Wayang Gagrak Banyumasan Hadir di TBS

0
35
wayang-gagrak-tbs
GAGRAK BANYUMASAN:Ki Kedhot Suprapto Kriya Carita dari Purwokerto ketila mementaskan wayang kulit gagrak banyumasan di pendapa ageng TBS, Kamis malam lalu.(suaramerdekasolo/Sri Wahjoedi)

*Lakon Babad Kali Serayu

SOLO,suarmerdekasolo.com-Setelah mementaskan wayang kulit gaya tegalan (Tegal) bulan lalu, kali ini giliran gaya banyumasan hadir di pendapa ageng Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta(TBS), Kamis malam lalu. Mengusung lakon Babad Kali Serayu, dalang asal Purwokerto Ki Kedhot Suprapto Krita Carita menampilkan gagrak banyumasan klasik.

Suasana Lebaran tampaknya masih terasa hadir di pendapa. Tidak biasanya hamparan lantai pendapa tidak dipadati penonton meski suasana kemeriahan garapan lakon carangan itu cukup semarak.

Mencoba menampilkan ceritera darah Pandawa yang menderita setelah menjalani kehidupan di hutan selama 13 tahun akibat kalah bermain dadu, disanggit Ki Kendhot dengan pesan yang berbeda.
Sajian gagrak banyumasan memang terasa beda dengan gaya Solo

Baca : Wayang Kulit Semarakkan Peresmian Pasar Purwantoro

. Iringan karawitan, suluk maupun dialog menyeruak cukup menyolok dan menghadirkan suasana Banyumas. Iringan karawitan dengan garapan iringan dan gendhing-gendhing yang cukup sigrak dan dinamis, dengan mengandalkan permainan gendang yang menghadirkan suasana hangat.

Demikian juga sulukan tampak beda. Sulukan dalang akan selalu diiringi dengan iringan karawitan meski hanya beberapa ketukan nada. Dialog banyumasan hadir pada suasana adegan panakawan, limbukan maupun dialog di luar kerajaan. Namun pada dialog atau antawacana saat pisowanan di keraton gaya banyumasan ditinggalkan dan memakai bahasa gaya bahasa umum Jawa.

Beda lainnya tampak pada status Bagong. Kalau umumnya Bagong merupakan anak bungsu Semar namun pada gaya banyumasan di menjadi anak sulung dengan nama Bawor.

Baca : Didata Ulang, 17 Kotak Anak Wayang Koleksi Keraton Surakarta

Pada garapannya, Ki Kedhot menyanggit penderitaan trah Pandawa setelah hidup selama 12 tahun di hutan akibat kalah bermain judi dadu dengan para kurawa. Mereka yang harusnya mendapatkan penghidupan masa Raja Yomowidura, telah ditelantarkan. Adalah patih Sengkuni yang mempunyai dendam terhadap Pandawa, yang membuat penderitaan Pandawa dengan mengurangi jatah makanan.

Kondisi itu diprotes oleh para panakawan yang tidak rela momongannya menderita. Perseteruan Pandawa dan Kurawa memang menjadi legenda ceritera wayang yang tidak pernah habis digarap. Demikian juga ketika untuk menentukan kelompok siapa yang layak berkuasa di Astina, akhirnya diadakan sayembara. Siapa yang bisa membuat kali atau sungai di wilayah Astina sampai terhubung dengan samudra selatan, yang berhak berkuasa. Dan sungai itu kemudian diberi nama Kali Serayu.(Sri Wahjoedi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here