THR Abdidalem dari Rp 170 Ribu hingga Rp 700 Ribu

0
keraton-surakarta-bagikan-thr3
GUSTI MOENG menyaksikan ketika puteri Sinuhun Paku Buwono XIII, GKR Timoer Rumbai menyerahkan bingkisan secara simbolis kepada abdidalem prajurit dan abdidalem keparak, dalam acara buka puasa bersama di Sitinggil Lor, kemarin petang. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Pelestari Budaya Pasti Hidup Tenteram

TRADISI memberi tali asih berupa tunjangan hari raya (THR), bukan milik lembaga perusahaan atau instansi pemerintah/swasta semata. Sebagai kerajaan Islam penerus Dinasti Mataram yang didirikan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Keraton Mataram ing Surakarta Hadiningrat tetap melestarikan tradisi keagamaan yang disebut zakat dan fitrah tetapi secara adat lebih dikenal dengan sebutan tulah atau kekucah berupa uang.

”Tetapi yang untuk ke Masjid Agung ada sendiri, sampai sekarang tidak pernah putus. Yaitu berupa uang dan beras atau zakat fitrah. La yang ini (tulah/kekucah) untuk kalangan abdidalem (garap-Red). Besarnya ya 1 (satu) kali gaji.

Baca : Peringatan HTD Kali Ini, Keraton Surakarta Hadir

Yang terendah Rp 170 ribu, dan yang tertinggi Rp 700 ribu. Nilainya jauh dari THR yang diterima karyawan perusahaan sesuai UMR atau UMK. Tetapi memang itulah kemampuan kami,” jelas GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta menjawab pertanyaan para wartawan di Sitinggil Lor, kemarin petang.

Memang sepertinya tidak masuk akal bila melihat nilai tulah atau kekucah kalangan abdidalem, bila dibandingkan dengan besaran THR yang diterima masyarakat kebanyakan, baik sebagai karyawan perusahaan atau instansi pemerintah/swasta. Tetapi bagi kalangan abdidalem, THR yang hanya sebesar 1 kali gaji yang jumlahnya antara Rp 170 ribu hingga Rp 700 ribu, baginya merupakan berkah yang diterima dengan sukacita dan penuh keikhlasan, bahkan disertai dengan rasa syukur untuk tetap tulus mengabdi di keraton.

Baca : Malam Minggu Besok, Keraton Gelar Dua Kali Malem Selikuran

Baca : Setelah 10 Kali Nyalon, Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Akhirnya Jadi Kades

Wajah-wajah penuh sukacita dan bangga itulah yang diperlihatkan sekitar 400 dari lebih 500 abdidalem garap atau pegawai keraton, yang hadir dalam acara berbuka puasa bersama di Pendapa Sitinggil Lor, Keraton Surakarta, kemarin petang. Ada 50-an abdi dalem dari luar kota seperti Imogiri (Jogja) dan Tegalarum (Slawi) yang hanya diwakili beberapa orang, untuk mengambil tulah atau kekucah serta bingkisan tas kain hijau berisi aneka macam kebutuhan pokok.

”Kami tidak pernah memandang berapa yang kami terima, dan apa isi bingkisan itu. Apapun yang kami terima dari Tuhan melalui Keraton Surakarta, adalah rezeki yang ngrejekeni. Jadi, kami sangat mensyukuri paringdalem, apa saja wujudnya. Nyatanya sudah 20-an tahun sampai sekarang, kami tetap setia suwita di keraton,” ujar KRA Budayaningrat, seorang abdidalem dari Sanggar Pasinaon Pambiwara, menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, petang itu.

keraton-surakarta-bagikanthr2
GUSTI MOENG menyerahkan bingkisan lebaran selain tulah/kekucah (THR), secara simbolis kepada BPH Broto Adiningrat mewakili kalangan sentanadalem, dalam acara buka puasa bersama di Sitinggil Lor, kemarin petang. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Memang, sejak Sinuhun Paku Buwono XII menggabungkan wilayah Keraton Surakarta ke dalam NKRI sejak 17 Agustus 1945, situasi dan kondisi ekonomi internal lembaga masyarakat adat itu faktanya secara umum tidak semakin baik. Yang terjadi justru sebaliknya, seiring hilangnya aset-aset ekonomi yang begitu frontal dan banyak jumlahnya, hingga keraton seperti ”terpaksa” hanya bisa berharap dari kesadaran negara/pemerintah untuk memikirkan kesejahteraan dan pemeliharaan aset-aset bersejarah yang tersisa.

Baca : Disingkirkan dari Keraton Bukan Berati Diam dan tak Berkarya

Karena kondisi itulah, pejabat Pengageng Sasana Wilapa (2004-kini) yang akrab disapa Gusti Moeng mengakui, keraton maupun LDA yang dipimpinnya belum mampu menyejahterakan kalangan abdidalem garap dan kerabatnya sesuai perkembangan situasi dan kondisi sekarang ini. Salah satu penyebabnya, karena negara/pemerintah tidak menjalankan Peraturan Presiden (Perpres) RI No 29 tahun 1964 tentang bantuan berupa uang kepada abdi dalem dan pensiunan abdi dalem Keraton Surakarta dengan baik sesuai amanat konstitusi.

Seandainya negara/pemerintah tidak ingkar, kalangan kerabat besar di Keraton Surakarta rata-rata pasti sudah sejahtera, atau bisa mengimbangi kondisi secara umum, bahkan bisa memelihara aset-aset keraton dengan baik. Meski begitu, ustadz Suparman saat mengisi tausyiah buka bersama di Sitinggil Lor petang itu merasa yakin, bahwa siapa saja yang tetap mengabdi di keraton dengan tulus ikhlas, hidupnya jauh lebih tenteram.

Baca : Semarakkan Pembukaan Hari Tari Dunia, Tari Bedaya Sukamulya menjadi Konsumsi di Luar Keraton

keraton-surakarta-bagikan-thrt
GUSTI MOENG menjelaskan kepada para wartawan mengenai pembagian tulah atau kekucah atau THR dan bingkisan kepada kalangan abdidalem garap, dalam acara buka puasa bersama di Sitinggil Lor, kemarin petang. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Saya yakin, di Keraton Surakarta ini adalah tempat para pelestari seni budaya yang mengabdi dengan tulus ikhlas dan nrima. Saya banyak mempelajari, bahwa dalam budaya Jawa itu terkandung banyak sekali ajaran Islam. Sebab itu, saya belum pernah mendengar ada abdidalem ditangkap KPK. Karena mereka itu bukan orang-orang kaya, serakah dan bukan orang-orang yang tidak punya malu, yang masih bisa tersenyum walau memakai baju oranyenya KPK,” seloroh Suparman yang mengutip Serat Kalatidha karya RNg Ranggawarsita yang disebutnya sarat ajaran Islam, ketika menjelaskan bagaimana wong Jawa menyikapi ibadah puasa. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan