Kesulitan Cari Pakan, Peternak Merapi Mulai Turun Gunung

peternak-turun-gunung
RUMPUT PAKAN: Warga Desa Talun, Kecamatan Kemalang mencari pakan ternak sampai ke Desa Krecek, Kecamatan Delanggu. (suaramerdekasolo.com/Achmad Hussain)

KLATEN,suaramerdekasolo.com-Warga peternak di lereng Gunung Merapi Kabupaten Klaten mulai turun gunung mencari rumput. Warga bahkan harus mencari ke daerah lain yang jaraknya puluhan kilometer.
Tono, warga Desa Talun, Kecamatan Kemalang mengatakan sudah sepekan terakhir warga di desanya terpaksa turun mencari rumput pakan ternak.

” Di atas sudah sulit didapatkan sebab sudah kemarau,” ungkapnya saat ditemui mencari rumput di Kecamatan Delanggu, Sabtu (15/6).

Menurutnya demi memberi makan ternak sapi dan kambing warga di desanya dan desa sekitarnya rela mencari rumput ke wilayah lain di dataran rendah. Bahkan terjauh sampai ke Kecamatan Delanggu dan Wonosari yang merupakan wilayah Kabupaten Klaten paling timur.

Baca : Peternak Binaan Baznas Diikutkan Jambore Peternak Nusantara

Baca : Peternakan Binaan Baznas Akan Jadi Lokasi Outbond

Meskipun menempuh jarak jauh tetapi warga sudah terbiasa. Apalagi saat pergi warga tidak sendiri tetapi berkelompok dengan menggunakan truk salah seorang kerabat atau tetangga. Ongkos bahan bakar ditanggung bersama sehingga tidak ada yang terbebani. Berangkat dari desa usai subuh dan biasanya sebelum tengah hari sudah pulang. Rumput yang dicari semua jenis rumput dan semak.

Terkadang jika ada lahan padi usai dipanen, batang padipun dibawa pulang. Kebiasaan mencari pakan ternak itu tidak setiap hari tetapi hanya tiga hari sekali. Bagi yang ternak sapinya lebih dari lima ekor bisa mencari hampir setiap hari. Meskipun di daerahnya ada penjual pakan tetapi hanya sebagian warga yang memiliki uang yang membeli.

Beli Air

Sebab, kata Tono, selain untuk membeli pakan warga masih harus membeli untuk kebutuhan air minum sapi dan keluarga. Pekerjaan mencari rumput itu bagi warga di lereng Gunung Merapi sudah hal biasa. Sapi dan kambing adalah harta cadangan selain tegalan yang hasilnya minim saat kemarau.

Baca : Poknak Ngudi Rejeki Maju Lomba Tingkat Jateng

Radi, peternak lain mengatakan dengan dua ekor sapi dia hanya tiga hari sekali mencari rumput sampai ke bawah. Selain ke Kabupaten Klaten ada sebagian yang ke Boyolali atau ke Sleman. Namun paling banyak daerah tujuan adalah ke Klaten sebab banyak lahan padi. ” Air bersih untuk rumah sudah harus membeli Rp 120.000 per tangki. Jadi pakan lebih baik mencari sendiri lebih irit,” katanya.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Klaten, Sri Yuwana Haris mengatakan ada 23 desa dan sembilan kecamatan rawan krisis air bersih. Hampir semua desa di lereng Gunung Merapi masuk daerah rawan krisis air bersih.

Musim kemarau tahun ini berdasarkan surat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada Gubernur Jawa Tengah tertanggal 13 Maret 2019 akan dimulai 1-10 hari pekan pertama bulan Mei 2019 dan berakhir 1-10 hari pertama di pekan pertama bulan November 2019.

Baca : 200 Kilogram Telur Habis Dalam Sekejap, Pasar Murah Karanganyar

Kemarau akan berlangsung selama enam bulan atau 180 hari dan lebih panjang disebabkan badai El Nino skala lemah sampai sedang. Puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada bulan Agustus 2019. Pemkab sudah mengeluarkan SK darurat kekeringan sebagai dasar pengiriman bantuan air bersih. (Achmad Hussain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here