Dekatkan Domosili, 124 Guru Dilantik Jadi Kepala Sekolah

0
30
pelantikan-guru-wonogiri
TANDA TANGAN : Para kepala sekolah membubuhkan tanda tangan saat mengikuti pelantikan di pendapa Kabupaten Wonogiri, Kamis (13/6). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Sebanyak 124 guru di Kabupaten Wonogiri diberi tugas tambahan menjadi kepala sekolah, Kamis (13/6). Mereka terdiri atas delapan orang kepala TK Negeri, 109 orang kepala SD Negeri, dan tujuh orang kepala SMP Negeri.

Pelantikan menjadi kepala sekolah tersebut dipimpin oleh Bupati Wonogiri Joko ‘Jekek’ Sutopo di pendapa Kabupaten Wonogiri. Bupati mengatakan, mereka dituntut tugas dan tanggung jawab yang lebih besar ketika menjadi kepala sekolah.

Para kepala sekolah harus memastikan tata kelola dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) maupun dana-dana untuk sekolah lainnya dilaksanakan dengan baik. “Dengan menjadi Kepala Sekolah, ada tugas dan tanggungjawab besar menanti. Tata kelola pendidikan di Wonogiri ke depan dituntut untuk menjadi tata kelola yang profesional,” katanya.

Baca : Guru SD Muhammadiyah PK ikuti Pembelajaran Berbasis IT

Baca : Hardiknas, Bupati Serahkan Hadiah Guru Berprestasi

Di sisi lain, penempatan jabatan tersebut dilaksanakan dengan memperhatikan domisili masing-masing kepala sekolah. Tujuannya agar kepala sekolah tetap bisa menjalankan peran kontrol sosialnya di masyarakat.

Bupati berpendapat, guru dan kepala sekolah mempunyai dua peran, yakni peran formal dan sosial. “Peran formal dilaksanakan di sekolah pada jam-jam sekolah. Sedangkan peran sosial dilaksanakan setelah mereka menyelesaikan fungsi formalnya. Para guru dan kepala sekolah itu masih punya tanggung jawab dan menjalankan kontrol sosial di masyarakat,” terangnya.

Baca : Tugu-tugu Perguruan Silat Dirobohkan

Apabila domisili para kepala sekolah terlalu jauh dari tempat mengajar, waktu mereka akan habis di perjalanan. Namun jika dekat dengan tempat mengajar, mereka akan lebih mudah mengawasi aktivitas murid-muridnya di luar sekolah.

Dia mengingatkan, persoalan yang dihadapi anak-anak dan pelajar, seperti kenakalan remaja dan kekerasan terhadap anak biasanya diawali dari komunitas-komunitas yang minim pengawasan. “Harus ada pengawasan di tempat-tempat nongkrong anak-anak karena biasanya akan membawa efek negatif,” pintanya. (Khalid Yogi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here