Jumlah Pedagag Gukguk Membengkak Jadi 39, 16 Pedagang Menolak Alih Profesi

0
34
pedagang-sateg-gukguk2

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.comPedagang satai anjing (gukguk) di Karanganyar langsung membengkak, begitu akan mendapatkan bantuan dari Baznas Pemkab Karanganyar Rp 5 juta. Saat dipanggil bertemu Bupati Juliyatmono lalu tercatat hanya 38 orang, namun setelah itu bertambah 11 menjadi 49 orang.

‘’Memang susah, sebab mereka jualan satai anjing tanpa nama tanpa papan. Jadi akhirnya saat didata petugas Baznas dan Dinas Peternakan, saling tunjuk antartemannya. Jadilah total pedagang ada 49 orang,’’ kata Siti Sofiyah Kabid Peternakan, Disnakan Karanganyar, Kamis.

Saat pemberian santunan alih profesi sebesar Rp 5 juta kepada mereka, pedagang berdatangan ke aula Disnakan Karanganyar untuk diverifikasi kartu keluarga dan identitas mereka. Saat jam 12.00 diundang belum semuanya datang sampai jam 13.00. Namun akhirnya mereka datang semua.

16 pedagang satai anjing langsung menyatakan menolak. Kebanyakan mereka beridentitas di luar Karanganyar seperti Solo, Sukoharjo, Sragen, dan lainnya. 14 langsung menyatakan menolak saat bertemu Bupati saat itu, dan 2 orang menolak kemudian dan langsung mengembalikan omongan bahwa mereka setuju.

‘’Mereka kebanyakan merupakan pedagang besar dengan omset 3-4 anjing setiap hari, sehingga santunan Rp 5 juta itu bagi mereka hanya sehari diperoleh dari omset jual anjing itu. Sehingga mereka merasa  rugi jika menutup usahanya,’’ kata Sofiyah.

Dia memberi contoh pegadang satai anjing di Lalung, Karanganyar, maka dia cukup memindahkan Warung ke seberang jalan dan sudah masuk Polokarto, Sukoharjo. Dia tidak terkena aturan harus tutup karena yang punya aturan hanya Karanganyar.

Terhadap yang menolak itu, Siti Sofiah mengatakan, seperti aturan yang dituturkan Bupati, maka mereka akan berhadapan dengan Satpol PP yang siap menertibkan pedagang satai anjing yang nekad berjualan di Karanganyar. Tapi tentumenunggu sampai terbit aturan hitam di atas putih baik Perbup atau Perda.

‘’Biar saja mereka menolak. Itu hak mereka, namun hak kita juga untuk melindungi hewan itu agar tidak menjadi sarana penyebar penyakit rabies dan zoonosis. Kalau melihat makin maraknya anjing diperjualbelikan, maka tinggal tunggu waktu saja akan terjadi ledakan penderita rabies.

Sementara itu Suparno, salah seorang mantan pegadang satai anjing asal Buntar, Mojogedang mengatakan, setiap hari omset usahanya sudah sekitar satu jutaan paling sedikit. Harga anjing setidaknya Rp 600.000 yang dipasok pedagang besar.

‘’Dengan santunan ini sebetulnya rugi, namun akan saya coba beralih profesi menjadi pedagang hewan unggas. Dia belum bersiap, karena masih menunggu santunan yang akan kami terima. Nanti akan kami belikan gerobak untuk jualan unggas,’’ kata dia.

Sementara Iskandar wakil ketua Baznas mengatakan, santunan sebesar Rp 5 juta itu akan diambilkan dari dana zakat bagi pedagang yang masuk kategori  fakir miskin, dana non syariah yang berasal dari bunga bank bagi pedagang nonmuslim, dan dana infaq bagi pedagang yang kaya atau tidak masuk kategori penerima zakat.

‘’Dana itu semua ada di Baznas dan sudah disisihkan sehingga tidak menyalahi pemberian dana zakat untuk 8 asnab yang harus menerima zakat. Sehingga pengentasan pedagang satai anjing ini tidak menyalahi zakat,’’ kata dia.(joko dh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here