Bakda Kupat, Ternak Diarak Keliling Kampung

0
50
bakda-kupat-boyolali
KELILING KAMPUNG: Warga mengarak ternak miliknya berkeliling kampung saat bakda sapi di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali. (suaramerdekasolo.com/oko Murdowo)

TRADISI unik masih diuri- uri warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk dalam tradisi syawalan atau bakdo kupat, Rabu (12/6). Tradisi kupatan diwarnai dengan kegiatan warga mengarak ternak keliling kampung.

Uniknya lagi, ternak sapi dan kambing tersebut dipasang kalung ketupat matang. Selanjutnya, ternak diarak atu istilah warga setempat dijalak-jalakke atau digiring keliling kampung. Seluruh ternak yang mayoritas sapi perah itu juga diberi makan ketupat.

Tradisi yang sudah turun-temurun sejak nenek moyang itu, dilakukan warga pada puncak acara bakda kupat atau hari ke tujuh pasca Lebaran. Ratusan ekor sapi dan kambing milik para warga pun tampak memenuhi jalan-jalan kampung.

Baca : Dikunjungi Puluhan Ribu Orang, Bakdan Ing Balekambang Ditutup Performa Didi Kempot

Baca : Saat Pemudik Dihibur Pentas Wayang Orang

Acara tradisi kupatan diawali dengan kenduri pukul 06.00 yang digelar warga disetiap RT masing-masing. Setiap keluarga datang dengan membawa ketupat, lengkap dengan sayur sambel goreng dan opor ayam. Selanjutnya, dilakukan doa yang dipimpin tokoh atau pemuka agama.

Wujud syukur 

Usai kenduri, kemudian warga pulang untuk mengeluarkan ternak sapinya dari kandang dijalak-jalakke keliling kampung. Sebelum dibawa keliling kampung, hewan ternak itu dikombor atau diberi minum terlebih dahulu serta diberi makan ketupat. Selanjutnya, ternak dikumpulkan di perempatan kampung untuk dibawa keliling kampung.

Ketua Rw 04 Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Hadi Sutarno mengungkapkan,  tradisi tersebut merupakan tradisi turun- temurun sejak jaman dulu. Hal ini juga sebagai wujud syukur warga kepada Allah SWT, karena dengan hewan ternak tersebut, warga mendapatkan rezeki untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Baca : Mudik Lebaran, Jokowi dan Keluarga Bernostalgia Suasana Solo

“Ini untuk nguri-uri atau melestarikan kebudayaan nenek moyang yang sudah berjalan turun-temurun,” katanya.

Salah satu pengunjung, Ahmad (23) warga Kartasura, Kabupaten Sukoharjo mengaku senang melihat acara tersebut. Dia berharap acara bisa dikemas lebih bagus sehingga semakin menarik minat para pengunjung. Sekaligus mendongrak kegiatan wisata. (Joko Murdowo)

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here