Proses Regenerasi yang Terputus di Keraton Surakarta

Regenerasi-Keraton-Surakarta1
PUTRI tertua Gusti Moeng yang bernama BRA Lung Ayu (20), adalah penari putri andalan Sanggar Pawiyatan Beksa, lulusan Fakultas Hukum UNS yang kini mengurus bagian keuangan Istana Mataram Surakarta. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Akibat Ontran-ontran dan Rekonsiliasi tak Jelas Arahnya

BERLANGSUNGNYA prahara ontran-ontran yang mulai pecah sejak proses suksesi alih kepemimpinan di Keraton Surakarta terjadi di tahun 2004, ternyata sangat mengganggu proses aktivitas yang menyangkut tugas, kewajiban dan tanggungjawab Keraton Surakarta, baik secara internal maupun eksternal. Proses urgen yang sangat mendasar dalam upaya meneggakkan eksistensi dan pelestarian produk budaya (Jawa) yang bersumber dari keraton yang terganggung itu, adalah tahapan estafet regenerasi atau transfer knowledge dan tatanilai serta segala pengalaman, dari generasi kedua setelah Sinuhun Paku Buwono (PB) XII (putradalem-Red) kepada para wayahdalem atau cucu-cucunya.

Tahapan estafet proses regenerasi yang berupa penyiapan SDM secara alamiah di internal habitat Keraton Surakarta itu, kini benar-benar mengkhawatirkan akibat prahara yang tersulut dan pecah di tahun 2004 itu, hingga kini tak ada tanda-tanda akan berakhir.

Walau rekonsiliasi mulai diinisiasi pemerintah (sejak Presiden SBY-Red), hingga Presiden Jokowi membentuk tim sampai berganti figur (terakhir Menko Polhukam Wiranto-Red), tanpa arah yang jelas yang membuat situasinya malah makin carut-marut dan benar-benar mengacaukan kerja proses regenerasi di internal lembaga masyarakat adat penerus Dinasti Mataram itu.

Regenerasi-Keraton-Surakarta2
BRM Suryo Triyono (28) adalah putra bungsu KGPH Puger, selain sebagai staf Kantor Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, adalah penari putra handal Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta yang sedang berlatih bersama bocah kelas 3 SD bernama RM Bagus Mahendra Suryo Wibowo, anak kakak sulungnya. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Memang, ketika KGPH Hangabehi yang di tahun 2004 didukung sebagian besar komponen kerabat jumeneng nata sebagai Sinuhun PB XIII, kalangan anak-anak mereka atau wayahdalem (PB XII) rata-rata masih remaja atau dipersepsikan belum matang untuk duduk dalam urusan otoritas di berbagai kantor Pengageng di bebadan (kabinet) yang ada. Tetapi, sejumlah putra-putridalem PB XII yang dimotori GKR Wandansari Koes Moertijah memulai proses regenerasi itu karena memikirkan nasib dan kelangsungan keraton ke depan.

Pengageng Sasana Wilapa yang akrab disapa Gusti Moeng itu, mulai memasukkan figur-figur wayahdalem yang dianggap sudah dewasa ke dalam sejumlah kantor Pengageng, sekalipun bersifat seperti magang untuk jabatan dan tugas di bidang-bidang yang sangat berkait erat dengan aktivitas adat di internal keraton. Dari sekitar 60-an anak-anak para putra-putridalem pendukung Sinuhun PB XIII, memang baru 10-an orang yang masuk ke dalam kabinet yang rata-rata menduduki jabatan Wakil Pengageng.

Regenerasi-Keraton-Surakarta3
PUTRI sulung Sinuhun Paku Buwono XIII yang bernama GKR Timoer (45), selain sebagai Wakil Pengageng Keputren pada bebadan (kabinet) 2004, juga penari handal yang dimiliki Keraton Surakarta. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebut saja putri tertua Sinuhun PB XIII yang nama GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani (45) yang duduk sebagai Wakil Pengageng Keputren, untuk membantu bibinya yang duduk sebagai Pengageng, yaitu GKR Galuh Kencana. Kemudian putra tertua Sinuhun PB XIII atau calon putra mahkota yang bernama KGPH Mangkubumi (34) itu, dipasang Gusti Moeng sebagai Pengageng Kartipura yang diwakili adiknya yaitu KRMH Kusumo Adilaga, anak sang bibi, yaitu GKR Galuh Kencana.

Kemudian nama KRMH Suryo Kusumo Wibowo (40), anak sulung KGPH Puger (Pengageng Kusuma Wandawa), diberi tugas sebagai Wakil Pengageng Sasana Prabu untuk membantu budenya, GRAy Koes Sapardiyah (Pengageng). Dua anak KGPH Puger lainnya, di antaranya BRM Suryo Triyono, ditugasi menjadi staf Kantor Pengageng Museum dan Pariwisata, sedang putri tertua Gusti Moeng yang bernama BRA Lung Ayu, ditugasi menjadi staf di Kantor Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS).

”Sebenarnya sudah ada sejumlah wayahdalem yang magang sebagai wakil pengageng di beberapa bidang/deparetemen. Ketika itu (2004), saya diberitahu bahwa tugas yang kami emban adalah sangat penting. Karena, untuk mempersiapkan SDM penerus pelestari Keraton Surakarta. Itu yang saya ingat. Tetapi sejak 2017 itu, semua yang sudah disepakati bersama bubar, kacau. Bahkan tante (bibi) Moeng (Gusti Moeng-Red) dan seluruh bebadan diusir ke luar keraton. Saya sedih. Proses regenerasi itu terpenggal. Atau proses belajar kami menjadi sangat terganggu,” ujar Pengageng Kartipura KGPH Mangkubumi yang juga calon putra mahkota kesal, saat menjawab pertanyaan Suaramerdekasolo.com, kemarin.

