Kembali ke Asalnya, Maleman Pasa yang ”Terpukul Mundur” dari Kebon Raja

0
malam-pasa-keraton-solo2
PROSESI arak-arakan yang membawa hajad dalem tumpeng sewu Malem Selikuran tiba di depan gapura Masjid Agung untuk kemudian didadakan doa wilujengan sebagai puncak acara ritual lailatul qadar. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

MEMASUKI tahun keempat, event berlatar belakang religius berbalut budaya bernama Malem Selikuran, harus rela berlangsung tanpa keramaian macam pasar malam yang disebut Maleman Pasa, meski sudah terbiasa kembali ke habitat asalnya yaitu kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat. Upacara adat menyambut turunnya wahyu Illahi atau lailatul qadar harus terselenggara di Masjid Agung atau lailatul qadar tanpa keramaian pasar malam, setelah ”terpukul mundur” akibat berubahnya konsep peruntukan dan fungsi Taman Sriwedari.

Ritual keagamaan produk akulturasi antara Islam dan Budaya Jawa itu itu, lahir dan diinisiasi Sinuhun Paku Buwono X semasa pemerintahannya (1893-1939), yang semula dimaksudkan untuk meramaikan kebon binatang Kebon Raja, agar menjadi lengkap sebagai tempat lelangen atau tempat hiburan untuk berekreasi bagi rakyat, waktu itu.

Namun Suaramerdekasolo.com bersama Suara Merdeka mencatat, pada masa Orde Baru merupakan awal berubahnya fungsi dan konsep tempat lelangen itu, hingga puncaknya terjadi ketika pindahnya bonbin ke Taman Jurug di awal tahun 1980-an, dan menjadi keramaian Pekan Pariwisata Maleman Sriwedari (PPMS) mulai tahun 1985.

Baca : Pentas Nemlikuran Dimeriahkan Mahasiswa ISI

Baca : Tinggal Bergantung di Tangan Presiden

Pada perjalanan kemudian, ritual Malem Selikuran yang berlangsung bergantian dalam ”dua sesi” yang digelar dua lembaga berbeda, Sabtu malam (25/5) mulai selepas tarawih, menunjukkan perubahan yang luar biasa serta memperlihatkan suasana yang memprihatinkan. Karena, ritual yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta di sesi kedua, seakan menjadi simbol friksi yang selama ini terjadi di keraton dan tidak tampak tidak terselesaikan walau beberapa pejabat pemerintah bergantian turun tangan melakukan rekonsiliasi.
”Tradisi itu meneruskan yang pernah dilakukan Sinuhun Paku Buwono XII (1945-2004). Tujuannya sama, untuk meramaikan Kebon Raja (Taman Sriwedari-Red) sebagai tempat lelangen atau hiburan rakyat. Maka, pernah menggunakan nama Maleman Sriwedari (PPMS).

malam-pasa-keraton-solo5
SEKITAR pukul 23.00 WIB, prosesi arak-arakan yang membawa hajad dalem tumpeng sewu Malem Selikuran tiba kembali di Kori Kamandungan, untuk menuju Masjid Agung sebagai tempat menggelar puncak acara ritual lailatul qadar. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Setelah Kebon Raja atau Taman Sriwedari berubah fungsi dan peruntukkan serta bukan lagi sebagai tempat hiburan, keraton mengembalikan ritual itu ke asalnya, yaitu berakhir di Masjid Agung,” jelas KRA Budayaningrat yang malam itu bertugas membacakan riwayat lahirnya ritual Malem Selikuran, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com.

Baca : Lembaga Masyarakat Adat Keraton Surakarta Punya Hukum Adat

KRA Budayaningrat adalah salah seorang dwija (guru) pada Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, yang malam itu ditugasi Gusti Moeng untuk membacakan riwayat lahirnya Malem Selikuran pada upacara adat yang digelar LDA Keraton Surakarta pada ”sesi kedua” mulai sekitar pukul 22.00 hingga menjelang tengah malam pukul 00.00. Malam itu, ritual yang digelar GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Ketua LDA, mengambil giliran kedua atau terakhir setelah giliran pertama diambil penyelenggara upacara sejenis dari otoritas internal keraton.


