Tangkal Radikalisme Melalui Wayang Kulit

0
wayang-tangkal-radikalisme
TOKOH WAYANG - Ketua Pepadi Jateng Untung Wiyono menyerahkan tokoh wayang Rama Wijaya kepada dalang Ki Suryanto Purbocarito, disaksikan Sekda Pemprov Jateng Sri Puryono, dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni, saat pentas di Taman Ndayu, Desa Saradan, Karangmalang, Sragen, Sabtu (1/6) lalu.(suaramerdekasolo.com/Anindito AN)

PENDAPA Taman Ndayu di Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang, Sragen Sabtu (1/6) malam lalu terlihat hingar bingar dan diwarnai canda tawa. Betapa tidak. Sebab, Safari Ramadan Paguyuban Dalang Surakarta (Padasuka) itu mementaskan wayang kulit di sisipi sajian lawak Cak Kirun dan Sugiarto Gareng yang memukau penonton. Sekitar 600 penonton dibuat terpingkal dengan aksi duet pelawak Kirun – Sugiarto Gareng asal Semarang itu.

Hadir 39 dalang anggota Padasuka. Diantara dalang itu tampil sebagai pengrawit. Ada yang memainkan alat musik rebab, saron, bonang penerus maupun gong. Empat dalang wanita berparas cantik, tampil sebagai pesinden yang mempermanis panorama panggung.

”Pentas kali ini yang terakhir atau pentas keenam dari Safari Budaya Padasuka digelar di bulan Ramadan,” ungkap Sugeng Nugroho, Sekretaris Padasuka.

Kehadiran Dalang Kondang Ki Manteb Soedharsono, Ki Warseno Slenk, KGPHA Benowo, Ki Purbo Asmoro semakin meneguhkan kalau pentas wayang kulit itu layak ditonton. Pentas wayang kulit dengan Lakon ”Sang Kumbokarno” dibawakan dalang Ki Suryanto Purbocarito, dilanjutkan KGPHA Benowo dan Ki Tomo Pandoyo. Hadir Sekda Provinsi Jateng Sri Puryono, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Bupati Sepuh Untung Wiyono yang Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jateng.

Baca : Didata Ulang, 17 Kotak Anak Wayang Koleksi Keraton Surakarta

Baca : Sang Maestro Sungging Wayang Beber yang Dipaido

Sri Puryono mengapresiasi pentas wayang kulit itu untuk menghibur masyarakat. Namun Sri Puryono berpesan agar masyarakat jangan membuat tafsiran sendiri tentang suatu persoalan dan menanggapi persoalan di Sragen melalui media sosial. Yuni, panggilan akrab Bupati Sragen mengakui sering menghubungi Sri Puryono untuk membantu perbaikan jalan rusak di Sragen. ”Ora esuk, ora awan utawa bengi…mbak Yuni sering nelpun saya, minta jalan provinsi di Sragen yang rusak diperbaiki,” tutur Sri Puryono sembari tersenyum. Bupati Yuni terlihat duduk santai sambil menahan tawanya.

Tangkal Radikalisme

Pimpinan Padasuka KGPHA Benowo mengatakan Safari Ramadan Padasuka itu digelar pertama di rumah Pitoyo Adi Carito di Ngemplak, Kaliwungu, Semarang (11/5). Pentas kedua diundang H Kondang Sutrisno (Ketua Umum Pepadi Pusat) di Hotel Marakas, Jakarta (18/5). Selanjutnya di Bali Ndeso Resto di Ngargoyoso atas undangan Bupati Yuliatmono(23/5). Berikutnya pentas di Sine Ngawi undangan Ki Dalang Suparno Wonokromo (25/5) dan pentas di Joglo Tumiyono, Bayat, Klaten (wayangan dua kelir) serta terakhir di Taman Ndayu atas undangan Ketua Pepadi Jateng Untung Wiyono, Sabtu (1/6) lalu. Selama Ramadan, semua dalang anggota Padasuka libur tidak menerima job ndalang.
”Pentas ini diadakan untuk mendekatkan diri dan menghibur masyarakat,” tuturnya. Dalang yang tampil pun tidak dibayar seperti saat tampil sebagai dalang profesional.

Baca : Wayang Kulit Semarakkan Peresmian Pasar Purwantoro

Ketua Pepadi Jateng Untung Wiyono mengundang pentas wayang kulit untuk syukuran memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni dan HUT Ke-273 Kabupaten Sragen. Juga syukuran karena Pileg dan Pilpres 27 Mei lalu di Sragen aman dan lancar. Dikatakan wayang kulit itu menjadi penangkal ampuh paham radikalisme. ”Selama masih ada sinden, dalang dan pentas wayang kulit, radikalisme tidak akan ada di bumi Indonesia,” tutur mantan Bupati Sragen yang sering disebut Bupati Sepuh itu.

Dikatakan paham radikalisme bisa merusak tatanan budaya yang sudah ada. Sehingga sudah selayaknya jika Pepadi Jateng nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa, termasuk wayang kulit. Bupati Sepuh itu mengungkapkan, wayang kulit akan tetap ada sampai akhir zaman.(Anindito AN)

Tinggalkan Pesan