DKK Karanganyar Luncurkan Program Super Pinter

0
28
program-super-pinter
*Upaya Tekan Angka Kematian Ibu MelahirkanKARANGANYAR, suaramerdekasolo.com. Upaya menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar meluncurkan program Super Pinter alias Semua Persalinan Dipimpin Dokter. Seremoni peluncuran dilakukan di aula DKK Karanganyar, Selasa (18/6). Program tersebut merupakan pilot project DKK, yang sudah diujicobakan di tiga puskesmas dalam beberapa pekan terakhir, yakni di Puskesmas Colomadu 2, Puskesmas Kebakkramat I dan Puskesmas Jumapolo. Ke depan, secara bertahap, program tersebut akan diterapkan di seluruh puskesmas di wilayah Karanganyar. Kepala DKK Cucuk Heru Kusumo mengungkapkan, angka kematian ibu melahirkan di Karanganyar pada 2018 adalah 42 per 100 ribu kelahiran hidup, atau setara lima kematian ibu melahirkan. "Sudah turun, dibandingkan 2016 yang mencapai 138 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara pada 2017 angkanya 72 per 100 ribu kelahiran hidup. Kami menargetkan, angkanya terus turun hingga di bawah 40 per 100 ribu kelahiran hidup," katanya. Kematian ibu hamil atau melahirkan, rata-rata karena kasus eklamsia, pendarahan, juga faktor tekanan darah tinggi. Ada juga yang disebabkan karena ibu hamil memiliki riwayat penyakit jantung. Untuk memperkecil risiko-risiko saat melahirkan, proses persalinan harus didampingi atau selalu dalam pantauan dokter. Cucuk menyebutkan, di setiap fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) awal yakni puskesmas, selalu ada dokter. Dalam proses persalinan yang normal, penanganannya diserahkan kepada bidan, namun dalam pengawasan dokter. "Sebab dalam hitungan detik, situasi bisa berubah. Dari persalinan normal jadi berisiko. Dalam kondisi tersebut, bidan harus ada komunikasi dengan dokter. Sementara jika risikonya masuk level spesialis, maka akan diteruskan ke dokter spesialis. Dokter spesialis nantinya memandu dari proses perujukan, hingga penanganan di rumah sakit rujukan," jelasnya. Dikatakannya, program Super Pinter memperjelas mekanisme yang harus ditempuh, dalam penanganan ibu melahirkan. "Selama ini, mekanismenya sudah ada, tapi belum efektif. Nah, program ini memperjelasnya, melalui desain yang formal," tandasnya. Dari ujicoba di tiga puskesmas, lanjut Cucuk, ada 20 kasus ibu melahirkan yang ditangani dengan mekanisme program Super Pinter. Hasilnya, 90 persen bisa berjalan sesuai regulasi, 10 persen belum patuh terhadap mekanisme. "Ini masih terus dievaluasi. Kalau tidak sesuai mekanisme, apa penyebabnya. Harapannya, ke depan ini bisa berjalan bagus, sehingga angka kematian ibu melahirkan bisa semakin kecil," imbuhnya. Pjs Sekda Karanganyar Sutarno berharap, standar operasional prosedur (SOP) dalam program Super Pinter dipatenkan, sehingga memudahkan penerapan di lapangan. "Ke depan, monitoring dan evaluasi harus dilakukan, untuk menyempurnakan program ini," imbuhnya. (Irfan Salafudin)

*Upaya Tekan Angka Kematian Ibu Melahirkan 

KARANGANYAR, suaramerdekasolo.com– Upaya menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar meluncurkan program Super Pinter alias Semua Persalinan Dipimpin Dokter. Seremoni peluncuran dilakukan di aula DKK Karanganyar, Selasa (18/6). 
Program tersebut merupakan pilot project DKK, yang sudah diujicobakan di tiga puskesmas dalam beberapa pekan terakhir, yakni di Puskesmas Colomadu 2, Puskesmas Kebakkramat I dan Puskesmas Jumapolo. 
Ke depan, secara bertahap, program tersebut akan diterapkan di seluruh puskesmas di wilayah Karanganyar. 

Kepala DKK Cucuk Heru Kusumo mengungkapkan, angka kematian ibu melahirkan di Karanganyar pada 2018 adalah 42 per 100 ribu kelahiran hidup, atau setara lima kematian ibu melahirkan. 

Baca : Ditinggal Menjenguk Isteri, Rumah Kartono Terbakar

“Sudah turun, dibandingkan 2016 yang mencapai 138 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara pada 2017 angkanya 72 per 100 ribu kelahiran hidup. Kami menargetkan, angkanya terus turun hingga di bawah 40 per 100 ribu kelahiran hidup,” katanya. 

Kematian ibu hamil atau melahirkan, rata-rata karena kasus eklamsia, pendarahan, juga faktor tekanan darah tinggi. Ada juga yang disebabkan karena ibu hamil memiliki riwayat penyakit jantung.  Untuk memperkecil risiko-risiko saat melahirkan, proses persalinan harus didampingi atau selalu dalam pantauan dokter. 

Cucuk menyebutkan, di setiap fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) awal yakni puskesmas, selalu ada dokter. Dalam proses persalinan yang normal, penanganannya diserahkan kepada bidan, namun dalam pengawasan dokter. 

Baca :268 Kades  Dilantik, Kades Diminta Jadi Songsong Agung Bagi Warganya ,

“Sebab dalam hitungan detik, situasi bisa berubah. Dari persalinan normal jadi berisiko. Dalam kondisi tersebut, bidan harus ada komunikasi dengan dokter. Sementara jika risikonya masuk level spesialis, maka akan diteruskan ke dokter spesialis. Dokter spesialis nantinya memandu dari proses perujukan, hingga penanganan di rumah sakit rujukan,” jelasnya. 

Dikatakannya, program Super Pinter memperjelas mekanisme yang harus ditempuh, dalam penanganan ibu melahirkan. “Selama ini, mekanismenya sudah ada, tapi belum efektif. Nah, program ini memperjelasnya, melalui desain yang formal,” tandasnya. 

Dari ujicoba di tiga puskesmas, lanjut Cucuk, ada 20 kasus ibu melahirkan yang ditangani dengan mekanisme program Super Pinter. Hasilnya, 90 persen bisa berjalan sesuai regulasi, 10 persen belum patuh terhadap mekanisme. 

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here