PPDB Karanganyar Ricuh, Orang Tua Nginap Di Halaman Sekolah

ppdb-karanganyar-ricuh
BERJUBEL : Orang tua rela sejak jam 10.00 pagi sudah berjubel dan menduduki kursi antrean, agar hari ini kebagian formulir pendaftaran.(suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com –  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Karanganyar ricuh. Orang tua sampai rela menginap di halaman sekolah menduduki kursi antrean yang disediakan, karena khawatir tidak kebagian formulir pendaftaran. Apalagi isu yang beredar peserta didik diterima berdasarkan nomor pendaftaran.

Hal itu terjadi di Tawangmangu, di SMP Negeri 1 Tawangmangu, SMP Karangpandan, dan SMP Mojogedang. Orang tua rela sejak jam 10.00 pagi sudah berjubel dan menduduki kursi antrean, agar hari ini kebagian formulir pendaftaran.

Namun pemkab Karanganyar tidak kalah tanggap. Melihat ricuhnya sistam PPDB yang tahun ini dirancang offline karena tidak lagi diperbolehkan menggunakan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah), langsung membuat surat edaran yang menyatakan mengundurkan masa pendaftaran tanggal 1-4 Juli dengan sistem on-line.

Baca : Zonasi PPDB SMP Berubah

Baca : PPDB SMA Tak Beri Ruang untuk Siswa Bernilai Tinggi

‘’Masa pendaftaran ini masih belum telat karena ada daerah lain yang baru mulai pendaftaran PPDB tanggal 5-8 Juli. Jadi kita masih aman. Selain itu juga sekaligus kita godok sistemnya agar tidak memancing kericuhan di kalangan masyarakat,’’ kata Bupati Juliyatmono.

Surat edaran yang disebar lewat WAG (Whatshap Grup) dan juga ditempel di papan sekolah se Karanganyar mendadak itu sempat dikatai berita hoax oleh para orang tua yang sejak pagi sudah rela antre bahkan kursinya dikukuhi tidak ditinggal meski makan dan saat shalat digantikan saudaranya itu.

Surat edaran

Namun sekitar jam 02.00 dinihari Rabu, berangsur-angsur orang tua pulang ke rumah setelah diyakinkan surat edaran itu resmi dari Dinak Dikbud Karanganyar. Mereka dengan bersungut-sungut pulang ke rumah sambil ngedumel nggak karuan.

Hal yang sama terjadi di SMP Karangpandan dan SMP Mojogedang. Semua orang tua yang sudah antre di halaman sekolah pulang ke rumah masing-masing setelah membaca edaran dari Dinas Dikbud tersebut.

Salah seorang yang ngantre, Santoso yang juga Lurah Desa Blumbang mengaku kesal. Dia ikut antre karena kasihan jika anaknya harus kalah dulu mendaftar sehiungga tidak diterima. Namun setelah antre malah diundur oleh Dinas Dikbud.

‘’Saya terus terang menyayangkan tidak tanggapnya Dinas Dikbud. Tahun lalu sudah on-line malah tahun ini antre lagi. Siapa yang tidak khawatir kalau isu yang beredar siapa yang daftar dulu itu yang diterima,’’ kata dia yang antre sejak Selasa siang.

Dia yang memang merasa anaknya kurang pandai legawa mencari sekolah lain jika memang tidak diterima di SMP Tawangmangu karena sistemnya memang berdasarkan prestasi seperti dahulu.  Namun ketika ada kesempatan karena sistem zonasi itu, dan siapa daftar dulu itu yang diterima, maka dia rela antre demi anaknya bisa sekolah yang dekat.

Baca : Peluncuran Program Matur Jujur

Lain lagi dengan Bramono, salah seorang guru di Kalisoro, yang menyatakan dia sampai membuka rumahnya untuk mengkursus anak orang lain agar pintar dan memperoleh nilai tinggi di sekolahnya. Namun giliran mencari sekolah kalah dengan anak yang prestasinya biasa saja tapi rumahnya dekat dengan sekolahan.

‘’Terus terang saya sebetulnya menyayangkan sistem zonasi ini, karena membatasi anak untuk sekolah di tempat yang baik, sebab jauh dari rumahnya. Apakah salah jika orang tua tinggal di gunung tapi anaknya pintar sehingga gagal memperoleh sekolah yang baik karena kalah dengan anak yang tinggalnya di kota tapi dekat dengan lokasi sekolah,’’ kata dia.

Baca : Penerapan Sistem Zonasi, Komisi IV DPRD Awasi Proses PPBD Surakarta

Bramono termasuk orang terprovokasi dengan sistem PPDB baru yang memang mensyaratkan anak yang mendaftar lebih dahulu akan diterima di sekolah yang dimaksud. Sehingga dia rela antre demi anaknya agar diterima di SMP 1 Tawangmangu.

Dia juga menyayangkan tidak disosialisasikannya sistem yang diganti dari on-line menjadi off-line. Sebab tahun lalu ketika tahun lalu on-line tidak ada masalah menjadi off-line tahun ini. Sehingga malah ricuh bagi daerah yang sekolahnya minim seperti di Tawangmangu dan Karangpandan.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here