Menyimak kekesalan KGPH Mangkubumi, kata kunci yang muncul adalah proses edukasi dan pembelajaran. Itulah yang sangat disesali bersama para kerabat besar penerus Dinasti Mataram di internal Keraton Mataram ing Surakarta itu. Artinya, tahapan proses regenerasi yang sudah di mulai Gusti Moeng dan para pendukung di awal era Sinuhun PB XIII, terpenggal begitu saja oleh ambisi sekelompok orang yang hanya mendahulukan kepentingan sesaat pribadi-pribadi atau kelompoknya, tanpa memikirkan nasib dan masa depan Keraton Surakarta.

Ungkapan-ungkapan seperti itulah yang selalu dicurahkan Gusti Moeng di berbagai kesempatan bertemu dengan para kerabat pendukungnya, misalnya saat mengumpulkan 400-an abdidalem garap di Sitinggil Lor, kemarin. Prahara ontran-ontran beruntun dengan menutup satuan-satuan kerja penting di keraton seperti perpustakaan atau Sasana Pustaka, tidak hanya Keraton Surakarta sendiri yang rugi, tetapi juga merugikan masyarakat bangsa dan negara berkait dengan fungsinya sebagai agen transfer knowledge tentang sejarah dan budaya serta tata nilai.

Regenerasi-Keraton-Surakarta4
PUTRA tertua KGPH Puger yang bernama KRMH Suryo Kusumo Wibowo (40), selain sebagai Wakil Pengageng Sasana Prabu pada bebadan (kabinet) 2004, adalah PNS di BP3 Jateng yang ditugaskan di Keraton Surakarta.(Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Tahapan proses regenerasi yang menjadi terpenggal, putus. Tetapi, kami akan tetap berupaya. Meskipun di luar (keraton), bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa. Tugas-tugas kelembagaan bebadan masih bisa dilakukan, walau dalam batas-batas minim.

Khususnya kegiatan seni budaya, misalnya latihan karawitan dan tari, masih bisa dilakukan di Sitinggil Lor, Pagelaran atau Pendapa Sasanamulya. Kita memang perlu sabar dan tekun menjalankan tugas kita masing-masing,” ujar Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta itu saat dimintai konfirmasi Suaramerdekasolo.com di Sitinggil Lor.
Meski transfer knowledge tentang sejarah dan budaya (Jawa), penguasaan nilai-nilai dan pengalaman masih terbatas, tetapi bagi kalangan wayahdalem yang lahir dari putra-putridalem Sinuhun PB XII yang ada di belakang Gusti Moeng masih lebih beruntung. Karena, banyak sekali wayahdalem dari putra-putridalem Sinuhun PN XII yang mengikuti orangtua mereka hidup jauh di luar kota dan jauh dari keraton. Seandainya berada di sekitar Kota Solopun, tak bergabung di Sanggar Pawiyatan Beksa, Sanggar Pawiyatan Pedalangan dan Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta atau tak bersentuhan sama sekali dengan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya aktif melakukan transfer knowledge tentang sejarah dan budaya, penguasaan nilai-nilai dan pengalaman yang ada.
Regenerasi-Keraton-Surakarta5

PUTRA tertua Sinuhun Paku Buwono XIII yang bernama KGPH Mangkubumi (34), selain sebagai Pengageng Kartipura pada bebadan (kabinet) 2004, adalah calon putra mahkota, penari putra andalan dan sudah sering ditampilkan di berbagai upacara adat, misalnya kirab pusaka 1 Sura. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena ketidaksadaran dan akibat situasi dan kondisi pasca prahara ontran-ontran, akhirnya hanya menghasilkan sedikit SDM yang mengenal sistem dan cara kerja di keraton, referensi apapun tentang keraton, tatacarapun yang berkait dengan upacara adat di keraton dan sebagainya tentang keraton. Itulah akibatnya, hanya sedikit figur yang bisa mengenal itu semua lewat kabinet ang terbentuk di tahun 2004, dan termasuk selalu siap ketika Keraton Surakarta aktif mengikuti event-event Festival Keraton Nusantara (FKN) yang digelar sejak tahun 1990-an hingga kini.

”Tetapi, mudah-mudahan ke depan akan lebih baik. Karena, sekarang hubungan kami para wayahdalem mulai mencair. Yang sudah aktif berkomunikasi ada 60-an orang, bersepakat tidak ingin masuk ke wilayah konflik di antara orangtua mereka. Kami sadar, kamilah yang akan menerima estafet meneruskan tugas-tugas pelestarian Keraton Surakarta. Kami ingin agar (ontran-ontran) ini segera berakhir. Agar kami siap menerima estafet itu,” harap KRMH Suryo Kusumo Wibowo di tempat terpisah. (Won Poerwono)

Regenerasi-Keraton-Surakarta6
PUTRA tertua GKR Galuh Kencana yang bernama KRMH Kusumo Adilogo (43), selain sebagai Wakil Pengageng Kartipura pada bebadan (kabinet) 2004, penari putra andalan Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta, juga menjadi komandan prajurit saat mengikuti event-event festival keraton (FKN). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here