Mudik Lancar Giliran Balik Tersendat, Kemen PAN Diajak Rancang Liburan

0
43
djoko-setijowarno-mti

SETIAP lebaran, pasti Angkutan Lebaran terjadi dinamika transportasi. Angkutan lebaran tahun ini dapat dianggap kurang berhasil jika dibanding tahun lalu (2018). Lebaran tahun ini, saat mudik arus lalu lintas relatif lancar, namun saat balik tersendat. Rentang waktu antara mudik dan balik tidak seimbang. Mudik diselenggarakan 6 hari efektif, sedangkan balik hanya tiga hari. Volume kendaraan antara mudik dan balik relatif sama. Kapasitas prasarana tidak bertambah, sehingga wajar jika pada saat arus balik terjadi ketersendatan.
Untuk membikin rencana operasi angkutan lebaran berikutnya, sebaiknya Kemen PAN diajak juga, karena kementerian ini yang merancang masa liburan ASN.

Tahun lalu, meski Tol Trans Jawa belum terhubung sempurna, masih ada yang fungsional, namun sudah bisa dilewati. Ditambah lagi harga tiket pesawat belum melonjak seperti thn ini.

Eforia publik menggunakan tol cukup tinggi. Tiket pesawat meninggi. Terhubung Tol Trans Jawa dan sebagian Tol Trans Sunatera serta menbaiknya layanan penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi pemicu beralihnya publik menggunakan moda darat, terutama kendaraan pribadi.

Bisnis sewa kendaraan di daerah cukup menurun tahun ini. Bisa jadi pemudik bawa kendaraan sendiri sekalian untuk silaturahmi dan wisata.

Cara pandang pemerintah terhadap keberhasilan angkutan lebaran melihat dari tueunnya angka kecelakaan. Tahun lalu juga sudah turun dibanding tahun sebelumnya.
Namun tahun ini, berdasar data terkini dari Korlantas Polri, ada penurunan 63 persen dibanding. Sementara dari kacamata pemudik, merasakan lamanya waktu perjalanan.

Kesadaran pemudik akan keselamatan juga meningkat. Walau masih ada juga pemudik yang masih belum paham memakai jalan tol. Saat beristirahat karena kelelahan tidak mendapatkan ruang di TIP, memilih bahu jalan tol untuk beristirahat. Ini membahayakan mereka. Sebab ada kejadian kecelakaan saat mudik tahun ini ditabrak saat berganti pengemudi bahu jalsn tol. Bahu jalan tol untuk kondisi darurat bukan buat istirahat. Edukasi dan sosialisasi tentang penggunaan tol ke publik masih harus digencarkan lagi.

Benahi Manajemen TIP

Keterhubungan Tol baik di Jawa dan sebagian Sumatera, seolah memisahkan kendaraan roda dua dan roda empat ke atas. Jadi, logis sudah berkurang kecelakaan antara roda dua dan roda empat saat mudik dan balik. Kondisi jalan macet juga meminimkan kecelakaan
. Arus lalu lintas yang melewati jalan pantura antara Semarang-Cirebon, terjadi penurunan kisaran 10 persen-15 persen. Ketersendatan di ruas tol diakibatkan masih beroperasinya gerbang tol (GT) di ruas dan tempat istirahat dan pelayanan (TIP). Semestinya GT di ruas tol dihilangkan dan manajemen TIP dibenahi. Pada saat ketersendatan di ruas tol lebih mudah dikendaliksn ketimbang di jalan non tol. Di ruas non tol terjadi lalu lintas campuran ( mix traffic) dan hambatan samping (side friction) yang cukup besar.

Kebijakan satu arah atau one way dan arus berlawanan atau contra flow juga ikut mendukung kelancaran. Tidak perlu diselenggarakan 24 jam, cukup situasional sesuai kebutuhan. Sebab ada kendaraan lain dari arah berlawanan juga memerlukan tepat waktu tiba di tujuan, seperti bus umum dan angkutan sembako.

Halaman: First |1 | 2 | 3 | Selanjutnya → | Last

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here