Anggota Polres Sukoharjo Jualan Kebab

JUALAN KEBAB : Brigadir Edi Tri Wasono berjualan kebab di outletnya yang ada di sekitar RSUD Jl Dr Muwardi, Sukoharjo. (Suaramerdekasolo.com/Heru Susilo)


SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Menjadi anggota kepolisian bukan halangan untuk tetap berwira usaha. Meski dilakukan dengan jam terbatas karena tugas kedinasan, namun hal tersebut bukan tabu bagi anggota bhayangkara. Hal itu juga yang dilakukan oleh Brigadir Edi Tri Wasono, salah satu anggota SPKT Polres Sukoharjo. Ditemui di tempat usahanya yang ada di depan RSUD Sukoharjo, bintara ini nampak sibuk melayani pembelinya.
Tangannya dengan lincah memegang pisau dan mengiris daging yang menempel pada sebuah alat di outletnya. Daging panggang tersebut diiris tipis-tipis lalu ditaburkan pada sebuah roti yang sudah disiapkan. Dibantu seorang karyawannya, pria yang tinggal di dukuh Tanjung RT 2/9 Bakalan, Polokarto ini nampak tidak canggung.
Di sela-sela kesibukannya sore itu, Brigadir Edi bercerita bahwa usaha kebab Hanifah yang dia rintis berawal saat dia bertugas di Polres. Saat itu ada seseorang yang datang untuk melaporkan kasus penipuan. “Dari pertemuan di SPKT itu saya menjadi akrab dengan pelapor yang ternyata punya usaha kebab ini. Akhirnya kami bicara banyak dan panjang lebar sampai merintis usaha ini,” tutur Edi.
Awalnya Edi mengaku memang agak canggung, sebab dia tidak biasa melakukan usaha itu. Tetapi setelah dipelajari dan dipraktikkan, dia berhasil melakukannya bahkan hingga hari ini dia sudah mempunyai tiga outlet. Outlet pertama di sekitar Alun-alun Sukoharjo, Bekonang dan depan RSUD tepatnya di halaman salah satu toko modern.
Hanya saja, karena pertimbangan tertentu untuk outlet yang ada di skeitar alun-alun ditutup. Karena itu sekarang tingga dua outlet yang bertahan. Satu outlet terdapat satu karyawan yang mengurusi. “Soal bumbu saya yang meracik dan setelah selesai dinas, saya ikut jualan,” katanya.

Harga kebab yang dibanderolnya pun cukup terjangkau. Satu kebab dibanderol Rp 11-13 ribu. Dalam sehari satu outletnya mampu menjual antara 500-600 kebab. Namun demikian, menurut Edi, apa yang dilakukan itu bukan semata-mata untuk menambah pemasukan. Tetapi untuk menunjukkan bahwa meski terikat dalam ikatan dinas, seorang polisi juga bisa berwira usaha. “Entah jenis usahanya apa, yang jelas polisi juga bisa melakukan usaha yang lain. Hasilnya juga bisa untuk menambah pemasukan keluarga,” ujarnya.
Terlebih jika usaha yang digeluti tersebut mampu bermanfaat untuk orang lain. Salah satunya menciptakan lapangan pekerjaan. Sebab dengan jam dinas yang sudah diatur, tidak mungkin seorang anggota kepolisian bisa full time menunggu usahanya. (Heru Susilo)

 

Tinggalkan Pesan