2019 Serangan DBD Naik 9 Kali Lipat, Dinkes Karanganyar Catat 600 Kasus

0
serangan-dbd-karanganyar
PENGASAPAN – Kegiatan fogging (pengasapan) di Karanganyar, menjadi andalan masyarakat memberantas DBD, padahal kecil pengaruhnya. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.comDemam Berdarah Dengue mengganas, kasusnya terus bertambah setiap hari. Saat ini sudah tercatat lebih dari 600 kasus selama enam bulan tahun 2019 ini, 4 korban meninggal, dan peningkatannya sampai 9 kali lipat dibanding tahun lalu.

‘’Kita betul-betul prihatin dan terus mencoba mengedukasi masyarakat untuk waspada dan melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di lingkungan sekitar, sebab cara itu jauh lebih efektif dalam menanggulangi wabah tersebut,’’ kata dokter Cucuk H Kusumo, Kadinkes Karanganyar, Selasa.

Dia meminta stfnya dan juga staf Puskesmas untuk terus melakukan penyuluhan, sebab perkembangannya justru masyarakat lebih banyak mengandalkan fogging (pengasapan) di sekitar lingkungannya. Ini tindakan salah.

Baca : Henry Indraguna : Politik Uang seperti DBD Harus Diberantas

Baca : Warga Simo-Sambi Waspadai Serangan DBD

Justru pemberantasan sarang nyamuk, bersih-bersih lewat tindakan 3 M (menutup, menguras, dan menimbun) setiap ada kesempatan terhadap bekas galian, kaleng, ban bekas, dan segala yang memungkinkan menggenang, itu lebih ampuh dan berefek luas.

‘’Tindakan mengandalkan fogging tanpa PSN akan sia-sia, sebab nyamuk termasuk aides aigepty itu bisa berpindah tempat radius 100 meter, sehingga jika mendapat tempat dia akan ganti bersarang di tempat baru itu, dan menularkan penyakit di tempat baru.’’

Baca : Puskesmas dan Perdes Doyong Lagusung Gelar Rakor-Sosialisasi

Berbeda dengan PSN, itu akan memberantas sarang sekaligus menghentikan persebaran nyamuk dan akhirnya mereka tidak memiliki sarang dan mati. Karena itu PSN tanpa fogging lebih berhasil dibandingkan fogging tanpa PSN.Ini yang selama ini tidak atau kurang dipahami masyarakat. Mereka beranggapan jika sudah difogging akan selesai permasalahan.

Karena itu permintaan fogging di berbagai Puyskesmas dan rumah sakit membeludag. Setiap ada kasus Demam Berdarah selalu masyarakat sekitar minta fogging, bahkan rela membayar sendiri. Ini salah persepsi. Justru imbauan kerja bakti digiatkan, harusnya semakin sering.

Baca : Bupati Imbau Warga Tanam Bunga Pengusir Nyamuk

Cucuk mengatakan, kasus ini sebetulnya memang terjadi lima tahunan. Seperti menjadi siklus saja, mesti terjadi ledakan DBD. Kasus serupa terjadi lima tahun lalu dan juga di saat dan bulan yang sama, ketika terjadi pergantian musim dan secara ekstrim terjadi musim kemarau panjang.

Biasanya masyarakat sudah mulai lupa dengan kejadian seperti ini, sehingga di saat lupa penyakit bisa menular dan berjangkit dengan cepat. Karena itu petugas juga disiagakan untuk terus memberikan penyuluhan agar masyarakat sadar. Kasus ini juga masih sama, berjangkit di Colomadu, Jarten, namun 17 kecamatan, termasuk daerah dingin di atas seperti Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Jatiyoso juga sudah kena.(joko dh)

Tinggalkan Pesan