari upaya ”kudeta” si Raja Tandingan atau ”Raja Kembar”.
Tokoh berikut yang tanggal, adalah GRAy Brotodiningrat yang dianggap salah seorang sesepuh yang sangat dekat dengan kerabat besar pimpinan Gusti Moeng. Salah seorang puteri dalem PB X itu meninggal di tahun 2010 di usia 80-an, yang beberapa saat kemudian disusul saudaranya seusia, putra dalem PB X, yaitu GPH Haryo Mataram. Keduanya, terutama putra dalem yang pernah menjabat rektor UNS pertama itu, adalah sangat concern dengan penegakan paugeran, maka keduanya sangat mendukung dan merestui bertahtanya KGPH Hangabehi.

Baca : Pakeliran Gaya Tegal di TBS Surakarta

Para tokoh sesepuh di atas, adalah deretan tokoh-tokoh keraton yang punya komitmen tinggi untuk menjaga dan penegakan paugeran, meskipun belakangan banyak di antara mereka yang mulai sedih dan kecewa. Tidak hanya karena adanya rongrongan ”si Raja Tandingan”, melainkan karena sikap PB XIII yang mulai mengingkari komitmennya dengan LDA dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin dan pengayom, kemudian diam-diam berkompromi dengan ”pihak lawan”, yang di dalamnya ada ”kompeni-kompeni masa kini” yang jelas-jelas telah melanggar paugeran (hukum adat).
Tak terkecuali tokoh sesepuh berikut, yaitu BPH Kusumo Wijoyo yang meninggal di tahun 2014 di usia 70-an. Salah seorang wayah dalem (cucu) PB XI itu, tak beda dengan beberapa tokoh yang sudah mendahuluinya, terutama sikapnya yang keukeuh dalam menjaga dan menegakkan hukum adat. Kepada Suaramerdekasolo.com pada suatu kesempatan sebelum meninggal, almarhum pernah mengecam tindakan siapa saja yang menginjak-injak dan ”merusak” hukum adat, dan mengibaratkan sebagai tindakan orang yang tidak beradab dan tidak layak mengaku sebagai bangsawan, apabila mereka itu masih kerabat.

Baca : Penerus Dinasti Mataram yang Selalu Dilanda Ontran-ontran (2)

Meski bukan kerabat sentana darah dalem, tetapi KPH Winarno Kusumo yang dipanggil Sang Khalik 2018 pada usia 70-an tahun, termasuk kehilangan besar bagi Gusti Moeng dan kerabat besar pengikutnya serta khalayak lebih luas lagi. Sebab, Wakil Pengageng Sasana Wilapa itu seperti menjadi tokoh terakhir dalam penguasaan pengetahuan tentang sejarah dan budaya Jawa setingkat di bawah Pujangga, sehingga kapasitasnya sebagai Humas atau juru penerang budaya dianggap meneruskan ketokohan KRMH Rio Yosodipuro.

”Yang baru saja (meninggal), ya kakak ipar saya, Kanjeng Satryo. Mereka mang sudah sangat besar jasanya, terutama untuk Sinuhun PB XIII, selain untuk keraton. Tapi itu hal yang biasa, karena pada saatnya semua akan dipanggil, kembali ke asalnya. Tetapi itu tidak membuat kami nglokro dan pesimis. Sebaliknya, malah menjadikan kami bersemangat dan optimis untuk terus berjuang, menjaga dan menegakkan paugeran. Melestarikan budaya (Jawa) dan menujaga eksistensi Keraton Surakarta. Kami harus peduli, karena itu semua tugas dan kewajiban kami,” ujar Gusti Moeng yakin. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan