Tiga TPS di Karanganyar Kota Ditutup

PASUKAN BERSIH : Bupati Juliyatmono berbincang dengan sejumlah petugas pemungut sampah, usai penutupan secara simbolis 3 TPS di wilayah Karanganyar kota, di area TPS Jungke, sebelah selatan Pasar Jungke, Rabu (29/5). (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)
KARANGANYAR, suaramerdekasolo.com Tiga lokasi tempat pembuangan sementara (TPS) di wilayah Karanganyar Kota, ditutup pengoperasiannya yakni TPS Jungke, TPS Jengglong dan TPS Nglano. 
Selanjutnya, sampah dari masyarakat diambil oleh petugas dengan tiga unit mobil khusus pengangkut sampah, untuk kemudian langsung dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari, Jumantono.
Secara simbolis, penutupan tiga TPS dilakukan Bupati Juliyatmono dengan menandatangani spanduk pengumuman penutupan di TPS Jungke, yang berlokasi di sebelah selatan Pasar Jungke, Rabu (29/5).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar Edy Yusworo mengatakan, TPS Jungke dan Jengglong ditutup total dan bekas lahannya akan digunakan untuk keperluan publik. Sedangkan TPS Nglano ditutup, karena lokasinya dipindah ke tanah kas desa di Desa Pandeyan, Kecamatan Tasikmadu.
“Masih ada dua TPS di wilayah kota, yang masih dipertahankan. Yakni TPS Tegalwinangun yang menampuh sebagian sampah di sektor timur, serta TPS Badranasri yang menampung sampah dari kawasan Karanganyar barat dan Papahan,” jelasnya.
Sebab, tiga unit mobil pengangkut sampah belum bisa menjangkau seluruh wilayah Karanganyar Kota. “Sementara baru empat kelurahan yang dikaver, yakni Bejen, Karanganyar, Cangakan dan Jungke,” tuturnya.
Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah dan Pengembangan Kapasitas Santoso menambahkan, tiga unit armada disebar untuk mengangkut sampah dari empat kelurahan tersebut, dengan jadwal pengambilan per rumah setiap dua hari sekali, maksimal tiga hari sekali. “Tiap armada mampu mengangkut sampah dari 300 rumah. Kapasitas per mobil 2 meter kubik, sekitar 1 sampai 1,5 ton,”
Bupati Juliyatmono mengatakan, penutupan TPS di wilayah kota karena secara estetika keberadannya tidak elok dipandang mata.
“Selain itu, sudah lama dikomplain warga, karena menimbulkan bau menyengat. Terkadang sampahnya luber karena overload. Sehingga perlu dicari solusi, bagaimana sampah bisa diangkut tanpa perlu dibuang dulu ke TPS,” tuturnya.  
Bekas lahan TPS, selanjutnya akan digunakan untuk keperluan publik. “Seperti bekas TPS Jungke, karena lokasinya dekat pasar, mungkin bisa dipakai untuk tempat parkir. Atau untuk ruang publik yang lain,” jelasnya.
Dia menambahkan, dengan penutupan 3 TPS tersebut, di wilayah kota sekarang sudah bersih dari persoalan sampah luber. Sedangkan sampah di wilayah desa, menurutnya, sudah diselesaikan dengan pembuangan ke TPS yang ada di tanah kas desa.
“Yang di desa, ke depan bisa diolah sampahnya. Yang plastik bisa dipilah, dijual lagi. Yang organik didaur ulang menjadi pupuk. Nanti akan dipenuhi sarana prasarana yang dibutuhkan, untuk penanganan sampah di desa,” imbuhnya. (Irfan Salafudin)
 

Tinggalkan Pesan