Dari Level Kelurahan untuk Manfaat Keutuhan Bangsa

penetapan-pakasa1
PANGARSA PUNJER Pakasa, KPH Edy Wirabhumi menyerahkan SK pelantikan pengurus baru kepada Ketua Pakasa Cabang Trenggalek (Jatim), KRT Hastha Surantara Mangundoyodipuro dalam upacara tetepan pengurus cabang di Kelurahan Surodakan, Kecamatan Kota, Minggu (16/6). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Penetapan Pengcab Pakasa Kabupaten Trenggalek

MENYAKSIKAN perhelatan sangat sederhana yang menandai peresmian terbentuknya Pengurus Cabang Pakasa Kabupaten Trenggalek (Jatim) yang hanya berlangsung di balai Kelurahan Surodakan, Kecamatan Kota berukuran sekitar 50 meter persegi, Minggu siang (16/6, bagi publik awam mungkin bisa saja menganggap sebagai hajatan tingkat kampung biasa. Bagi kalangan birokrat dan otoritas pemerintahan setempat, mungkin malah menganggap kelas event itu memang cukup digelar di kelurahan.

Bagi sekitar 50-an orang yang diwisuda menjadi abdidalem baru dengan pangkat sesebutan mulai dari level Mas Ngabehi (MNg) hingga Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) di depan nama barunya, ada rasa bangga dan senang dirinya menjadi bagian dari peristiwa adat dan diakui eksistensinya secara adat. Mungkin hanya bagi sedikit orang yang menyaksikan event itu, pasti campur aduk perasaannya antara haru, bangga, bersemangat, optimistik dan tergugah kesadarannya sebagai bagian dari masyarakat adat, budaya Jawa dan warga bangsa NKRI.

Haru karena perhelatan setingkat cabang yang punya wilayah urusan dan tanggungjawab di wilayah Kabupaten Trenggalek itu, hanya berlangsung di balai kelurahan atau selevel acara warga kampung di berbagai kelurahan.

Baca : Tinggal Bergantung di Tangan Presiden

Baca : Kecamatan Polanharjo Pernah Menjadi Sentra Tembakau Vorsten

Bangga, bersemangat dan optimistik, karena momentum itu menjadi tergugah kesadarannya bahwa diri mereka adalah bagian dari masyarakat adat dan budaya Jawa yang telah mendapa pengakuan luas, bahwa produk peradaban Jawa itulah yang mampu menjadi salah satu saka guru pemersatu bangsa yang tergabung dalam NKRI ini.

Bagaimana tidak, di tengah suasana kehidupan sosial budaya yang sudah tercabik-cabik dan terbelah akibat Pemilu dan Pilpres, belum lama ini, masih ada sekelompok masyarakat adat yang peduli dan mulai membangun kembali suasana batin yang sudah tercabik-cabik itu.

Di tengah suasana hubungan sosial yang sudah retak dan selalu muncul rasa curiga terhadap setiap aktivitas kelompok sosial yang selama ini terlibat aksi kekerasan dalam suasana Pemilu/Piplres maupun atas nama identitas tertentu, ada kelompok masyarakat adat yang tanpa diminta dan disuruh, rela mengorbankan tenaga, pikiran, waktu dan materi untuk berkeliling bersilaturahmi dari desa ke desa di sejumlah wilayah dengan membawa ”bendera budaya Jawa”.

penetapan-pakasa4
TARI TURANGGAYAKSA yang disuguhkan beberapa siswa sekolah di acara tetepan pengurus baru Pakasa Cabang Trenggalek, Jatim, adalah tarian rakyat khas setempat, tetapi secara keseluruhan merupakan bentuk pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Didata Ulang, 17 Kotak Anak Wayang Koleksi Keraton Surakarta

”Kami sangat sadar, bahwa hanya dengan pendekatan budaya, ikatan kita berbangsa bisa utuh dan kokoh. Hanya dengan itu (budaya), NKRI bisa tegak dan utuh. Yakinlah itu. Kebetulan, di lingkungan FKIKN dan FSKN kami ada di dalam kelompok kerja (pokja) Pemberdayaan Ekonomi dan Budaya. Maka, kegiatan seperti ini, sangat nyambung dan sangat diperlukan,” jelas KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Punjer (Ketua Pusat-Red) Pagguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa), menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, sepulang dari melantik Pengurus Cabang Pakasa Kabupaten Trenggalek (Jatim), siang itu.

