Komunitas Arjasura di Panggung Nemlikuran

0
143
Komunitas-Arjasura-Panggung-Nemlikuran1

*Usung Gamelan Dari Banyuwangi

SOLO,suaramerdekasolo.com – Tidak berlebihan kalau disebut arek-arek Jawa Timur begitu semangat saat tampil di langen beksan Nemlikuran, Rabu malam lalu. Semangat yang dikobarkan di panggung kesenian tradisional yang digagas paguyuban alumni Sekolah Menengah Karawitan Indonesia(SMKI) yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri(SMKN) 8 Solo itu, memang patut diapresiasi.

Komunitas yang menamakan dirinya Arek Jawa Timur Surakarta (Arjasura) sudah untuk kali ketiga mengisi sajian kesenian bagi tari dan musik di langen beksan Nemlikuran. Dan agaknya kali ini mereka antusias sekali ketika diberi ajang untuk mengekspresikan karya seni di beberapa daerah di Jawa Timur,

Para penari dan pemusik sebagian besar mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu mengusung delapan sajian berupa dua garapan gendhing dan enam tarian khas sejumlah daerah Jawa Timur. Penampilan mereka dihadiri sejumlah tokoh budaya dari Jawa Timur slah satunya Prof Marsam, alumni SMKI dan ASKI Solo yang kini mengajar di luar negeri.
Menurut Ketua Arjasura, Sindung Bima Nugraha yang juga mahasiswa jurusan Pedalangan ISI, komunitas yang berdiri pada 1989 itu memang sempat mengalami pasang surut kegiatan. Namun pada dasawarsa terakhir, jumlah anggotanya terus bertambah hingga sekarang sekitar 120 anggota.
”Anggotanya tidak hanya dari daerah-daerah di Jawa Timur, namun juga dari kota lain. Seperti Sukoharjo, Jakarta dan Bandung. Mereka bergabung ke Arjsura untuk belajar kesenian Jawa Timur,” ujarnya.
Dalam komunitas itu mereka sering mengadakan pertemuan dan latihan berbagai bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur. ”Ya kami sering urunan bersama ketika harus tampil di panggung. Seperti di Nemlikuran ini kami juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh yang peduli kesenian dari Jawa Timur,” tambahnya.
Penampilan Arjasura diawali dengankonser karawitan berupa Giro Eling-eling pelog barang disusul dengan Manguyu-uyu gendhing Gunungsari dilanjutkan Sinom SIlir dhawah Grebeg alap-alapan slendro pathet sanga.
Usai sajian gendhing yang cukup enerjik dan menghangatkan suasana disajikan tarian berupa Tari Beskalan yang merupakan tari selamat datang dari Malang. Nama tarian it berasal dari kata ”beskal” yang berarti tunas kelapa ditarikan tiga penari perempuan.
Satu garapan gendhing Patria disajikan sebagai bentuk kekguman akan Kota Blitar, sebuah kota kecil yang sarat cerita mulai alam yang indah, makam Sang Proklamator Bung Karno, Candi Penataran dengan memdukan citarasa ”wetanan” yang dipadu gaya ‘mataraman yang begitu melekat dengan budaya ”blitaran”.
Usai gendhing Patria disusul satu bentuk tari yang biasa ditampilkan mengawali pentas ludruk, sebuah teater tradisional yang dikenal dari Jawa Timur berupa Tari Remo. Kali ini disajikan Remo gaya puteri, namun yang menarikan empat penari laki-laki.

Komunitas-Arjasura-Panggung-nemlikuran2
Tari Gambuh Keris yang disajikan dua penari laki-laki menggambarkan latihan perang prajurit Keraton Sumenep dengan memakai keris. Dari Malang hadir Tari Topeng Bapang yang disuguhkan secara tunggal mengisahkan tokoh Bapang Jaya Sentika dengan perangai ugal-ugalan, brangasan tapi gecul. Tarian itu cukup populer di Malang dengan beberapa gaya, antara lain gaya Kedungmonggo, Glagahdowo dan gaya Senggreng.
Adalah Tari Selap karya Yoga Achmad Subagyo alumni ISI yang ditarikan satu penari laki-laki dan enam perempuan mengungkap perasaan dan jiwa yang galau.
Suasana hangat makin meningkat ketika ditampilkan dua bentuk tarian yang berasal dari Banyuwangi. Tari Cundhuk Menur ditarikan tujuh penari perempuan yang menggambarkan keceriaan gadis yang mulai menginjak remaja berdandan dan bersolek. Goyangan pinggul gaya banyuwangen yang khas ikut menyulut semangat penonton untuk memberikan aplus. Demikian juga Tari Paju Gandrung yang merupakan tari pergaulan khas Banyuwangi. Menariknya, untuk menghadirkan dua tarian itu Arjasura mendatangkan langsung perangkat gamelan dari Banyuwangi.(Sri Wahjoedi)

Halaman: 1 | 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here