Sebagai ilustrasi, ritual Malem Selikuran yang mengambil sesi pertama dari sisi peralatan pendukung memang tampak lebih lengkap, misalnya dihadirkannya unit gamelan Carabalen yang ditabuh secara live dan mobil atau berjalan, dari dalam keraton menuju Masjid Agung atau sebaliknya. Meskipun, gamelan yang dipikul di tengah iring-iringan pengarak hajad dalem Malem Seilkuran itu, tidak terlihat mengiringi aksi baris-berbaris para prajurit Panyutra, karena memang tidak ada unit prajurit bersenjatakan panah itu.
Plus-minus juga tampak di ritual hajad dalem Malem Selikuran yang digelar LDA Keraton Surakarta. Iring-iringan pembawa hajad dalem itu memang tidak tampak para abdi dalem memikul gamelan, yang tentu saja tidak ada pula prajurit Panyutra yang biasanya diiringi langkah gerak barisnya.

Baca : Malam Minggu Besok, Keraton Gelar Dua Kali Malem Selikuran

Namun, arak-arakan yang didukung sekitar 700 orang abdi dalem dan sentana darah dalem perwakilan trah anggota LDA, tetap konsisten mengambil rute mengelilingi lingkar dalam tembok baluwarti dulu sebelum menuju Masjid Agung.
Sepanjang jalan yang dilalui terutama ketika berjalan melingkari dalam tembok Baluwarti, arak-arakan prosesi itu cukup mengundang perhatian karena lantunan tembang salawat unit seni hadrah warga Baluwarti dan seni santiswaran abdi dalem Mandra Budaya yang seakan-akan bersahut-sahutan dengan korps musik prajurit keraton. Meski masing-masing memiliki plus-minus dalam citra visualnya, namun malam itu sama-sama memusatkan puncak ritual itu di Masjid Agung.
”Kali ini enggak ada gamelan Carabalen dan prajurit Panyutra enggak masalah.

malam-pasa-keraton-solo4
PROSESI arak-arakan yang membawa hajad dalem tumpeng sewu Malem Selikuran memasuki Kori Kamandungan untuk mengelilingi lingkar jalan Baluwarti pada pukul 22.00 WIB lebih, sebelum menuju tempat upacara Masjid Agung Keraton Surakarta. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Satu-persatu Tokoh Penjaga Paugeran Itu Berpulang

Karena situasinya masih prihatin. Tetapi yang jelas, baik di dalam maupun di luar keraton, sikap LDA sejak dulu hingga sekarang tetap jelas. Tetap menggelar upacara adat itu dan kembali memusatkan puncak upacaranya di Masjid Agung. Selain sedang ada kesibukan proyek, Taman Sriwedari ‘kan sudah dirubah fungsinya. Sekarang bukan lagi tempat hiburan seperti Kebon Raja yang diinginkan Sinuhun Paku Buwono X,” jelas Gusti Moeng kepada Suaramerdekasolo.com di tempat terpisah.
Memang, sejak kebon binatang yang ada di Kebon Raja dipindahkan ke Taman Jurug awal tahun 1980-an, fungsi lelangen atau hiburan tempat rekreasi bersejarah yang kemudian lebih dikenal dengan nama Taman Sriwedari itu mulai berubah. Karena kepentingan ekononomi modern untuk meningkatkan pendapatan daerah, puncak upacara adat Malem Selikuran yang sebelumnya selalu berlangsung di kupel segaran (bangunan kecil di tengah telaga) digeser ke Pendapa Joglo yang dibangun kemudian oleh Pemkot, hingga lambat-laun pasar malam pendukung lailatul qadar di eks Kebon Raja itu redup dan benar-benar mati di tahun 1990-an.

Baca : Pihak Luar Jangan Ikut Campur, Tetapi Hormati Norma Adat

Kini, Alun-alun Lor sudah empat tahunan ini disibukkan oleh kegiatan dagang Pasar Klewer. Fungsinya sebagai pusat dagang dan hiburan rakyat bersifat tradisional untuk menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW (Sekaten) dan Malem Selikuran berikut Garebeg Pasa (Idul Fitri), sudah kehilangan aura dan rohnya, karena digantikan dipenuhi kios-kios, aktivitas dagang dan parkir.
Sekilas, aktivitas dagang akibat relokasi Pasar Klewer yang disewa Pemkot Rp 2,5 M/tahun itu menguntungkan secara materi bagi kelompok tertentu yang berkuasa di Keraton Surakarta sekarang ini.

Tetapi, tak disadari sikap dan cara-cara mencari income seperti ini akan menjadi sarana bunuh diri bagi institusi keraton. Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) mencontohkan, income yang masuk sulit dipastikan tersalur ke aktivitas-aktivitas pemeliharaan aset fisik dan nonfisik untuk pelestarian seni budaya, padahal bangunan Sasana Pustaka nyaris runtuh dan naskah-naskah kuno tak ternilai di dalamnya, kini butuh penyelamatan yang serius. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan