Septiana Usaha Kelontong Sebelum Raih Gelar Doktor

0
69
Septiana-Novita-Dewi
FOTO DIRI : Septiana Novita Dewi,peraih gelar Doktor (S3) pada usia 30 di Universitas. Sebelas Maret (UNS). (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

KESIBUKAN domestik rumah tangga kerap jadi alasan bagi perempuan untuk enggan beranjak dari zona nyaman. Namun ini tak berlaku bagi Septiana Novita Dewi. Ia adalah ibu tiga anak  yang berhasil meraih gelar Doktor (S3) sebelum genap berusia 30 tahun.

Dalam ujian terbuka untuk meraih gelar doktornya yang digelar Selasa (25/6) lalu, ia juga berhasil meraih nilai nyaris sempurna yakni 3,97. Sungguh, prestasi yang membanggakan.  Yang membuatnya istimewa, ia berasal dari keluarga yang latar belakangnya justru jauh dari dunia pendidikan. 

Terbayang kerepotan yang harus dihadapi Septiana hadapi karena tugasnya sekaligus pengajar di salah satu kampus swasta pun tetap harus ia tunaikan secara penuh kendati tengah mengambil pendidikan.

Namun seluruh kesibukannya tak menyurutkan semangat untuk merampungkan kuliah S3 nya dan meraih gelar doktor. Hebatnya lagi,  sang suami beberapa tahun lalu juga lebih dulu merampungkan program doktornya di kampus yang sama,  Universitas. Sebelas Maret (UNS) . Jadilah mereka adalah pasutri yang sama-sama meraih gelar doktor di usia muda.

“Saya tidak berasal dari keluarga kaya ataupun akademisi. Pendidikan di keluarga kami rata rata hanya pendidikan dasar.  Sebelum menjadi dosen,  suami saya dulu tukang kayu di perusahaan mebel milik keluarganya, sementara  saya sempat menjaga warung kelontong,” kata wanita berparas cantik  itu.

Kendati tidak berasal dari keluarga yang menomorsatukan pendidikan,  namun Septiana punya keinginan yang kuat untuk memperoleh pendidikan hingga jenjang tertinggi. Hal itu nampaknya sejalan dengan pemikiran sang suami, Aris Tri Haryanto. Keduanya sama -sama memuruskan untuk terus sekolah kendati awalnya tak berkecimpung di dunia pendidikan. Mengambil S3 mereka lakukan untuk menambah ilmu.

Namun di tengah jalan, tawaran menjadi dosen pun datang pada keduanya. Sang suami yang juga sama sama dosen itu lebih dahulu menempuh jenjang S3 dan dua tahun kemudian Septiana menyusul mendaftar. Ia mendaftar saat hamil anak ketiga. “Dari kecil saya ingin sekali menjadi pengajar. Impian itu yang memotivasi untuk terus belajar dan sekolah hingga seperti sekarang, ” katanya. 

Pintar bagi waktu 

Di tengah ia menempuh studi,  putra ketiganya lahir hingga ia memutuskan rehat sesaat dari perkuliahan karena kerepotan yang dihadapinya. Namun ia tak ingin terbuai terlalu lama rehat dari perkuliahan dan bimbingan untuk disertasinya. Septiana pun kembali berjuang merampungkan pendidikannya. Ia harus pintar pintar membagi waktu sebagai istri dan ibu,  dosen di PTS serta sebagai mahasiswa program doktor. Punya dua balita dan seorang anak berusia 7 tahun juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Tak jarang ia harus tega manakala si kecil rewel ingin ditemani sementara ia harus menyelesaikan disertasinya. 

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here