Ikrar dan janji

Pernyataan Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu memang sudah terwujud, baik melalui event pelantikan pengurus cabang Trenggalek, maupun di cabang-cabang lain yang selama ini dibentuk baik di Jateng, Jatim maupun DIY. Apalagi, salah satu kalimat ikrar dan janji yang ditirukan saat pelantikan pengurus cabang, sungguh terdengar ”menohok” bagi kalangan yang selama ini memandang abdi dalem Pakasa, Keraton Surakarta, Budaya Jawa dan sebagainya dengan sebelah mata, atau bahkan sinis.

penetapan-pakasa2
GUSTI MOENG selaku Ketua (LDA) Keraton Surakarta menyerahkan kekancingan (SK) gelar sesebutan abdidalem kepada para pengurus baru Pakasa Cabang Kabupaten Trenggalek Jatim), dalam sebuah upacara tetepan pengurus cabang di Kelurahan Surodakan, Kecamatan Kota, Minggu (16/6). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena, kalimat pertanyaan butir terakhir dari empat butir ikrar itu berbunyi :”…Menapa panjenengan estu-estu sagah njagi utuh lan lestantunipun NKRI…?,” Tentu saja dan pasti serta tanpa ragu, yang dilantik menjawab ”sendika”.

Mendengar pertanyaan dan jawaban itu pasti banyak yang terperangah, karena banyak yang tidak mengira bahwa sikap abdidalem Pakasa, Keraton Surakarta dan Budaya Jawa, akan sejauh itu.

Baca : Ki Djoko Pameran Tunggal Tasyakuran Selamatan Pemilu 2019

Selain sudah disinggung ketika Pangarsa Punjer Pakasa berpidato, sebelum menyerahkan kekancingan berisi gelar dan sesebutanpun, dalam pidatonya, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) yang juga Pengageng Sasana Wilapa GKR Wandansari Koes Moertijah sudah menyatakan bahwa Keraton Surakarta merupakan salah satu pendiri NKRI.

Sebab itu hukumnya wajib bagi wong Jawa, apalagi abdidalem Pakasa, sangat bertanggungjawab pada keutuhan bangsa dan NKRI. Apalagi, Pakasa didirikan Sinuhun Paku Buwono X pada tahun 1931, jauh sebelum NKRI lahir dan Pakasa kini terdaftar resmi di Ditjen Kesbangpol Kemendagri.

”Karena sudah resmi, setelah ini pengurus bisa langsung merepat ke dinas terkait di Pemkab, agar bisa mendapatkan pembinaan. Di Jatim ada banyak warga Pakasa tersebar di beberapa kabupaten. Yang terbesar ada di Kabupaten Ponorogo, 5 ribuan, dan paling solid,” jelas KPH Edy berpesan.

penerapan-pakasa3
KPH BROTOADININGRAT sebagai sesepuh dari Kantor Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Surakarta, ikut mengalungkan samir kepada para abdidalem baru sekaligus pengurus baru Pakasa Cabang Trenggalek, Jatim, dalam sebuah upacara tetepan pengurus cabang di Kelurahan Surodakan, Kecamatan Kota, Minggu (16/6). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Sang Maestro Sungging Wayang Beber yang Dipaido

Siang itu, di antara 50-an abdidalem yang diwisuda dan dilantik menjadi Pengurus Cabang Pakasa Trenggalek, sebagian besar warga kabupaten setempat dan dari wilayah Jatim lain, yaitu empat orang Kabupaten Ponorogodan 3 orang dari Kota Kediri.

Sebagai suguhan, selain tari sesaji yang disusun seniman setempat, juga ada pentas tari Turanggayaksa yang mirip jathilan atau bagian dari tari Reyog Ponorogo yang sangat diapresiasi Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu, karena dinilai sangat konsisten dalam melestarikan budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here