Viral di Medsos, Tarif Masuk Rawa Jombor Rp 5.000 Disoal

0
51
tarif-masuk-rawa-jombor
KARCIS MASUK: Lembaran karcis objek wisata Rawa Jombor sebesar Rp 5.000 menjadi polemik di masyarakat. (suaramerdekasolo.com/Achmad Hussain)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Tarif masuk tradisi Syawalan di objek wisata Rawa Jombor di Kecamatan Bayat menjadi sorotan warga net. Pasalnya tarikan tarif Rp 5.000 per orang juga menyasar warga yang tidak hendak menghadiri tradisi syawalan.
Akun atas nama Ika Rahmawati Nurjanah menceritakan bahwa beberapa tamu dan saudaranya yang menghadiri acara pernikahannya saat melintas di jalan menuju kawasan wisata tersebut diminta uang karcis. Padahal rombongan tamunya itu jelas memakai kebaya dan membawa undangan pernikahannya.

Meskipun undangan pernihakan diperlihatkan tetap saja ditarik uang karcis Rp 5.000 per orang.

” Kalau satu mobil isi enam orang @ 5000 udah Rp 30 ribu padahal cuma lewat,” tulisnya.

Baca : Ular Piton Empat Meter Gegerkan Rawa Jombor

Baca : Hardiknas, Bupati Serahkan Hadiah Guru Berprestasi

Postingan itu pun menjadi viral dengan beragam tanggapan masyarakat. Mayoritas warga menyesalkan kejadian itu. Kiriman cerita warga itu membuat polemik soal Rawa Jombor semakin ramai di media sosial. Sebab sehari sebelumnya ada postingan yang menyesalkan penarikan di portal Rp 5.000 tersebut.

Warga mengeluhkan setelah membayar uang tiket masuk, portal jalan tidak dibuka. Bahkan pengunjung yang menggunakan sepeda motor dilewatkan tepi jalan yang berada di pinggir rawa. Dua postingan itu viral dan menjadi tranding topic warga net dengan dikomentari ribuan warga. Sampai ada yang membuat berbagai tagar bernada protes sebab selama ini tidak ada penambahan fasilitas di kawasan itu.

Baca :  Disiapkan Tim Ganjal Ban Di Tawangmangu

Dasar Perda

Menyikapi polemik itu, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Pemkab Klaten langsung turun tangan mengecek ke lokasi. Dinas memastikan tiket masuk objek rawa tetap Rp 2.500 per orang sesuai Perda nomor 19 tahun 2011. Sedangkan Rp 5.000 merupakan harga tiket masuk acara Syawalan di utara rawa yang terdapat berbagai hiburan, termasuk pentas musik.

Koordinator Aliansi Rakyat Anti Korupsi Kabupaten Klaten (ARAKK), Abdul Muslih mengatakan regulasinya sudah ada tetapi implementasi di lapangan harus dikontrol. Penerapannya harus tepat sasaran sehingga jangan sampai orang hendak lewat juga kena karcis.

Baca : Menuju WBS, PA Klaten Canangkan Zona Integritas

” Harus ada jalur alterntif bagi pengguna jalan yang tidak akan ke lokasi acara,” katanya, Senin (10/6).

Selain itu harus ada transparani pendapatan. Berapa karcis tercetak dan yang masuk ke kas daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Pemkab Klaten, Pantoro mengungkapkan pengelolaan retribusi rawa didasarkan MoU antara Pemkab dan Pemprov Jateng tahun 2005 dan Perda 19 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha.

Baca :  Pemkab Klaten Gandeng BATAN Kembangkan Padi Unggul

” Pada even Syawalan, Dinas mengadakan kerjasama dengan pihak ketiga sebagai wujud peran serta masyarakat,” ungkapnya. Pendapatannya disetor ke kas daerah sebagai pendapatan asli daerah (PAD). Kepala Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Nurdin menjelaskan penarikan itu desa tidak terlibat sebab dilaksanakan oleh Pemkab Klaten. Dirinya justru setuju jika portal dihilangkan agar kunjungan wisata ke rawa semakin ramai. (Achmad Hussain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here