Terdampak Jalan Tol, Pemkab Sragen Rencana Pengembangan kawasan

0
149
pos-tol-ngasem
BEBAS HAMBATAN : Kendaraan melintas di ruas jalan tol Solo-Kertosono, yang exit toll-nya ada di kawasan Ngasem dan Klodran, Colomadu. Untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas di exit toll Ngasem, Polres Karanganyar berencana menempatkan Pos Terpadu Pengamanan Lebaran 2019 di kawasan tersebut. (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Keberadaan pintu tol Solo-Kertosono (Soker) Sragen Timur, diharapkan mampu menghidupkan wilayah Sragen bagian Timur. Sebagai antisipasi, Pemkab Sragen sudah membuat berbagai rencana pengembangan kawasan, termasuk di Sragen Timur.

Antara lain seperti zona industri di wilayah itu, yang mencakup Kecamatan Sambungmacan dan Kecamatan Gondang. Juga membuat dry port atau pelabuhan kering, yang juga memanfaatkan jalur ganda rel kereta api dan mengintegrasikan dengan jalan darat, termasuk tol.

Hal ini diungkapkan Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyatno tatkala ditemui belum lama ini. Dedy mengatakan, setelah beroperasinya ruas tol Soker di Kabupaten Sragen, memang membawa berbagai pengaruh. Seperti perjalanan yang lebih cepat namun hal ini juga membuat pengguna kendaraan banyak yang tidak lagi masuk di jalan-jalan di Sragen.

“Adanya jalan tol memang membawa dampak atau pengaruh, tidak hanya dirasakan Sragen saja, tetapi juga daerah-daerah lain di Jawa Tengah,” kata Dedy.

Dampaknya pun hingga pada perekonomian masyarakat di daerah-daerah yang dilalui. Misalnya seperti yang ada di daerah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga dan Kota Semarang serta Kabupaten Brebes.

“Dulu kalau mau ke Semarang lewat jalan biasa bisa mampir makan di Boyolali, Salatiga atau Ungaran, tetapi sekarang banyak yang pilih lewat jalan tol karena lebih cepat sampai,” tuturnya. Karena itu daerah-daerah harus terus mengembangkan diri dan berinovasi.

Di wilayah Sragen bagian Timur sendiri ada zona industri, sehingga keberadaan gerbang tol SS Sragen Timur, diharapkan bisa mendukung zona industri tersebut. Untuk mengurangi dampak tol, Pemerintah Pusat juga akan membangun ruas jalan Solo-Surabaya yang selama ini menjadi jalur utama Jakarta-Surabaya menjadi dua jalur empat lajur.

“Tahun depan ruas Solo-Surabaya akan dibangun empat lajur sampai ke Pungkruk, sehingga semuanya akan menjadi empat lajur. Dari arah Timur sendiri sudah dibangun empat lajur,” tandasnya. Harapannya, dengan jalan nasional jalur utama sudah lebar dan empat lajur, membuat orang tertarik untuk melintas atau lewat. Dan hal ini membawa manfaat untuk perekonomian Sragen.

Selain itu, dengan bakal beroperasinya Waduk Gondang, maka daerah di Sragen Timur juga bakal semakin mantap dalam panen setahun tiga kali, karena pasokan airnya yang selalu terjamin setiap saat. Meski pun berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, tetapi air dari Waduk Gondang lebih banyak mengairi areal pertanian yang ada di wilayah Kabupaten Sragen. Selama ini hasil pertanian Sragen sangat terkenal hingga berbagai daerah.

Terpisah Ketua Panitia Pengadaan Lahan Kabupaten Sragen Agus Purnomo mengatakan, saat ini proses pembebasan lahan tambahan tahap ketiga terus dilakukan. Pada tahap ini setidaknya terdapat 18,8 hektare yang harus dibebaskan. Pembebasan lahan itu mencakup wilayah 16 desa di enam kecamatan. Yakni Kecamatan Masaran, Sidoharjo, Sragen, Ngrampal, Gondang dan Sambungmacan.

Lahan yang dibebaskan itu, terbesar untuk pembangunan SS Sragen Timur yang masuk wilayah Kecamatan Sambungmacan. Juga untuk pengembangan rest area atau kawasan istirahat KM 538 yang ada di Desa Kebonromo, Ngrampal.

“Pembebasan lahan itu diharapkan selesai tahun ini juga, semakin cepat semakin baik,” kata Agus yang juga Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sragen tersebut. (Basuni H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here