Macet Saat Mudik, Bahu Jalan Tol Bukan Tempat istirahat

rest-area-djoko-setijowarno
FOTO ILUSTRASI

HARI pertama mudik lebaran ditandai antrian panjang di GT Cikarang Utama. Dampaknya, beberapa pemudik butuh waktu sekitar 10 jam hibgga Brebes. Sudah diduga sebelumnya, rest area akan menjadi sumber kemacetan di tol. Sepanjang Tol Jakarta Cikampek yg dalan kondisi normal cuma satu jam, tapi pemudik sudah memilih singgah di rest area.

Bisa jadi singgah tersebut buksn untuk istirahat, akan tetapi hanya untuk ketemu saudara atau kerabat untuk berangkat bersama mudik beriringan. Karena berasal dari Jabodetabek, bertemunya di rest area sepanjang Jakarta-Cikampek. Dengan waktu tempuh satu jam, seyogyanya dapat beristirahat di res area Tol Cipali. Menuju masuk rest area terjadi antrian panjang juga.

Ke depan GT yang berada di ruas tol memang harus dihilang. Digantikan teknologi baru seperti halnya di beberapa tol di mamcanegara. Pilihan menggunakan OBU, RFID atau yang lain masih dapat didiskusikan lebih lanjut.

Baca : Pakar Transpartasi ini Desak Kapasitas Kapal Laut Ditambah

Baca : Ini Perkiraan Jumlah Puncak Kendaraan Masuk Tol Solo-Ngawi

Transaksi pembayaran sudah tidak di ruas tol, semuanya beralih di pintu keluar masuk tol. Antrian akan panjang akan terjadi bukan di ruas tol lagi. Masih banyaknya pemudik yang menggunakan bahu jalan untuk beristirahat. Hal ini turut menghambat perjalanan.

Kepolisian sebaiknya dapat memfungsikan bahu jalan tol seperti sedia kala. Walau hanya untuk berbuka puasa pun tidak diijinkan beristirahat di bahu jalan tol. Buka puasa dapat dilakukan di atas kendaraan yang sedang berjalan. Lain halnya dengan roda dua. Jangan sampai ada jargon baru TOL serasa NON TOL. Padahal sudah membayar untuk mendapatkan kenyamanan.

Istirahat Keluar tol 

Keberadaan rest area di tol memang tidak akan mencukupi saat musim mudik dan balik lebaran setiap tahun. Dan tidak bijak memaksa BUJT untuk menambah rest area baru yang hanya digunakan selama dua minggu. Investasinya cukup mahal. Oleh sebab itu imbauan untuk memilih kekuar tol bisa lebih diintensifkan lagi.

Di jalan non tol juga tersedia banyak kuliner dan tempat istirahat yang memadai. Pemudik juga ikut membangun ekonomi masyarajat di sepanjang jalan non tol. Belum lagi jika terjadi kecelakaan laku lintas di jalan tol. Mobil yang akan melakukan pertolongan padati tidak bisa lewat bahu jalan yang sudah terisi penuh kendaraan yang beristirahat.

Baca : Perhatikan Jalur Non- Tol

Alhasil, penanganan kecelakaan tidak bisa segera dilakukan. Terhambat kendaraan yang beristirahat tersebut. Kemacetan bisa jadi berkepanjangan. Memang harus dibutuhkan kepatuhan pemudik yang bijak untuk memakai jalan tol.

djoko-setijowarno-mti

Eforia publik memakai tol saat mudik tahun ini memang cukup tinggi. Biasanya bisnis persewaan mobil di Jateng, DIY dan Jatim bisa memanen keuntungan cukup besar, karena cukup banyak yang memesan. Untuk tahun ini masih harus lebih cerdas lagi berupaya menarik konsumen mudik.

Sistem searah atau one way cukup membantu melancarkan arus mudik. Cuma jumlah kendaraan yang mudik juga masih tetap tinggi. Idealnya, menurut hasil kajian Menko. Ekonomi tahun 2008, memerlukan 8 lajur biar lancar. Tetapi tidak mungkin disediakan hanya untuk dua minggu. Jadi, saat mudik dan balik memang tidak senyanan seperti kondisi biasa. Namun bisa lancar dan selamat tiba di tujuan menjadi harapan semua. 

Penulis : Djoko Setijowarno, pengamat transportasi sekaligus akademisi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here