Saat Pemudik Dihibur Pentas Wayang Orang

0
35
wayang-orang-sriwedari
WO SRIWEDARI:Salah satu adegan pergelaran WO Sriwedari pada malam Lebaran di gedung WO Sriwedari.(suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)

*Kebingungan Masuk Sriwedari

SOLO,suaramerdekasolo.com-Ratusan pemudik merasa kebingungan ketika hendak masuk Taman Sriwedari untuk menyaksikan pergelaran wayang orang(WO). Pintu masuk utama taman yang berada di sisi utara tepat di selatan Jalan Slamet Riyadi ditutup. Penutupan pintu masuk itu sehubungan pembangunan masjid raya Kota Solo yang berada di sisi barat berdekatan dengan Stadion R Maladi.
Kebingungan itu membuat para pemudik terpaksa mencari-cari jalan masuk menuju gedung WO lewat pintu selatan. Malah ada puluhan yang semula hendak menyaksikan akhirnya batal karena tidak tahu jalan masuknya.
Meski begitu, selama dua malam Lebaran, 5-6 Juni pergelaran WO Sriwedari tetap pentas menghibur penonton yang sebagian besar para pemudik. Setiap malam lebih setengah kapasitas tempat duduk di gedung itu dipadati. Untuk mendapatkan tempat duduk, ada sejumlah penonton yang sudah memesan tiket melalui telepon. Namun banyak yang langsung membeli saat sampai di gedung.
Bagi para pemain WO yang merupakan karyawan Pemerintah Kota Surakarta baik yang berstatus PNS maupun Tenaga Kerja Perjanjian Kerja(TKPK) memang tetap menjalani tugasnya untuk tampil di panggung.

Baca : Ini Alasan Maestro Pelestari Wayang Beber Ngebut Nyungging 25 Lukisan

Baca : Memenangkan Persaingan dengan Modal Seni Budaya

Sebagai bagian karyawan bidang pelayanan masyarakat, mereka dituntut untuk memberikan hiburan kepada masyarakat khususnya para pemudik yang pulang kampung. Ketika karyawan lain libur, bagi para pemain, tidak ada waktu libur meski hari Lebaran atau bakdan.
”Memang selama bakdan berlangsung kami tetap pentas. Para pemain sudah berlebaran pada siang harinya. Sedang malamnya tetap main. Kami libur pada saat malam takbiran,” kata koordinator WO Sriwedari, Agus Prasetyo.
Meski tidak libur, para pemain menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka bergiliran agar pementasan bisa berlangsung meski ada yang cuti maupun izin. ”Kami koordinasikan agar tetap pentas meski tidak semua pemain bisa masuk. Pemain digilir sehingga bisa memenuhi pentas selama dua malam,” tambahnya.
Menurut Kepala Bidang Kesenian, Sejarah dan Sastra Dinas Kebudayaan Solo, Mareta, aktivitas kerja para pemain pada saat Lebaran dianggap lembur. Pemain yang berstatus kontrak(TKPK) mendapatkan konpensasi lembur Rp 150 ribu, sementara PNS tidak mendapatkan honor lembur.
”Bagi yang berstatus ASN sudah menjadi tugasnya sehingga tidak mendapatkan lemburan,” tambahnya.
Saat ini WO Sriwedari hanya mempekerjakan 24 PNS selebihnya sekitar 30 pemain merupakan TKPK atau kontrakan. Bisa jadi, ketika para PNS itu pensiun, WO Sriwedari hanya akan diperkuat seniman TKPK.
”Dua tahun lalu Pak Wali(Wali Kota Surakarta) sudah berusaha untuk mengajukan CPNS untuk pemain WO Sriwedari ke pemerintah pusat namun tidak berhasil.”
Ditambahkan, kemungkinan untuk bisa menambah pemain melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan status tenaga kebudayaan. Pengajuan lewat Pemkot memang akan sulit dipenuhi karena peraturan pengangkatan PNS berlaku umum secara nasional. ”Sementara untuk pemain WO kan harus melalui tes keterampilan khusus tidak seperti ketentuan tes PNS lainnya,”ujarnya.

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here