KPH Edy : ”Yang Jadi Sinuhun, Biar Tetap Jadi Sinuhun….,”

gaji-abdidalem-keraton1
SUASANA saat berlangsungnya pertemuan silaturahmi para pengageng bebadan yang dipimpin Gusti Moeng dengan 400-an abdidalem garap di Sitinggil Lor, Jumat siang (28/6). (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

‘Dados, wiwit minggu kaping kalih wulan ngajeng, panjenengan sadaya lan kula pinaggih wonten mriki nggih? Setuju nggih? Sepakat nggih?,”

*Yang Kurang Baik Perlu Didoakan Agar Menjadi Baik

PENDAPA Sitinggil Lor Keraton Kasunan Surakarta yang biasanya hanya ramai dikunjungi orang tiap ada jamasan meriam Nyai Setomi setahun sekali sekitar bulan Mulud, atau tiap Kamis malam Jumat bagi yang wungon atau bermeditasi, dalam beberapa bulan terakhir berubah menjadi ramai di siang hari karena berkumpul para abdidalem garap.

Ternyata, tiap sebulan sekali Pengageng Sasana Wilapa mengundang para pegawai keraton yang jumlahnya lebih dari 500 orang itu, karena selain untuk ajang bersilaturahmi dengan semua unsur bebadan dan jajarannya, juga untuk membagikan gaji untuk mereka.

‘Dados, wiwit minggu kaping kalih wulan ngajeng, panjenengan sadaya lan kula pinaggih wonten mriki nggih? Setuju nggih? Sepakat nggih?,” tanya Gusti Moeng yang dijawab teriak aklamasi ”setuju…, sepakat…., sendika…” sekitar 400 abdidalem garap yang hadir Jumat siang (28/9) itu.

Dalam pertemuan silaturahmi yang dihadiri sejumlah Pengageng dan Wakil Pengageng siang sehabis jumatan itu, diisi sambutan bergiliran antara GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng sebagai Pengageng Sasana Wilapa dan KPH Edy Wirabhumi sebagai Pangarsa Punjer Pakasa.

Selain kedua tokoh yang suami-istri itu, tampak hadir GKR Galuh Kencana (Pengageng Keputren) dan wakil (GKR Timoer),GKR Retno Dumilah (Pengageng Pasiten), GPH Nur Cahyaningrat (Pengageng Yogiswara), KGPH Mangkubumi (Pengageng Kartipura), GKR Ayu Koes Indriyah (Humas), KPH Broto Adiningrat (Wakil Pengageng Kusuma Wandawa), KPH Kusumo Sangkoyo (Pengageng Kartipraja) dan beberapa lainnya.

gaji-abdidalem-keraton2
PEMBAGIAN gaji para abdidalem garap yang dilakukan Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta di salah satu ruang di Kantor Badan Pengelola Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain dua hal di atas, acara siang itu juga digunakan Gusti Moeng untuk mengambil kesepakatan menentukan waktu pertemuan silaturahmi mulai bulan depan, yaitu pada minggu kedua di Pendapa Sitinggil Lor, mulai pukul 10.00. Acara kemarin juga digunakan untuk mengingatkan kepada semua abdidalem garap untuk membubuhkan tandatangan pada daftar absen, karena akan digunakan sebagai dasar untuk proses transfer gaji masing-masing abdidalem.

‘Kula suwun, sadaya kersa tapak asma. Daftar nami panjenengan sadaya ingkang sampun dipun tapakasmani, kangge dasar nglebetaken arta gaji panjenengan. Wiwit wulan ngajeng ngantos sakpiturutipun, ngaten tatacaranipun nggih…? Menika kangge nggampilaken ingkang bade ngaturaken menapa ingkang dados hak penjenengan. Mangkenipun panjenengan nggih dados gampil menawi bade mendet,” pinta Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) itu dalam bahasa Jawa krama inggil yang selalu dijawab dengan koor ”ingggih, sendika…”.

Sambil menjelaskan bagaimana tatacara yang paling baik untuk penyaluran gaji para abdidalem garap itu, Gusti Moeng juga menyinggung persoalan yang mengakibatkan tatacara pembagian gaji itu harus berubah yang dulunya selalu dibagikan tunai di teras Untarasana, tetapi karena semua bebadan diusir keluar keraton, harus mencari tatacara pengganti dan baru saat itu disepakati melalui transfer ke nomer rekening atas nama masing-masing abdidalem di bank.

Meski sudah berjalan dua tahun lebih sejak Gusti Moeng dan para pengikutnya diusir ke luar keraton April 2017 lalu, tak semua abdidalem garap memahami persoalan yang sebenarnya terjadi. Apalagi bagi yang sehari-hari bertugas di luar keraton seperti abdidalem juru kunci Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), Kutha Gede, Astana Pajimatan Tegalarum, Kabupaten Tegal/Slawi dan sebagainya. Maklum, lebih 50 persen di antara mereka berusia di atas 50 tahun dan lebih 50 persen dari 518 abdidalem garap rata-rata mempunyai pekerjaan lain.

Pramila kula inggih nglenggana, ngrumaosi menawi keraton dereng saget maringi gaji ingkang murwat. Menapa malih kawotenanipun malah kados mekaten. Kanthi budi-daya lan donga panjenengan lan kula, mugi-mugi ruwet-rentengipun keraton enggal sirna lan wangsul dados padang malih. Upami kula lan panjenengan mboten ngalami, mugi-mugi anak-turun panjenengan saget manggih kawontenan keraton ingkang sampun kiat, kuncara lam sembada, saget maringi gaji ingkang saget nyekapi kabetahan gesang sakulawarga,” harap Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu yang sambut dengan kata”amin…, amin…..,” para abdi dalem.

gaji-abdidalem-keraton3
PEMBAGIAN gaji para abdidalem garap yang diberikan secara tunai di teras Untarasana depan Kantor Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta sebelum peristiwa pengusiran, medio April 2017. (Suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sementara itu, untuk melengkapi acara silaturahmi yang diagendakan berlangsung tiap minggu kedua sekali dalam sebulan itu, akan diisi dengan tausyiah yang mengundang seorang ustadz yang sudah dicoba mengisi acara halalbihalal di tempat yang sama, beberapa waktu lalu. KPH Edy Wirabhumi menyebutkan, ustadz yang mampu memberi pencerahan dengan mengambil karya-karya sastra Jawa dan menguasai pengetahuan seni pedalangan itu, akan diundang sebagai pengisi acara tausyiah tetap untuk mengupas ajaran Islam yang berada di dalam karya-karya sastra pujangga RNg Ranggawarsita dan pujangga-pujangga keraton lainnya.

Kula lan para pangarsa bebadan bade tansah mbudidaya supados keraton wangsul kados wingin-uni. Kula nyuwun panjenengan sadaya nyengkuyung kanthi ndedonga. Biasanya kalau berdoa isinya kan permohonan yang baik-baik nggih? La, yang tidak baik ya kita doakan agar menjadi baik. Sinuhun (PB XIII-Red) dan para pembantunya ya kita doakan agar berubah menjadi baik. Keraton kita doakan agar kembali menjadi baik. Yang jadi Sinuhun kita doakan tetap menjadi Sinuhun. Karena memang sudah jatahnya menjadi Sinuhun,” pinta Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta dalam bahasa campuran itu. (Won Poerwono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here