Atlet Angkat Berat Solo Stabilkan Angkatan

atlet-angkat-berat-solo1
ANGKAT BARBEL: Atlet Solo, Eko Supriyanto mengangkat barbel pada kejurprov NPCI Jateng di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BBRSPDF) Prof Dr Soeharso Solo, Jumat (21/6). (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Eko Berusaha Hapus Trauma Cedera

SOLO,suaramerdekasolo.comAtlet angkat berat National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Solo, Eko Supriyanto mulai menstabilkan beban angkatannya di angka 130 kg. Memang belum menyamai angkatan maksimal seperti ketika dirinya belum mengalami cedera. Tetapi pada kejuaraan provinsi (Kejurprov) NPCI Jateng di Solo pekan lalu, keyakinan dirinya mulai muncul.

‘’Rasanya tampil lebih tenang di angkatan 130 kg. Secara bertahap, saya akan terus meningkatkan beban barbel melalui latihan, hingga bisa kembali mencapai angkatan 160 kg seperti dulu,’’ tutur dia, Rabu (26/6).

Pria kelahiran Solo, 15 Maret 1979 tersebut mengalami cedera saat menjalani pelatnas NPCI untuk menghadapi ASEAN Para Games (APG) Singapura 2016. Saat itu, ketika berusaha mengangkat beban maksimal dalam latihan, tiba-tiba tangannya sedikit goyang. Akibatnya barbel tidak seimbang, kemudian merosot menghantam dadanya. Bahu kirinya pun mengalami dislokasi, sehingga dirinya harus menjalani perawatan.

‘’Kini kondisi saya semakin membaik, serta kembali mulai berlatih sekitar setahun terakhir,’’ tutur suami Chaterina Dyan Wijayanti tersebut.

Tak Mudah

Eko menjadi yang terbaik di kelas 60 kg putra pada ajang kejurprov angkat berat yang digelar di kompleks  Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BBRSPDF) Prof Dr Soeharso kawasan Kandangsapi, Solo, Jumat (21/6).

atlet-angkat-berat-solo2

Dia merebut medali emas, disusul atlet Pati Suparman yang meraih medali perak dengan angkatan terbaik 80 kg dan atlet Sragen Roni Heru yang berhak atas medali perunggu setelah mencatatkan angkatan 50 kg.

‘’Sekarang sudah tidak ada rasa sakit lagi di bahu kiri. Tetapi untuk memulihkan trauma pasca cedera memang tidak mudah. Saya akan terus berusaha mencoba menghapuskannya,’’ tandas lelaki yang kini juga menjadi asisten pelatih pelatnas angkat berat NPCI untuk proyeksi APG Filipina 2019 tersebut.

Eko merupakan satu-satunya atlet angkat berat yang dimiliki NPCI Kota Bengawan. Hal itu berbeda dengan daerah tetangganya, Sragen, yang memiliki sederet atlet angkat berat. Kabupaten berjuluk Bumi Sukowati tersebut bahkan menempatkan tiga atlet angkat beratnya di pelatnas, yakni Atmaji Priambodo, Margono dan Rani Puji Astuti.(Setyo Wiyono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here