Menikmati Keindahan Sunrise dari Puncak Gunung Pegat

MENIKMATI SUNRISE : Salash atu keluarga pengunjung menikmati suasana matahari terbit "sunrise' dari atas Gunung Pegat di Desa Karangasem, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (30/6) pagi. (Suaramerdekasolo.com/Heru Susilo)

GUNUNG PEGAT– akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat. Khususnya di wilayah Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Konon kabarnya gunung yang berada di wilayah Desa Karangasem tersebut menawarkan eksotisme alam yang memanjakan.
Karena penasaran dengan riuhnya pembicaraan tentang obyek wisata baru tersebut, Suaramerdekasolo.com mencoba mencari tahu seberapa eloknya pemandangan yang ditawarkan. Akhirnya, Sabtu (29/6) malam, Suaramerdekasolo.com “mendaki” gunung yang terletak di sisi selatan Kabupaten Sukoharjo tersebut.
Untuk menuju ke obyek wisata yang benar-benar masih perawan ini, tidaklah sulit dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor roda dua. Hanya saja, pengunjung mesti hati-hati sebab, jalur menuju puncak gunung ini belum beraspal. Jalan masih berupa tanah padas yang penuh kerikil kecil dan licin. Ditambah dengan belum sempurnanya penerangan ke jalur puncak.
Sekitar pukul 21.00 WIB, suaramerdekasolo.com bergerak dari Kota Sukoharjo. Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, sudah tiba di lokasi. Namun sebelum naik, Suaramerdekasolo.com menghubungi Kepala Desa Karangasem, Bambang Minarno. Dengan tangan terbuka, Kades ini menawarkan pendampingan hingga ke puncak.
Setiba di puncak, suasana khas pegunungan menyambut. Udara dingin disertai dengan hembusan angin yang menusuk tulang. Nampak sebuah tempat yang agak luas diperuntukkan parkir. Terlihat juga sebuah warung milik Trisno “Peyok”. Warga ini pula yang dipercaya sebagai penjaga Gunung Pegat. Setelah sampai, seperti biasa kami memesan kopi hitam dengan gorengan hangat yang tidak lama kemudian disajikan pemilik warung.
Sembari menikmati kopi hitam, kami mengamati sekitar lokasi. Di timur nampak kerlap-kerlip lampu dari arah Tawangmangu, Karanganyar terlihat sangat indah. Sedang di sisi selatan, lampu-lampu di Kabupaten Wonogiri juga tidak kalah istimewa.
Saat tiba di lokasi ini, ternyata sudah banyak warga utamanya anak-anak muda yang datang sembari membawa peralatan tenda dan pengapian lengkap dengan alat musik gitar serta ketipung. sayup-sayup suara nyanyian anak-anak muda tersebut terdengar memecah kesunyian malam di sisi selatan kami ngopi.
Setelah ngopi dan menikmati gorengan, Kades Karangasem mengajak suaramerdekasolo.com berjalan-jalan menikmati suasana. Kami berjalan ke arah selatan, tepatnya di bukit yang biasa disebut Dasamuka. Letak bukit ini agak tinggi dibanding dengan lahan parkir. Dari tempat ini kami bisa menyapu ke seluruh sudut yang ada di sekitar gunung.
Langit yang cerah dipadu dengan miliaran bintang makin menambah eksotisme suasana malam. Bahkan dengan peralatan yang sudah dibawa, suaramerdekasolo.com juga bisa mengabadikan kekayaan langit berupa “Galaksi Bima Sakti. Di kalangan fotograper, galaksi ini biasa disebut Mikyway. Dimana ada jutaan bahkan miliaran bintang yang bersinar sangat terang dan membentuk garis yang sangat mempesona.

Hamparan Ilalang

Karena sudah malam bahkan sudah menginjak dinihari, kamipun tidak pulang dan memutuskan menginap dan mendirikan tenda yang bisa disewa dari Peyok. Namun udara dingin yang menusuk tulang membuat kami sulit tidur dan akhirnya begadang hingga pagi.
Sekitar pukul 04.30 WIB, dari kejauhan terdengar suara adzan yang menandakan masuk waktu salat subuh. Tidak lama setelah itu, dari arah timur warna langit terlihat sudah berbeda dengan warna khas pagi.
Perlahan namun pasti warna langit itu kian terang dan terlihat dengan jelas Gunung Lawu berdiri dengan gagah seolah mengawal perjalanan pagi. Seiring dengan semburat pagi di langit timur itu, dari bawah terdengar suara motor yang ternyata adalah warga sekitar yang menyempatkan diri naik ke puncak untuk menyaksikan matahari terbit. Mereka tidak hanya sendiri, sebab mereka datang bersama anak istri bahkan cucu.
Suaramerdekasolo.com pun segera menyiapkan kamera dan mencari tempat yang pas untuk membidik Sang Mentari. Benar saja, setelah ditunggu sejenak, matahari dengan sinarnya yang lembut muncul persis di pucuk Gunung Lawu. Warga yang datangpun berguman kagum bahkan ada yang berteriak karena kemunculan matahari.
Dengan kamera saku yang mereka bawa dan sudah siapkan, mereka membidik momen tersebut dengan penuh keceriaan. Tidak jarang mereka juga mengabadikan momen tersebut dengan swafoto sembari menikmati udara segar yang tersaji.
Mentari yang menyapu kabut tipis makin membelalakkan dan memanjakan mata pengunjung. Sebab dari ketinggian terlihat jelas petak-petak sawah dengan padi tertata sangat indah.
Keindahan Gunung Pegat tidak berhenti di situ. Sebab begitu mentari benar-benar menunjukkan sinarnya, nampak jelas perbukitan di sisi barat yang penuh dengan rumput ilalang nan menawan. Dipadu dengan pohon kering serta kicauan burung yang ada, makin menambah keindahan lokasi tersebut. Sekilas berada di lokasi tersebut serasa berada di padang savana.
Dan bisa ditebak, warga yang sudah puasa bercengkerama dengan matahari pagi segera beranjak menuju padang ilalang. Mereka berjalan di tengah-tengah ilalang sembari mengabadikan momen tersebut tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan. (Heru susilo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here